Kutai Kartanegara

Rencana Merombak Permukiman Kumuh di Tenggarong Serupa Malioboro

person access_time 5 months ago remove_red_eyeDikunjungi 767 Kali
Rencana Merombak Permukiman Kumuh di Tenggarong Serupa Malioboro

Permukiman kumuh di bantaran Sungai Tenggarong, Kutai Kartanegara, ini akan diubah menjadi daerah wisata. FOTO: ALDI BUDIARIS-KALTIMKECE.ID

Pemkab Kukar tengah menyusun gagasan besar. Mengubah permukiman di bantaran Sungai Tenggarong jadi rumah adat Kutai.

Ditulis Oleh: Aldi Budiaris
Selasa, 23 Agustus 2022

kaltimkece.id Pemerintah kabupaten tengah mematangkan rencana penataan ulang permukiman kumuh di bantaran Sungai Tenggarong, Kutai Kartanegara. Pemkab berencana mengubah rumah-rumah di sana menjadi rumah adat Kutai seperti zaman dulu. Permukiman di Jalan Malioboro, Yogyakarta, disebut menjadi inspirasinya.

Kepada kaltimkece.id, Senin, 22 Agustus 2022, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Kukar, Maman Setiawan, menyebut, ada 300 rumah di kiri dan kanan Sungai Tenggarong yang akan dibongkar. Rumah-rumah tersebut bakal dibangun ulang dengan konsep rumah tradisional Kutai tempo dulu. Bangunannya akan diberi ornamen berciri khas budaya Kutai.

“Ini sebagai upaya kita melestarikan budaya serta kearifan lokal,” kata Maman.

Tak hanya sebagai tempat tinggal, sambung Maman, rumah-rumah di pinggiran Sungai Tenggarong yang baru juga akan disediakan tempat usaha. Sebagai ruang terbuka hijaunya, sebuah taman akan dibangun, termasuk membangun tiga jembatan baru yang menghubungkan Jalan Kartini dengan Jalan DI Panjaitan. Diperkirakan, perlu anggaran Rp 200 miliar untuk mewujudkan rencana tersebut.

Maman menjelaskan, Pemkab Kukar bekerja sama dengan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dalam menyusun konsep permukiman di bantaran Sungai Tenggarong yang baru. Ditargetkan, akhir tahun ini konsep perencanaan pembangunannya kelar. Penataan ulang ini merupakan bagian dari program kota tanpa kumuh alias kotaku.

“Kawasan komersil ini bakal serupa Malioboro di Yogyakarta,” jelasnya.

Sub Koordinator Analis Kebijakan, Dinas Perumahan dan Pemukiman Kukar, Rovviyatul Hidayat, menambahkan, rencana pembangunan permukiman layak huni ini, kini memasuki penyusunan detail engineering design atau DED. Pemkab Kukar telah menggelontorkan Rp 700 juta untuk membuat desain dan menganalisisnya.

Rovviyatul menjelaskan, konsep rumah tradisional dibuat agar permukiman di bantaran Sungai Tenggarong memiliki daya tarik. Ia menyebut, Pemkab juga berencana membangun kawasan hijau dan pasar terapung di sana. “Sehingga, kawasan ini diharapkan menjadi daerah wisata,” imbuhnya.

Makna Rumah Kutai

Rencana pemkab mengubah permukiman di bantaran Sungai Tenggarong menjadi tradisional disambut baik budayawan Kukar, Awang Rifani. Menurutnya, rencana tersebut tentu dapat melestarikan adat dan budaya Kukar.

“Di Tenggarong, rumah tua bisa dihitung dengan jari, dan hanya bisa ditemukan di Kelurahan Mangkurawang. Kalau di daerah lain, bangunannya sudah modern,” katanya.

Tak hanya melestarikan budaya, rencana tersebut juga dapat membangkitkan perekonomian. Memadukan rumah budaya, wisata air, hingga pusat kuliner dalam satu tempat, kata Rifani, akan menyerupai kota di atas air di sejumlah negara seperti Venesia di Italia dan pasar terapung Khlong Lat Mayom di Bangkok, Thailand.

“Apalagi Kukar menjadi daerah penyangga ibu kota negara. Jadi, daerah ini harus memiliki daya tarik tersendiri,” ujarnya.

Infografik rencana Pemkab Kukar mengubah permukiman kumuh di Tenggarong menjadi daerah wisata
DESAIN GRAFIS: MUHAMMAD IMTIAN NAUVAL-KALTIMKECE.ID
 
Dia pun membeberkan beberapa jenis bangunan adat Kutai beserta filosofi dan maknanya. Salah satunya jenis godang. Rumah yang menggunakan atap godang diartikan kediaman yang dimiliki orang dengan kasta tertinggi. Ada juga atap jenis limas yang menandakan kesederhanaan. Rifani mengatakan, masyarakat Kutai dulu percaya, memiliki rumah dengan struktur dan ornamen khas budaya akan membawa keberuntungan dan kesejahteraan bagi pemiliknya.
 
“Semakin rumit bangunan dan ornamen rumah semakin tinggi status sosial pemilik rumah itu,” jelasnya. Oleh sebab itu, ia mengartikan, rencana Pemkab Kukar membangun rumah tradisional Kutai di bantaran Sungai Tenggarong adalah sebuah harapan untuk membawa kesejahteraan bagi masyarakat setempat. (*)

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar