Lingkungan

Bagaimana Empat Srikandi Unmul dari Disiplin Ilmu Berbeda Bersatu Selamatkan Mangrove Delta Mahakam

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 1238 Kali
Bagaimana Empat Srikandi Unmul dari Disiplin Ilmu Berbeda Bersatu Selamatkan Mangrove Delta Mahakam

Para ilmuwan dan mahasiswa meneliti kawasan mangrove Delta Mahakam, Kukar (foto: istimewa)

Empat cendekiawan perempuan dari Unmul ini luar biasa. Mereka bertekad menyelamatkan mangrove Delta Mahakam yang kian terimpit pertambakan.

Ditulis Oleh: Samuel Gading
28 Agustus 2021

kaltimkece.id Sebermula dari keprihatinan akan kondisi hutan bakau di Delta Mahakam, empat ilmuwan perempuan dari Universitas Mulawarman, Samarinda, menyiapkan sebuah rancangan. Pada awal tahun, mereka mengajukan desain tersebut kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Setelah ditelaah, kementerian menerima rancangan desain ulang kawasan pesisir tersebut.

Keempat srikandi dari Unmul tersebut berasal dari disiplin ilmu yang berbeda. Prof  Esti Handayani Hardi adalah guru besar dari Fakultas Perikanan dan Kelautan selaku ketua tim. Selanjutnya adalah Dr Haris Retno SH MH dengan latar belakang ilmu hukum. Kemudian Nurul Puspita Palupi SP MSi dari Fakultas Pertanian. Nama terakhir ialah Ir Rita Diana MA dari Fakultas Kehutanan.

Kegelisahan para akademikus perempuan ini berpangkal dari kondisi hutan mangrove Delta Mahakam, pesisir Kutai Kartanegara, seluas 150 ribu hektare. Ketika hutan bakau diharapkan mengurangi emisi gas karbon, luasannya justru berkurang. Pengawahutanan mangrove Delta Mahakam diduga karena aktivitas pertambakan. Akibatnya, banyak tutupan bakau yang hilang di 42 pulau kecil di mulut delta. 

Setelah proposal diajukan, desain ulang kawasan pesisir Delta Mahakam yang mereka buat akhirnya diterima Kemendibudristek. Desain tersebut menjadi bagian dari program Kedaulatan Indonesia Dalam Reka Cipta (Kedai Reka). Program ini dibarengi dana pendampingan atau matching fund yang besar. Kementerian menyiapkan Rp 250 miliar total dana untuk program ini di seluruh Indonesia. Di Kaltim, dua tim yang sama-sama dari Unmul berhasil masuk program Kedai Reka.

Di tim yang Prof Esti ketuai, rancangan desain ulang pesisir Delta Mahakam segera dikerjasamakan dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Dalam webinar pada Sabtu, 28 Agustus 2021, Prof Esti menjelaskan, rencana aksi desain ulang ini memiliki empat pendekatan yaitu lingkungan, sosial, hukum, dan ekonomi.

Keempat pendekatan tersebut dibagi dalam lima klaster rencana aksi yakni riset data dasar desa dan pemetaan partisipatif, pembangunan lahan percontohan atau demplot; penyusunan model penguatan pranata hukum desa untuk rehabilitasi mangrove; kaderisasi anak muda peduli mangrove, serta sosialisasi dan publikasi.

“Lokasi untuk rencana aksi ini di lima desa di Kukar yang terletak di Delta Mahakam yaitu Muara Badak Ulu, Salo Panai, Muara Pantuan, Sepatin, dan Saliki,” terang Prof Esti dalam webinar. Daerah-daerah tersebut dipilih sebagai basis masyarakat pesisir yang bersentuhan langsung dengan ekosistem mangrove di Delta Mahakam.

Rencana Aksi Penyelamatan Delta Mahakam

Klaster pertama adalah riset dan pemetaan data. Anggota tim Nurul Puspita Palupi dari Fakultas Pertanian menjelaskan, tim mengadakan pemetaan dengan menggandeng masyarakat lokal secara partisipatif. Keterlibatan masyarakat diperlukan untuk mengumpulkan data lapangan secara faktual.

“Masyarakat lokal yang paling mengenal kondisi lingkungan sekitar,” jelas ahli kesuburan tanah tersebut.

Dalam pengumpulan data, mahasiswa akan disertakan. Nurul berharap, pelibatan ini dapat membudayakan riset ilmiah dan praktik lapangan di kalangan mahasiswa. Pemetaan dan riset tersebut sudah berjalan sejak Agustus 2021. Keluarannya adalah hasil pengolahan data dan profil kawasan yang ditargetkan selesai pada Oktober.

“Di tahap akhir, kami akan menanyakan yang dibutuhkan masyarakat agar program ini berjalan secara jangka panjang,” jelasnya.

Klaster kedua adalah pembangunan lahan percontohan atau demplot. Prof Esti selaku ketua tim memaparkan, akan dibangun demplot atau tambak percontohan berjenis silvofishery atau berbasis kehutanan dan perikanan. Dua model demplot yang diajarkan kepada masyarakat adalah sistem tanam gabungan (mixed farming system) dan sistem tanam terpisah (separate farming system). Kedua model ini menjadi alternatif tambak jenis intensif yang selama ini disebut telah merusak 75.311 hektare tutupan mangrove Delta Mahakam.

“Dua demplot dibangun di Desa Sepatin dan Muara Badak Ulu. Tujuannya sebagai contoh pemanfaatan ekosistem mangrove di dalam tambak,” terang Prof Esti.  

Ia melanjutkan, ekstentifikasi tambak telah menyebabkan perubahan mendasar terhadap kondisi lingkungan di Delta Mahakam. Indikasi paling mudah adalah abrasi di pantai yang semakin parah. Lewat metode silvofishery, sambung Prof Esti, tambak dan mangrove dimungkinkan tetap ada karena konsepnya berkelanjutan.

Konsep budi daya tambak yang diusung para ilmuwan adalah smart aquaculture. Pendeknya, hasil tangkapan udang dan kepiting dalam tambak bisa diproses dan diolah secara alami. Untuk meningkatkan kualitas tangkapan, dipakai jamu ikan yang terbuat dari temu kunci (Boesenbergia pandurata), terung asam (Solanum ferox), dan lempuyang (Zingiber zerumbet).

“Budi daya udang dan kepiting di pesisir memiliki potensi ekspor yang besar. Akan tetapi, kita perlu memikirkan cara menghasilkan produk yang berkualitas dengan tetap menjaga lingkungan,” ingatnya.

Klaster ketiga adalah penguatan hukum desa. Menurut Haris Retno dari Fakultas Hukum, penguatan hukum diperlukan agar masyarakat memahami informasi dan situasi pranata hukum dalam program yang direncanakan BRGM. Program tersebut bernama Desa Peduli Mangrove. Praktiknya, terang pengajar mata kuliah Hukum Lingkungan dan Perubahan Iklim tersebut, mahasiswa S-1 dan S-2 Fakultas Hukum yang telah dilatih akan memberi pemahaman kepada masyarakat lewat training of trainers (ToT) berdasarkan modul.

Kaderisasi anak muda peduli mangrove adalah klaster keempat. Rita Diana dari Fakultas Kehutanan menjelaskan, program berbentuk kaderisasi. Fokusnya adalah mahasiswa dan pemuda desa yang memiliki kesadaran terhadap keberadaan mangrove. Satu dari materi yang akan diajarkan dalam kaderisasi adalah identifikasi jenis tanaman mangrove. Identifikasi tanaman sangat penting karena selama ini banyak program penanaman bakau yang gagal. Masalahnya, ada ketidakcocokan antara habitat dengan jenis mangrove yang ditanam.

“Kita mesti belajar dari kegagalan itu. Makanya, pemuda dan masyarakat setempat dilibatkan sehingga bisa menunjukkan langsung (jenis) tanaman yang diperlukan di situ,” jelasnya.

Ada pula pelatihan pengukuran karbon di pohon mangrove. Peserta kaderisasi akan belajar mengenali penyebab dan alasan mangrove diperlukan untuk menjaga keseimbangan iklim. Jenis pelatihan dibagi dalam lima macam pengukuran yaitu di atas permukaan tanah; di bawah permukaan tanah; di tanaman mangrove yang sudah mati; serta di tanah mangrove. Rita mengatakan, kegiatan ini dimotori oleh BRGM.

Kepala Sub Kelompok Kerja Penguatan Kelembagaan dan Kemitraan, BRGM RI, Dermawati Sihite, menjelaskan bahwa rencana aksi tim Unmul selaras dengan program Desa Peduli Gambut dan Mangrove. Program BRGM tersebut menggunakan model pendekatan pedesaan.

Dermawati menjelaskan, BRGM menargetkan penanaman 618 ribu hektare lahan kritis mangrove secara nasional sejak 2020. Sekitar 4.340 hektare di antaranya berlokasi di Kaltim.

Rencana aksi empat srikandi Unmul juga diapresiasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unmul. Dr Anton Rahmadi, kepala LPPM, mengatakan, penyelamatan Delta Mahakam sejalan dengan visi Unmul. Universitas memiliki visi berperan dan mengabdi kepada masyarakat yang bertumpu kepada sumber daya alam khususnya hutan tropis lembap dan lingkungan.

“Lebih dari itu, untuk berpartisipasi dalam program Kedai Reka memang tidak mudah. Platform ini adalah “perkawinan” antara dunia industri dan perguruan tinggi. Mewakili rektor, saya mengucapkan apresiasi dan selamat bekerja kepada tim ini,” kuncinya. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar