Kutai Kartanegara

Jahe Lontar di Kukar, Produksi Melimpah-Ruah, Area Panen Naik Lima Kali Lipat dalam Setahun

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 1373 Kali
Jahe Lontar di Kukar, Produksi Melimpah-Ruah, Area Panen Naik Lima Kali Lipat dalam Setahun

Aktivitas perkebunan jahe di Loa Kulu, Kukar. (koresponden kaltimkece.id)

Jahe lontar di Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara ini, bahkan sampai ditinjau sebagai jenis jahe unggulan oleh Bappenas.

Ditulis Oleh: Fel GM
19 November 2020

kaltimkece.id Produksi jahe semakin berlimpah di Kutai Kartanegara. Di kabupaten ini, jahe mulai dikembangkan secara intensif pada 2018. Waktu itu, lahan panennya seluas 33.293 meter persegi, tersebar di delapan kecamatan. Hanya dalam setahun, luas panen jahe meningkat lima kali lipat yakni 171.144 meter persegi. 

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kukar, Sutikno, menjelaskan bahwa Loa Kulu adalah kecamatan dengan kebun jahe terluas yaitu 77,25 hektare. Kebun jahe tersebut terbagi di delapan desa. Jonggon adalah salah satu desa yang memanfaatkan potensi lahan kosong untuk berkebun jahe. Lahan tersebut seperti pekarangan rumah hingga sisi-sisi kolam ikan.

Di Loa Kulu, jenis jahenya berbeda dengan di Samboja. Petani di Jonggon menanam jahe lontar. Menurut Sutikno, jahe lontar punya rasa yang khas yaitu agak pedas dibanding jenis jahe yang lain. Produksi jahe di Loa Kulu juga sangat menggembirakan. Untuk setiap hektare kebun jahe, petani bisa memperoleh hingga 20 ton. 

“Jika petani bisa menjual Rp 25 ribu per kilogram, tentu sangat menguntungkan secara ekonomi bagi para petani jahe. Potensi dari komoditas hortikultura ini besar sekali,” terang Sutikno. Dari potensi tersebut, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional pernah datang ke Loa Kulu untuk meninjau jahe unggulan jenis jahe lontar ini. 

Meskipun demikian, para petani memang masih menghadapi sejumlah kendala. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian dan Peternakan Kukar, Sugiono, mengatakan, kendala petani adalah harga bibit yang mahal. “Kami sedang menyusun proposal supaya ada bantuan tambahan dari pemerintah pusat untuk penyediaan bibit jahe,” jelas Sugiono.

Kendala yang lain adalah infrastruktur pertanian yang belum memadai di beberapa tempat. Contohnya di Desa Margahayu di Loa Kulu. Akses jalan menjadi kendala utama. Petani masih harus memikul hasil panen sejauh 50 meter. Setelah itu, panen dibawa dengan sepeda motor baru bisa mencapai jalan poros. 

“Untuk sarana-prasarana ini, pemkab juga meminta tambahan kuota ke pusat,” terang Sugiono. (*)

 

Ikuti berita-berita berkualitas dari kaltimkece.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar