Kutai Kartanegara

Efek Gerakan 10 Juta Bendera, Omzet Pedagang di Tenggarong Tembus Rp 50 Juta

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 660 Kali
Efek Gerakan 10 Juta Bendera, Omzet Pedagang di Tenggarong Tembus Rp 50 Juta

Sumarna, 60 tahun, berpose di depan usaha benderanya di Tenggarong. FOTO: ALDI-KALTIMKECE.ID

Dua tahun belakangan, usaha penjual bendera ini meredup akibat pandemi. Tahun ini usahanya betul-betul bersinar.

Ditulis Oleh: Aldi Budiaris
Rabu, 10 Agustus 2022

kaltimkece.id Pedagang bendera merah-putih dan umbul-umbul di Jalan S Parman, Tenggarong, Kutai Kartanegara, itu bernama Sumarna. Usianya 60 tahun. Beberapa hari belakangan ini, ia dan keluarganya sangat sibuk. Berbagai pesanan bendera silih berganti ia terima. Maklum, peringatan Hari Kemerdekaan RI sebentar lagi tiba.

Kepada kaltimkece.id, Selasa, 9 Agustus 2022, Sumarna menceritakan tentang usahanya. Lelaki kelahiran Kabupaten Garut itu mengaku sudah 16 tahun berjualan bendera di Tenggarong. Menjalankan usaha ini, ia dibantu lima anggota keluarganya yakni dua saudara kandung, dua anak, dan seorang menantu. Mereka berjualan secara terpisah.

Sebagaimana usaha-usaha yang lain, berdagang bendera juga kerap terjadi ‘pasang-surut’. Sumarna mengatakan, masa surut terparah terjadi pada 2020 dan 2021 atau ketika Covid-19 sedang meledak-meledaknya. Pada 2020, keluarganya mengantongi sekitar Rp 14 juta dari jualan bendera. Setahun kemudian, pendapatannya lebih parah, hanya Rp 9 juta. Jangan kira jumlah tersebut adalah untung. “Tahun lalu, kami bisa disebut buntung dan tidak kembali modal,” kata bapak lima anak itu.

Masa surut itu tampaknya berakhir pada 2022. Beberapa hari belakangan ini, keluarga Sumarna mendapat banyak pesanan. Sumarna menghitung, setidaknya ada tujuh instansi pemerintah dan tiga partai politik yang membeli bendera merah putih milik keluarganya dalam jumlah besar dengan berbagai ukuran. Menurut informasi yang diterimanya, bendera-bendera itu akan dibagikan kepada warga Kukar.

“Selama delapan hari, sudah 850 lembar bendera yang terjual,” sebut Sumarna.

Bak ketiban durian runtuh, pesanan-pesanan tersebut mendatang rezeki yang berlimpah. Sejak berjualan pada awal Agustus 2022, dia menyebut, total omzet yang didapat keluarganya mencapai Rp 50 juta. Jumlah tersebut dipastikan yang terbesar yang pernah didapat keluarga Sumarna dari berjualan bendera.

Anak Sumarna, Ujang Imam, yang duduk di dekat ayahnya, mengatakan, besarnya pendapatan tahun ini berkat gerakan pembagian 10 juta bendera merah-putih yang digagas pemerintah. “Dengan program 10 juta bendera, dinas dan partai politik diwajibkan membeli bendera minimal 50 lembar untuk dibagikan kepada masyarakat,” katanya.

Ujang yang kini berusia 29 tahun membeberkan, mendapatkan bendera merah-putih dan umbul-umbul dari Garut. Tahun ini, keluarganya mendapat 2.000 lembar dengan berbagai ukuran. Harga jualnya pun berbeda-beda. Bendera ukuran 90x30 sentimeter dijual Rp 30 ribu, 120x80 sentimeter Rp 40 ribu, dan umbul-umbul ukuran 200x90 sentimeter Rp 35 ribu.

Infografik pedagang bendera di Tenggarong ini meraup omzet Rp 50 juta. 
DESAIN GRAFIS: MUHAMMAD IMTIAN NAUVAL-KALTIMKECE.ID
 
Meski meraih untung banyak, keluarga Sumarna menyadari, berjualan bendera tidak bisa dijadikan sebagai mata pencarian utama. Pasalnya, kata Sumarna dan putranya, bendera hanya akan laris bila dijual pada masa Hari Kemerdekaan RI atau sepanjang Agustus. “Dengan kata lain, jualan bendera itu musiman,” kata Sumarna melanjutkan.
 
Keluarga Sumarna pun sudah punya usaha yang lain yaitu bertani. Biasanya, selepas musim bendera usai, keluarganya kembali turun ke ladang. Akan tetapi, karena tahun ini banyak mendapatkan rezeki, mereka punya rencana lain. Akhir bulan ini, keluarga Sumarna akan pulang kampung ke Garut. (*)
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar