Kutai Kartanegara

Jalan-Jalan ke Muara Siran, Desa Para Juragan Sarang Burung Walet di Muara Kaman, Kukar

person access_time 3 months ago remove_red_eyeDikunjungi 3236 Kali
Jalan-Jalan ke Muara Siran, Desa Para Juragan Sarang Burung Walet di Muara Kaman, Kukar

Desa Muara Siran, Muara Kaman, Kutai Kartanegara (foto: samuel gading/kaltimkece.id)

Sekitar 85 persen penduduk Muara Siran membudidayakan sarang walet. Seorang di antaranya berpenghasilan Rp 27 juta sebulan.

Ditulis Oleh: Samuel Gading
25 Januari 2022

kaltimkece.id Matahari sudah condong ke barat di atas Danau Resau Malang di Muara Siran. Di ujung danau, sebuah bangunan menjulang di sebelah hutan gambut yang rimbun. Gedung berbahan kayu setinggi lima lantai itu terus berkicau. Inilah rumah burung walet, budi daya lokal yang mampu mengalahkan industri ekstraktif seperti tambang batu bara dan kelapa sawit. Budi daya yang sekaligus menjaga hutan gambut di Kutai Kartanegara.

Muara Siran adalah sebuah desa di Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara. Desa ini berbentuk hamparan datar yang sebagian besar wilayahnya terendam air. Dari luas 42.201 hektare, sekitar 80 persen wilayah desa adalah hutan rawa sekunder dan sungai-sungai kecil. Jalan darat belum tersedia ke desa ini. Reporter kaltimkece.id beserta rombongan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Yayasan Biosfer Manusia (Bioma), perlu menyusuri sungai dengan perahu atau ces selama satu jam dari Muara Kaman untuk mencapainya pada Selasa, 25 Januari 2022.

Meskipun minim infrastruktur, mayoritas masyarakat desa dikenal berpenghasilan tinggi. Budi daya walet menjadi komoditas utamanya. Khasiat yang terdapat dalam air liur walet membuat budi daya tersebut bernilai tinggi. Direktur Eksekutif Yayasan Bioma, Akhmad Wijaya, mengatakan, usaha tersebut cocok bagi masyarakat lokal. Sebagian besar warga memang berprofesi sebagai petani dan nelayan. Bioma mencatat, ada 300 rumah sarang walet dari total 350 kepala keluarga. Artinya, sekitar 85 persen penduduk Muara Siran merupakan pengusaha sarang burung walet.

“Duduk-duduk bekesahan (bercerita) dapat cuan (uang). Risikonya juga minim bagi masyarakat dan lingkungan,” terang Akhmad.

_____________________________________________________PARIWARA

Karena Walet Hutan Awet

Jejak usaha sarang burung walet sudah ada sejak 2010 di Muara Siran. Waktu itu, hanya satu warga yang mendirikan sarang burung walet. Pada 2012, jumlahnya baru dua orang.

Kepada kaltimkece.id, pengusaha sarang burung walet sekaligus Ketua Lembaga Pengelola Sumber Daya Alam (LPSDA) Muara Siran, Abdul Agus Nur Ainu, menjelaskan usaha tersebut booming pada 2015. Harga komoditas mencapai Rp 8 juta per kilogram. Ia pun terjun dalam bisnis walet setahun setelahnya.

Bermodalkan Rp 97 juta, Agus membangun sebuah rumah sarang walet. Tingginya mencapai lima tingkat. Bangunan terbuat kayu kanoi yang diperoleh dari hutan sekitar. Modal Agus balik setelah dua tahun. Kini, dalam jangka panen 50 hari, Agus memperoleh sekitar 6 kilogram sarang burung walet. Dengan nilai jual Rp 8 juta per kilogram, ia mengaku, bisa memperoleh rata-rata Rp 27 juta sebulan. 

“Satu lembar (sarang walet) sekarang bisa Rp 100 ribu. Itu pun, bergantung kualitas. Memang, setiap sarang bisa menghasilkan jumlah berbeda. Biasanya, makin dekat sarang walet dengan hutan rimbun, kualitasnya makin bagus,” Agus ketika ditemui pada Senin, 17 Januari 2022, di pelataran rumahnya.

Agus dan beberapa warga yang melihat potensi besar dari sarang walet bergerak cepat mengamankan hutan. Pada 2012 itu, ia mendengar bahwa program Satu Juta Hektare Kelapa Sawit sedang digalakkan. Agus mulai menghimpun warga untuk mendorong rencana tata ruang desa dengan bimbingan beberapa organisasi nirlaba. Empat tahun kemudian, pada 2016, cita-cita itu tercapai. Bupati Kukar, Rita Widyasari, mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang RTRW Desa.

Wilayah seluas 42.913 hektare di sekitar Muara Siran pun menjadi kawasan lindung. Ada 14 zona sesuai tata ruang desa. Mulai zona perlindungan inti, ekowisata gambut, kawasan pemanfaatan kayu, kehutanan masyarakat, kawasan Danau Siran, hingga pusat pendidikan gambut. Agus mengatakan, warga Muara Siran lebih memilih mengelola hutan secara mandiri dibanding dijadikan industri ekstraktif. Warga sangat khawatir dengan aktivitas pengawahutanan atau deforestrasi.

“Walet kini menang lawan (industri) sawit di sini. Daripada kita dipekerjakan dan mendapat Rp 120 ribu tapi hutan rusak. Kalau tidak ada hutan, walet kita rusak,” paparnya. Agus menambahkan, lebih baik santai tapi dapat berjuta-juta rupiah. Belum termasuk ikan dari danau. Warga bisa memperoleh rata-rata Rp 200 ribu sehari.

Lembaga yang dipimpin Agus juga menanungi beberapa kelompok kecil seperti Kelompok Tani Hutan dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Muara Siran. Pokdarwis adalah unit yang mengelola ekowisata Danau Muara Siran atau Resau Malang, sebutan lokalnya.

_____________________________________________________INFOGRAFIK

Resau Malang adalah danau yang disebut-sebut mirip dengan Raja Ampat. Pengunjung bisa berkeliling danau dengan menggunakan rakit terapung berukuran 10 meter x 10 meter. Rakit itu bisa menampung 30 orang dan bisa dijadikan tempat beristirahat serta menginap sekaligus menikmati keindahan hutan gambut.

Hutan gambut memang paling banyak ditemui di kawasan tengah Sungai Mahakam seperti di Kecamatan Muara Wis dan Muara Kaman. Dari total hutan gambut di Kaltim 391.141 hektare, sekitar 71 persen terletak di Kukar. Luas lahan gambut di Kukar kurang lebih sama dengan luas Selandia Baru. Bioma mencatat, terdapat 14 perusahaan yang mengantongi konsesi perkebunan kelapa sawit di lahan gambut tersebut.

“Kami ingin warga secara ekonomi bergantung dengan hutan. Sementara kawasan hutan gambut yang ada juga terjaga,” tutup Akhmad Wijaya dari Bioma. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar