Kutai Kartanegara

Kisah Petani Muda Tenggarong, Pernah Dikeluarkan dari Sekolah Kini Sekali Panen Rp 60 Juta

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 5655 Kali
Kisah Petani Muda Tenggarong, Pernah Dikeluarkan dari Sekolah Kini Sekali Panen Rp 60 Juta

Ridho Mahathir dan ketiga temannya di kebun mereka di Bendang Raya, Tenggarong (foto: aldi budiaris/kaltimkece.id)

Ridho Mahathir pernah dikeluarkan dari sekolah. Kini jadi petani dan mampu membeli rumah dan tanah.

Ditulis Oleh: Aldi Budiaris
30 November 2021

kaltimkece.id Penjelasan dokter membuat Ridho Mahathir tak mampu berkata apa-apa. Dokter mendiagnosisnya menderita gangguan pencernaan berat sehingga harus dirawat sebulan penuh di rumah sakit. Padahal, tinggal beberapa bulan lagi ujian nasional tiba. Pikirannya pun berkecamuk hebat.

Januari 2015 itu, Ridho yang masih berusia 18 tahun, akhirnya menjalani perawatan. Siswa kelas XII di sebuah SMA di Tenggarong, Kutai Kartanegara, tersebut, tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar selama sebulan. Ridho baru kembali sekolah setelah dinyatakan pulih. Akan tetapi, wali kelas dan pihak sekolah mengatakan, dirinya dianggap absen sebulan tanpa keterangan apapun. Kedua orangtuanya dipanggil pihak sekolah. Ridho dikeluarkan dan disarankan melanjutkan pendidikan di sekolah swasta.

“Padahal, surat keterangan dari rumah sakit ada. Saya hanya mencoba mengambil hikmah dari cobaan tersebut," tutur Ridho, kini 24 tahun, kepada kaltimkece.id pada Selasa, 30 November 2021.

_____________________________________________________PARIWARA

Dikeluarkan dari sekolah membawa Ridho belajar bertani secara autodidak. Ia mencoba belajar melalui jejaring pencarian di telepon pintar. Dari berselancar di dunia maya, Ridho terkejut ketika mengetahui regenerasi petani sedang sulit sekarang. Pertanian dianggap pekerjaan  kotor yang tidak menguntungkan. Tak banyak anak muda yang mau jadi petani.

Pada 2017, Ridho yang sudah mengetahui sejumlah teori pertanian bertemu dengan tiga orang. Mereka adalah Ardiansyah, 28 tahun, Juari, 31 tahun, dan Mujianto, 39 tahun. Mereka seringkali berkumpul dan bertukar pendapat mengenai usaha tani. Keinginan Ridho untuk bertani makin membuncah di dada.

Ridho kemudian meminjam lahan dari saudari ibunya. Lahan itu luasnya 1 hektare di Desa Bendang Raya, Tenggarong. Ia membuka lahan 15 meter x 10 meter dan mulai menanam 150 pohon cabai. Pada panen pertama, harga cabai sedang tinggi hingga Rp 100 ribu per kilogram. Pendapatan Ridho pun lumayan besar, sampai Rp 6 juta. Padahal, modalnya hanya benih dan perawatan secukupnya.

Melihat potensi itu, Ridho bersama ketiga temannya menggarap lahan masing-masing 1 hektare lagi. Tanaman yang mereka pelihara bervariasi, disesuaikan siklus tanam dan permintaan pasar. Kebanyakan hortikultura seperti sawi, tomat, dan cabai. Hasilnya luar biasa. Sekali panen, bisa mencapai 10 ton dengan pendapatan menyentuh Rp 60 juta. Pendapatan sebesar itu juga tidak lepas dari usaha Ridho dan kolega mengelola pemasaran hasil panen. Mereka menjualnya di Tenggarong, Samarinda, Balikpapan, Bontang, hingga Banjarmasin, dan Palu.

Lima tahun bergelut tanaman hortikultura, Ridho mengaku, telah membangun sebuah rumah, dua tanah kaveling di Tenggarong, tanah pertanian 3 hektare, dan dua sepeda motor. "Bukan bermaksud sombong, tapi ini bukti sektor pertanian itu menjanjikan," jelasnya.

Ridho kembali ke persoalan regenerasi petani yang membuatnya prihatin. Ia bersama teman-temannya mendirikan perkumpulan petani muda di Desa Bendang Raya, Tenggarong. Menurutnya, kawula muda perlu menghilangkan stigma bahwa pertanian tradisional itu tidak menguntungkan.

"Saat ini, petani tidak memegang cangkul. Sudah lebih modern karena ada teknologi," jelasnya.

_____________________________________________________INFOGRAFIK

Bupati Kukar, Edi Damansyah, mengaku, telah lama mendengar kesuksesan petani milenial di Bendang Raya tersebut. Ditemui kaltimkece.id di lahan pertanian milik Ridho, Bupati mengatakan, usaha para pemuda ini luar biasa. Ridho dan kawan-kawan dianggap bagian dari solusi minimnya regenerasi petani di Kukar. Padahal, Kukar adalah kabupaten dengan potensi pertanian terbesar di Kaltim.

“Tentu sejalan dengan program daerah. Kukar memiliki program Petani Milenial. Buang pikiran malu dengan usaha pertanian. Dahulu, usaha tani identik dengan kolot dan kotor. Tapi sekarang, sudah bergeser dengan manajemen dan teknologi modern,” ajak Edi Damansyah.

Bupati memastikan, Pemkab Kukar mendukung dan fokus mengembangkan sektor pertanian. Program strategis pertanian Kukar ini disiapkan sejak 2021 hingga 2026. Program Petani Milenial, contohnya, mulai berkembang di Kecamatan Marangkayu, Muara Jawa, dan Anggana. Ditambah dari Desa Bendang Raya di Tenggarong.

"Secara bertahap, kami terus berupaya membantu petani dengan peralatan dan sarana produksi pertanian," jelas Edi Damansyah. “Dan bukan hanya di Bendang Raya, petani milenial di Muara Jawa malah mampu membeli mobil mewah setelah panen," tutup Bupati. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar