Lingkungan

Cara Kedai Reka Menyelamatkan sekaligus Mengangkat Potensi Ekonomi Kawasan Mangrove

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 430 Kali
Cara Kedai Reka Menyelamatkan sekaligus Mengangkat Potensi Ekonomi Kawasan Mangrove

Lokasi tambak percontohan dengan konsep silvofishery di Penajam Paser Utara. FOTO: KEDAI REKA UNMUL 2022.

Kedai Reka Matching Fund Universitas Mulawarman memasuki tahun kedua. Program tersebut berfokus di Delta Mahakam dan IKN.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
Rabu, 14 Desember 2022

kaltimkece.id Kedai Reka Matching Fund 2022 memasuki tahun kedua di Kaltim. Program pemerintah pusat melalui Universitas Mulawarman ini berfokus kepada pelestarian sekaligus peningkatan potensi ekonomi di kawasan mangrove. Dua lokasi dipilih yaitu kawasan Delta Mahakam dan Ibu Kota Negara Nusantara. 

Sebelumnya, pada 2021, Kedai Reka Matching Fund mengambil lokasi di lima desa di Delta Mahakam, Kutai Kartanegara. Lokasi kegiatan di Kecamatan Muara Badak dan Kecamatan Anggana, persisnya di Desa Muara Badak Ulu, Saliki, Salo Palai, Sepatin, Muara Pantuan.

“Sedangkan pada 2022, lokasi kegiatan bertambah di Kabupaten Penajam Paser Utara yaitu di Desa Babulu Laut, Tengin Baru, Bumi Harapan, dan Sotek,” terang Ketua Program Kedai Reka Universitas Mulawarman yang bermitra dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Prof Esti Handayani Hardi.

Tema program tahun ini adalah "Scaling Up Pengelolaan Ekosistem Mangrove Melalui Smart Silvofishery dan Pranata Hukum Desa di Delta Mahakam dan Kawasan Ibu Kota Negara". Unmul bekerja sama dengan BRGM dengan pendanaan dari Matching Fund Platform Kedai Reka Kemendikbudristek. Kegiatan unggulan dalam program ini yaitu klinik tambak, klinik hukum, klinik UMKM produk olahan mangrove dan ikan, sekolah lapang mangrove, dan tambak silvofishery. 



Tambak percontohan berkonsep silvofishery. Harmonisasi antara budi daya perikanan dengan ekosistem mangrove. FOTO: KEDAI REKA UNMUL 2022.


Empat fakultas di Unmul berkolaborasi. Tim peneliti yaitu Prof Esti Handayani Hardi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (budi daya perairan/fish health management), Dr Haris Retno dari Fakultas Hukum (hukum agraria, sumber daya alam), Kiswanto PhD dan Rita Diana MSc dari Fakultas Kehutanan (budi daya mangrove, restorasi ekosistem,  perubahan iklim), serta Yulian Andriyani MSi dan Nurul Puspita Palupi MSi dari Fakultas Pertanian (pengolahan dan rekayasa proses hasil pertanian). 

Tahun lalu, Program Kedai Reka Matching Fund 2021 terbagi dalam empat kluster kegiatan. Kluster pertama yaitu riset dan pemetaan, kluster kedua pembangunan demonstration plot (demplot) dan silvofishery, kluster ketiga memperkuat pranata hukum, dan keempat adalah kaderisasi anak muda peduli mangrove. 

“Pada tahun kedua ini, program terdiri dari lima kluster,” jelas Prof Esti. 

Kluster pertama Kedai Reka Matching Fund 2022 adalah pemetaan partisipatif dan sosial serta penyusunan profil Desa Peduli Mangrove (DPM). Kegiatannya terdiri dari pemetaan partisipatif, pelatihan dan pendampingan produk olahan mangrove dan ikan, serta pengembangan UMKM masyarakat. 



Penyusunan peta partisipatif, satu dari antara kegiatan Kedai Reka Matching Fund 2022. FOTO: KEDAI REKA UNMUL 2022.

Kluster kedua adalah pemberdayaan masyarakat. Di kluster ini, tim mendampingi, membina, dan membangun usaha masyarakat di Desa Mandiri Peduli Mangrove. Kegiatannya berupa pembangunan demplot tambak pengelolaan silvofishery dan pengelolaan produk olahan dari mangrove dan ikan. 

“Kami juga membangun klinik tambak untuk mere-desain tambak sesuai dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat. Klinik tambak ini juga memperkenalkan konsep silvofishery. Ini program unggulan kami,” terang Prof Esti.

Tim berkeliling ke tambak-tambak yang dikelola masyarakat. Melalui monitoring dan pemeriksaan kualitas air, substrab, dan pengelolaan, tim mengetahui masalah yang dihadapi masyarakat. Dari situlah, masukan untuk perbaikan dan peningkatan aktivitas tambak diperoleh. 

Kluster ketiga Kedai Reka Matching Fund 2022 adalah edukasi dan sosialisasi. Tim membuat media pembelajaran untuk memperkaya pengetahuan masyarakat dan mahasiswa. Sekolah Lapang Tambak Mandiri diadakan dengan menyelenggarakan klinik tambak, klinik mangrove, dan klinik hukum. Anak muda peduli mangrove dibentuk di sekolah ini. 



Sekolah lapang masyarakat di Desa Babulu Laut, PPU. Membangun kesadaran  mengenai terjaganya ekosistem mangrove yang bisa meningkatkan perekonomian warga. FOTO: KEDAI REKA UNMUL 2022.


“Pada intinya, kami berupaya menjaga ekosistem mangrove melalui pendekatan hukum. Selain itu, meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar mangrove dengan memberi pemahaman dalam mengelola tambak secara tradisional dan silvofishery,” urai Prof Esti. 

Kluster keempat adalah penguatan pranata hukum. Klinik hukum yang dibangun tadi akan memperkuat penyusunan Peraturan Desa Peduli Mangrove dan Penyusunan Partisipatif Rencana Aksi Sinergi Implementasi Desa Peduli Mangrove. Dari situ, disusun pembentukan peraturan turunan dari Peraturan DPM, Pembentukan Peraturan DPM di lokasi-lokasi mitra, serta penyebarluasan inisiatif peraturan DPM di level lokal, regional, dan  nasional. 

Kluster kelima yaitu sosialisasi dan publikasi. Tim mengadakan diskusi kelompok terarah (FGD), seminar hasil, dan sosialisasi. Kegiatan ini bekerja sama dengan mitra media lokal, nasional, maupun internasional. Tujuannya adalah menyebarluaskan kepada pemerintah daerah, pusat, dan masyarakat, mengenai solusi re-desain pengelolaan ekosistem mangrove dengan pendekatan silvofishery. Termasuk penguatan pranata hukum untuk mendapatkan umpan balik mengenai perbaikan ekosistem mangrove di Delta Mahakam dan IKN. 

Kerja Sama dan Mitra 

Program Kedai Reka Matching Fund ini bermitra dengan berbagai pihak. Pertama adalah BRGM RI. Beberapa kegiatan BRGM di sektor mangrove sejalan dengan Tridharma perguruan tinggi. Khususnya, peningkatan nilai kebermanfaatan dan nilai ekonomis lahan mangrove. 

Mitra kedua adalah pemerintah pusat melalui Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka. Perguruan tinggi mendapat kesempatan meningkatkan kualitas mahasiswa dan lulusan. Caranya melalui kolaborasi yang lebih erat dan akselerasi antara kampus, industri, dunia usaha, dan dunia kerja (DUDI). 



Infografik Kedai Reka Matching Fund 2022. DESAIN GRAFIK: M IMTINAN NAUVAL-KALTIMKECE.ID

Pihak ketiga yang bekerja sama dalam program ini ialah Unmul sebagai universitas terbesar di Kaltim. Perguruan tinggi ini memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan lahan mangrove untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan cara yang bijaksana. 

“Mitra terakhir yaitu pemerintah desa dan masyarakat di pesisir Delta Mahakam dan IKN,” tutup Prof Esti. (*)

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar