Kutai Kartanegara

Produksi Padi di Atas Rakit di Muara Enggelam yang Hampir Empat Kali Lipat dari Padi Sawah

person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 1919 Kali
Produksi Padi di Atas Rakit di Muara Enggelam yang Hampir Empat Kali Lipat dari Padi Sawah

Cara membuat rakit untuk sawah terapung di Muara Enggelam, Kutai Kartanegara.

Produktivitas sawah terapung lebih tinggi dari sawah konvensional.

Ditulis Oleh: Fel GM
Senin, 16 November 2020

kaltimkece.id Teknik menanam padi di atas rakit di Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, memberikan hasil yang menggembirakan. Produksi dari sawah terapung ini bahkan hampir empat kali dari sawah konvensional.

 

Usthuri, petani yang mengaplikasikan teknik ini di Muara Enggelam, telah mengadakan uji coba. Pada 2019, ia membangun rakit berukuran 2 meter x 1 meter. Setelah 120 hari sejak ditanam, padi dipanen. Menurut Usthuri, dari sawah mungil di atas air itu, 3 kilogram beras dihasilkan. Produktivitas padi apung di desa tersebut adalah 1,5 kilogram per meter persegi. Dengan demikian, produktivitas padi apung di atas rakit seluas 1 hektare (10 ribu meter persegi) akan menghasilkan panen 15 ton beras.

Hasil panen tersebut termasuk luar biasa. Rata-rata produktivitas sawah di Kukar pada 2019 hanya 3,8 ton per hektare. Itu pun dalam bentuk gabah kering giling, bukan beras. Produktivitas padi apung di Muara Enggelam artinya mencapai hampir empat kali lipat dari sawah konvensional.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara, Sutikno, mengapresiasi metode sawah apung. Dinas Pertanian dan Peternakan siap membantu dengan menurunkan tim penyuluh. Menurut Sutikno, masyarakat yang mempunyai keinginan bertani tentu harus dibantu sepanjang ada pengajuan bantuan.

“Padi apung ini terkesan tradisional tapi sebenarnya teknik ini modern,” jelasnya.   

Budi daya pertanian terapung sebenarnya bukan hal baru meskipun kurang lazim di zaman modern. Teknik menanam seperti ini telah dipraktikkan sejak lama di Bangladesh dan masyarakat Intha di Myanmar. Salah satu keuntungan sistem pertanian terapung adalah tidak perlu penyiraman. Air yang berdifusi dari bawah media mempermudah petani karena budi daya bersifat organik (Padi Apung sebagai Inovasi Petani Terhadap Dampak Perubahan Iklim di Pangandaran, Proshiding Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Padi, 2017, hlm 8-9).

Di Indonesia, budi daya padi apung dimulai sebagai adaptasi terhadap perubahan iklim. Teknik penanaman ini dikembangkan Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) dan Center for Climate Risk and Opportunities Management, Institut Pertanian Bogor, pada Desember 2011. Panen dari sawah apung tersebut ternyata lebih tinggi daripada sawah konvensional. Setelah sembilan tahun sejak pertama kali dikembangkan, produktivitas padi apung rata-rata 6,4 ton per hektare gabah kering giling. Produktivitas itu 50 persen lebih tinggi dibandingkan hasil panen sawah darat (hlm 9).

Teknik ini cocok dengan kontur Desa Muara Enggelam. Desa di wilayah hulu Kutai Kartanegara itu sebagian besar berupa perairan Danau Melintang yang terhubung ke Sungai Mahakam. Rumah-rumah warga didirikan di atas danau. Sebagian besar penduduknya adalah nelayan. Nyaris tidak ada petani di Muara Enggelam karena ketiadaan lahan tanam. Teknik sawah terapung adalah siasat agar penduduk memiliki sawah. (*)

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar