Kutai Kartanegara

Mengenal Cara Menanam Padi di Atas Rakit di Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 936 Kali
Mengenal Cara Menanam Padi di Atas Rakit di Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara

Sawah apung di Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kukar.

Desa Muara Enggelam tidak memiliki lahan sawah sama sekali. Mereka menyiasatinya dengan menanam di atas rakit. Hasilnya luar biasa. 

Ditulis Oleh: Fel GM
Senin, 16 November 2020

kaltimkece.id Kemampuan tali-temali Usthuri tak perlu diragukan. Ia hanya perlu satu jam untuk mengikat potongan-potongan bambu hingga menyerupai rakit. Kerangka rakit itu lumayan besar. Lebarnya 2 meter sedangkan panjangnya 4 meter. Di tengah-tengah kerangka, lelaki berusia 44 tahun itu menambah beberapa tulang yang juga terbuat dari bambu.

Senin, 26 Oktober 2020, di pekarangan sebuah rumah di Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara, Usthuri membentangkan kain kasa di tengah-tengah kerangka rakit. Kain kasa itu menjadi alas rakit. 

Setelah semuanya kelar, Usthuri membawa benda tersebut ke Danau Melintang. Mengenakan jaket penyelamat berwarna oranye menyala dan bertelanjang kaki, ia mengapungkan susunan bambu berbentuk persegi panjang. Petani dari Gabungan Kelompok Tani Panji Sejahtera di Tenggarong tersebut kemudian menaburkan tanah subur atau humus di atasnya. 

Sawah mungil itu terapung di permukaan Danau Semayang yang tenang. Supaya tidak tenggelam, dua ujung bambu diikat ke sebuah gubuk terapung di luar gapura desa Muara Enggelam. Lahan buatan yang sudah siap ditanami itu segera digarap. Di sebelah rakit baru tersebut, sawah terapung yang lain telah ditumbuhi padi. Usthuri sempat memeriksa tanaman berusia sebulan itu. Tidak ada masalah sepertinya. Padi-padi tumbuh subur sebagaimana mestinya. 

Kepada kaltimkece.id, Usthuri menjelaskan cara menanam padi dengan teknik terapung. Yang pertama, kendala yang paling utama adalah pohon bambu tidak tumbuh di desa tersebut. Demikian juga tanah humus. Ia harus mengambil bambu dan tanah dari desa-desa tetangga. Usthuri mengatakan, rakit dari bambu tidak boleh lebih dari 2 meter. 

“Kalau lebih lebar, takutnya nanti gampang tenggelam. Sementara untuk panjang rakit, bisa sampai 12 meter,” tuturnya.

Usthuri cukup punya ilmu dan pengalaman dalam mengelola sawah terapung. Ia telah menggeluti dunia pertanian selama 20 tahun. Pertama kali teknik tanam ini Usthuri uji coba pada 2019. Pertama-tama, ia membangun rakit berukuran 2 meter x 1 meter. Setelah 120 hari sejak ditanam, padi dipanen. Menurut Usthuri, dari sawah mungil di atas air itu, 3 kilogram beras dihasilkan. 

“Hasilnya bagus karena saya menambahkan nutrisi ke tanah yang sudah dilapisi daun pisang,” jelasnya.

Tanaman padi di sawah terapung disebut sangat terbantu oleh kondisi air. Keasaman atau pH air di Danau Melintang adalah 5,5 sampai 7 (sedikit asam hingga netral). Sawah terapung ini bahkan cukup menggunakan pestisida organik. Selain ramah bagi manusia dan lingkungan, pestisida organik tidak merusak habitat ikan. 

Kepala Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Muara Enggelam, Haji Ramsah, menjelaskan bahwa padi apung dikembangkan sebagai komoditas pertanian setempat. Hasil dari sawah apung hanya untuk konsumsi masyarakat alias tidak diperjualbelikan. Padi apung merupakan satu dari sekian banyak kearifan lokal di Desa Muara Enggelam. Masyarakat setempat, jelas Haji Ramsah, berupaya menghidupkan tradisi kehidupan nenek moyang. Teknik menanam di lahan apung ini juga dicoba untuk menanam sayuran.

“Kami berupaya keras agar Desa Muara Enggelam memiliki sektor pertanian mandiri. Sebagai desa yang terisolasi, kami ingin membangun desa ini agar maju,” jelasnya. (*)

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar