Kutai Kartanegara

Feri, Pencuci Mobil yang Tenggelam, Siswa SMK Tulang Punggung Keluarga, Salat Lima Waktu selalu Dijaga

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 49088 Kali
Feri, Pencuci Mobil yang Tenggelam, Siswa SMK Tulang Punggung Keluarga, Salat Lima Waktu selalu Dijaga

Feri Setiawan masih SMK dan suasana pemakamannya (foto: aldi budiaris/kaltimkece.id)

Remaja yang terjun bebas ke Sungai Mahakam dan terjebak di dalam mobil itu masih SMK. Sudah jadi tulang punggung keluarga.

Ditulis Oleh: Aldi Budiaris
21 Februari 2021

kaltimkece.id Permukaan Sungai Mahakam yang sedikit tenang segera beriak-riak ketika badan Mitsubishi Strada Triton muncul. Kendaraan itu baru saja diangkat dari dasar sungai dengan bantuan mobil crane milik Dinas Perhubungan Kutai Kartanegara. Sebelum ditarik, sejumlah penyelam telah mengikatnya dengan tali di kedalaman 9 meter. 

Sabtu, 20 Februari 2021, pukul 12.25 Wita, mobil bercat putih itu diletakkan tak jauh dari Pencucian Mobil dan Motor Vanilla, Jalan Awang Long, Kelurahan Sukarame, Tenggarong. Kendaraan ini terjun ke Sungai Mahakam sehari sebelumnya saat sedang dicuci. Seorang karyawan pencucian mobil bernama Feri Setiawan, 18 tahun, berada di kabin depan dan terjebak di dalamnya.

Tidak banyak kerusakan di mobil tersebut. Hanya bumper-nya yang terlepas dan kaca depan retak. Pintu depan sebelah kanan atau tepat di samping kemudi terbuka. Kaca jendela kiri belakang setengah terbuka.

Ajun Inspektur Polisi Satu Dian Heri Wahyudi, kepala Urusan Inafis, Kepolisian Resor Kukar, segera memeriksa kendaraan. Dari identifikasi, diketahui bahwa kontak listrik masih menyala sementara persneling dalam posisi netral. Rem tangan dalam posisi aktif sedangkan sistem penguncian pusat (central lock) tidak aktif. Pintu mobil tidak sedang terkunci.

kaltimkece.id merangkum sejumlah kemungkinan dari deretan informasi tersebut. Yang pertama, keterangan saksi bernama Sabran yang sempat menyelam sesaat setelah mobil tenggelam. Menurutnya, Feri sempat berteriak minta tolong karena terjepit di kabin depan. Padahal, pintu mobil terbuka. Feri sebenarnya bisa meloloskan diri jika tidak dalam keadaan terjepit.  

Kemungkinan berikutnya adalah Fery sempat menetralkan persneling saat mobil sudah terjun ke air. Ia juga telah menarik rem tangan di sebelah kiri kemudi. Kemungkinan ini muncul karena sebelum terjun ke sungai, mobil itu melaju tiba-tiba dan tak terkendali. Adalah mustahil mobil bergerak andaikata persneling netral dan rem tangan aktif.

“Sejauh yang kami temukan, tidak ada indikasi korban mendobrak kaca atau mencoba menyelamatkan diri. Akan tetapi, kami tetap berkoordinasi dengan pihak-pihak  terkait untuk memastikan tidak ada bagian mobil yang digeser dan dipindah saat evakuasi,” jelas Aiptu Dian Heri Wahyudi.

Berdasarkan keterangan sejumlah penyelam, pintu mobil yang terbuka berada di sebelah hilir. Ketika posisi mobil di dasar sungai ditemukan petugas, tiga jam setelah tenggelam, kabinnya kosong. Feri tidak ada di sana. Kemungkinan yang paling besar adalah Feri memang tidak sempat menyelamatkan diri. Tubuhnya terdorong arus deras sungai ke pintu yang terbuka tadi.

Penemuan dan Pemakaman Korban

Kepala Kepolisian Sektor Loa Kulu, Ajun Komisaris Polisi Gandha Syah Hidayat, segera mengangkat telepon genggamnya yang berdering. Di ujung sambungan, Suriansyah, 70 tahun, warga Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, sedang berbicara. Kepada Kapolsek, Suriansyah mengaku, menemukan jenazah yang mengambang di Sungai Mahakam.

Ahad, 21 Februari 2021, pukul 10.20 Wita, AKP Gandha segera meminta bawahannya menuju lokasi. Jenazah tersebut ditemukan tepat di dermaga sebuah perusahaan batu bara. Setelah itu, jenazah dibawa ke RSUD AM Parikesit, Tenggarong Seberang, untuk di-visum et repertum. Keluarga Feri yang menerima informasi tersebut segera ke rumah sakit. Di sana, keluarga memastikan bahwa jenazah tersebut adalah korban kecelakaan kerja di Pencucian Vanilla pada Jumat sore. Jenazah Feri ternyata hanyut sejauh 20 kilometer. Ia ditemukan hampir 40 jam setelah tenggelam.

Berdasarkan pemeriksaan luar, ditemukan lebam di kaki kanan dan kepala sebelah kiri Feri. Bekas benturan itu sesuai dengan penuturan saksi Sabran. Feri saat itu hendak memajukan mobil agar roda terganjal dengan baik. Ia mengubah posisi mobil supaya lebih mudah membersihkan bagian bak. Mobil tiba-tiba melaju tak terkendali. Kaki kanan Feri belum sempat masuk ke kabin. Bagian kanan mobil dan kaki Feri menghantam penyangga atap pencucian. Kepala Feri kemudian terbentur kemudi. Dari situlah diduga penyebab kedua lebam tadi.

Dari rumah sakit, jenazah Feri dibawa ke Langgar ASH Shabur di Jalan DI Panjaitan, Kelurahan Loa Ipuh, Tenggarong, sekitar 100 meter dari kediaman almarhum. Setelah disalatkan pada Ahad siang, jenazah dimakamkan di kuburan muslimin setempat.

Tulang Punggung Keluarga

Feri Setiawan biasa dipanggil Pepeng. Ia adalah siswa kelas XII SMK di Tenggarong, jurusan keramik. Feri sudah empat tahun bekerja sebagai pencuci mobil. Sejak setahun belakangan, ia berstatus anak yatim karena ayahnya meninggal dunia. Feri lantas menjadi tulang punggung keluarga.

“Feri punya ibu dan dua adik,” jelas kakek Feri yang bernama Amir Hasan, 52 tahun, kepada kaltimkece.id. Amir tengah mengikuti pencarian Feri dari tepi Sungai Mahakam saat diwawancara pada Sabtu, 20 Februari 2021. Matanya terus menyapu permukaan sungai saat menceritakan cucunya.

“Pendapatan dari mencuci mobil dipakai untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” sambungnya.

Erwin, 31 tahun, adalah paman Feri dan tinggal serumah dengan almarhum. Menurut Erwin, keponakannya dikenal tidak terlalu banyak bicara. Feri jarang menghabiskan waktu dengan berkumpul-kumpul bersama teman sebaya. Pemuda itu lebih suka di rumah, bermain dengan adik-adiknya. Biasanya, senda-gurau tiga bersaudara itu selalu terdengar sebelum Feri berangkat kerja.

“Kecuali Jumat kemarin. Pada tengah hari, Feri pulang untuk makan siang. Temannya lantas mengajak salat Jumat. Setelah itu, mereka ke pencucian mobil. Feri tidak sempat bermain bersama adiknya,” kenang Erwin.

Feri dikenal sebagai pemuda yang taat beribadah. Muhammad Hendrik, 29 tahun, adalah rekan kerja Feri yang membenarkan hal tersebut. Selain tidak pernah alpa salat lima waktu, kata Hendrik, rekannya itu senang bersenda gurau. Dua jam sebelum kejadian, Feri juga sempat mengunggah status di akun TikTok-nya. Ia menulis pesan baik, “Perbaikilah sholatmu maka Allah akan memperbaiki hidupmu.”

Baca juga:
 

Pemuda itu juga baik di mata teman-teman sekolah. Pada saat ia dimakamkan, ratusan orang mengantarnya menuju tempat peristirahatan terakhir. Sebagian besar adalah teman sekolahnya. “Saya ucapkan terima kasih kepada semua yang datang. Kami ikhlas dengan kepergian almarhum,” tutur Evi, 40 tahun, seorang ibu yang baru kehilangan putra sulung sekaligus tulang punggung keluarga. (*)

Editor: Fel GM

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar