Kutai Kartanegara

Sejarah dan Makna Erau, Tradisi Tua yang Abadi di Kukar

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 625 Kali
Sejarah dan Makna Erau, Tradisi Tua yang Abadi di Kukar

Replika naga yang menjadi salah satu properti dalam upacara adat Erau di Kukar. FOTO: ALDI BUDIARIS-KALTIMKECE.ID

Pandemi sempat melumpuhkan Erau. Tetapi, upacara adat yang sudah ada pada abad ke-13 ini siap digelar tiga hari lagi.

Ditulis Oleh: Aldi Budiaris
Sabtu, 17 September 2022

kaltimkece.id Erau adalah upacara adat di Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang diadakan hampir setiap tahun. Akan tetapi, tradisi ini dihentikan pada 2020 lalu karena kasus Covid-19 meningkat. Kini, seiring melandainya kasus Covid-19, Erau direncanakan diadakan selama 13 hari, 20 September hingga 3 Oktober 2022. Lantas, seperti apa sejarah acara adat ini?

Budayawan Kutai Kartanegara, Awang Rifani, memperkirakan, upacara Erau sudah ada pada abad ke-13 sebelum masehi. Raja pertama Kutai, Aji Batara Agung Dewa Sakti dari 1300 hingga 1325, disebut yang pertama memulainya. Suatu hari ketika ia hendak mandi, kesultanan mengadakan Erau Tijak Tanah sebagai bentuk penghormatan. Sejak saat itulah, upacara Erau diadakan hampir setiap tahun sampai saat ini.

“Erau sudah ada sejak awal zaman kerajaan dan kesultanan dulu,” jelas Awang Rifani kepada kaltimkece.id, Sabtu, 17 September 2022.

Arti Erau tertulis jelas dalam buku Salasilah Kutai yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1981. Secara terminologi, Erau berasal dari kata Eroh (bahasa Kutai) yang artinya ramai, hilir mudik, bergembira, atau berpesta ria.

Menurut Awang Rifani, upacara Erau kini telah berkembang. Berbagai kegiatan menarik, seperti kesenian, ketangkasan, olahraga dan hiburan rakyat, telah di tambahkan. “Tujuannya, menyatukan masyarakat dan kerabat kesultanan,” beber dosen di Universitas Kutai Kartanegara ini.

Ada beberapa jenis Erau yang pernah digelar. Pertama, sebut Awang Rifani, Erau Batu Samban. Erau jenis ini hanya pernah diadakan Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti. Ia mengadakannya selama 21 hari dan 22 malam untuk meningkatkan ilmu kesaktian. Jenis yang kedua yakni Erau Tepong Tawar yang dilaksanakan pada waktu tertentu. Dulunya, Erau Tepong Tawar dilaksanakan selama 14 hari 15 malam namun kini dipersingkat menjadi 7 hari 8 malam.

Jenis berikutnya adalah Erau Pelas Tahun yang dilaksanakan para kerabat kesultanan untuk membersihkan segala macam hal yang mengganggu sumber-sumber kehidupan di wilayah kerajaan. Jenis yang terakhir yakni Erau Beredar. Jenis ini biasa digelar untuk pengangkatan, penabalan, atau segala hal yang berkaitan dengan tahta.

“Dalam pelaksanaan Erau, sultan melakukan Tuhing atau tidak menginjak tanah pada waktu tertentu,” tambah Awang Rifani.

Infografik mengenal upacara adat Erau di Kukar.
DESAIN GRAFIS: MUHAMMAD IMTIAN NAUVAL-KALTIMKECE.ID

 

Makna Belimbur

Pada kesempatan berbeda, Sekretaris Kesultanan Ing Martadipura, Awang Yacoub Luthman, mengatakan, saat Aji Raja Mahkota Mulia Alam menjadi Raja Kutai pada 1525-1600, upacara Erau semakin berwarna. Nilai-nilai Islami melekat dalam setiap kegiatannya.

“Sejak saat itu, Erau menjadi kegiatan kebudayaan yang berdampingan dengan agama. Dalam beberapa kali kesempatan, terucap rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa,” beber Awang Yacoub Luthman. “Dengan demikian, Erau adalah bagian rasa syukur kesultanan dan masyarakat di Kesultanan Kutai.

Dia menambahkan, Erau juga memiliki makna sebagai pembersihan atau mensucikan diri. Oleh karena itu, pada penutupan upacara Erau, dilaksanakan belimbur atau prosesi siram-siraman. “Dengan memercikkan air bersih kepada masyarakat diharapkan dapat menjauhkan diri dari berbagai macam penyakit dan mara bahaya,” pungkasnya. (*)

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar