kaltimkece.id Sedikitnya 70 siswa, guru, dan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilarikan ke Puskesmas Sebulu I, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Senin, 3 Agustus 2026. Mereka diduga keracunan usai menyantap menu MBG.
Kepada kaltimkece.id pada Senin sore, Kepala UPTD Puskesmas Sebulu I, Abdullah Ramli, menyebut jumlah korban sekitar 70 orang. Sebanyak 53 orang di antaranya telah tercatat dalam sistem pelayanan kesehatan sementara enam orang harus menjalani rawat inap. Jumlah korban diperkirakan dapat bertambah pendataan masih berlangsung.
"Data asal sekolah masih kami rekap. Yang kami catat saat ini baru berdasarkan domisili pasien sehingga belum bisa dipastikan seluruhnya," kata Abdullah.
Ia menyebut para korban berasal dari tiga sekolah dan kader posyandu di Desa Sebulu Ulu dan Desa Sebulu Modern. Ketiga sekolah tersebut yakni SD 003, Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Abdullah memaparkan sebagian besar korban mengalami gejala ringan seperti mual, muntah, sakit kepala, nyeri ulu hati, dan badan lemas. Kondisi para korban dilaporkan kini mulai stabil.
Hingga kini belum ada pasien yang dilaporkan mengalami gejala medis berat seperti kejang, demam, maupun harus dirujuk ke rumah sakit. Puskesmas Sebulu I dan Kepolisian telah mengamankan sampel makanan yang diduga menjadi penyebab kejadian tersebut. Sampel akan diperiksa melalui penyelidikan epidemiologi oleh tim dari Dinas Kesehatan Kukar dan Puskesmas Sebulu I.
Abdullah mengatakan seluruh hidangan MBG berasal dari satu dapur penyedia di Sebulu Ulu. Salah satu menu yang disajikan adalah pentol yang kini menjadi fokus pemeriksaan laboratorium.
"Kemungkinan sama seperti kasus sebelumnya, bisa saja karena bakteri Escherichia coli. Tapi ini masih sebatas prediksi. Sampelnya akan kami kirim untuk diperiksa," ujarnya.
Sementara itu, Camat Sebulu, Edy Fahruddin, mengatakan seluruh korban telah dievakuasi ke puskesmas setelah mengalami keluhan usai mengonsumsi MBG. Mayoritas korban, sebut dia, merupakan anak-anak sehingga penanganan dilakukan di poli anak dan unit gawat darurat (UGD).
"Hingga sore ini, seluruh pasien masih dalam pengawasan tim medis. Belum ada yang dirujuk ke rumah sakit," kata Edy.
Ia menjelaskan MBG didistribusikan ke sekolah-sekolah sekira pukul 09.00 Wita. Sebelum dibagikan kepada siswa, guru disebut lebih dahulu mencicipi makanan sesuai prosedur yang berlaku di sekolah. Tidak lama setelah makanan dikonsumsi, sejumlah siswa dan guru mulai mengeluhkan mual, muntah, pusing, dan tubuh lemas.
Pemerintah Kecamatan Sebulu juga menerima informasi bahwa pentol, salah satu menu MBG pada hari itu, diduga telah basi. Beberapa menu yang lain pun disebut memiliki rasa masam.
"Tapi ini masih dugaan dan belum bisa dipastikan sebagai penyebab keracunan," ujar Edy. (*)