Lingkungan

Kabar Gembira sekaligus Menakutkan, Badak Ditemukan di Kaltim tetapi di Ambang Kepunahan

person access_time 2 years ago remove_red_eyeDikunjungi 20596 Kali
Kabar Gembira sekaligus Menakutkan, Badak Ditemukan di Kaltim tetapi di Ambang Kepunahan

Badak sumatra yang ditemukan di Kaltim pada 2015 (foto: WWF Indonesia)

Sebuah kabar gembira, sekaligus kabar menakutkan.

Ditulis Oleh: Nalendro Priambodo
19 September 2019

kaltimkece.id Binatang berkaki empat itu berjalan dengan tenang di bawah pepohonan. Badannya gemuk, kulitnya gelap. Sepasang cula mencuat di atas mulut. Di antara lebatnya rimba Kalimantan Timur, hewan yang dipastikan seekor badak tersebut menuju kolam tanah liat. Badan yang gempal itu direbahkan di kubangan berlumpur. Berguling ke kiri dan kanan hingga seluruh tubuhnya penuh lumpur.

Itulah pertama kali seekor badak di Kalimantan tertangkap mata kamera. Rekaman ini dipublikasikan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia pada 2 Oktober 2013. Badak sumatra (Diecerorhinus sumatrenis) di Kalimantan ternyata belum punah.

Keberadaan badak di Kaltim makin terang pada Oktober 2015. Kamera jebak milik WWF kembali menemukan seekor badak. Sedihnya, dari rekaman ini, badak yang berkeliaran itu diketahui terluka. Ia terjerat senar pemburu. Tim pun berupaya menyelamatkan dan mencari keberadaan badak tersebut.

Perlu berbulan-bulan menemukannya. Badak yang terkena jerat itu baru berhasil ditangkap pada Maret 2016. Ia diberi nama Najag. Kakinya yang terluka segera dirawat. Namun, Najag tak bisa bertahan hidup. Kaki kirinya yang terluka sedalam 1 sentimeter selama lima bulan berujung infeksi akut. Najag pun mati.

Beberapa waktu berselang, sebuah kamera jebak kembali menangkap video badak. Lokasinya di dekat Sungai Pahu, Kutai Barat. Tim penyelamat dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, WWF, dan beberapa organisasi nonprofit, menyusun strategi penyelamatan. Sebanyak 20 orang menembus belantara habitat badak.

Mereka memakai metode paling aman untuk menangkap badak. Sebuah lubang jebakan dibuat. Kolam lumpur di tengah hutan ini sengaja diisi air untuk menarik perhatian satwa langka ini. Badak amat menyukai air bercampur mineral lumpur untuk menutrisi kulit kerasnya. Tim memperkirakan, badak bisa ditemukan dalam sebulan. Namun, hingga purnama kedelapan, barulah binatang itu bisa diamankan. Persisnya, pada Ahad, 25 November 2018.

Badak berbobot 356 kilogram ini berjenis kelamin betina. Badak sumatra memiliki bulu paling banyak dibanding spesies badak yang lain. Panjang cula depan berkisar antara 25-80 sentimeter. Sedangkan di bagian belakang, tak lebih dari 10 sentimeter.

Setelah badak betina ini diobservasi dengan teliti, tim membawanya ke rumah baru. Hewan tersebut diangkut di dalam kandang melewati jalur darat yang membelah rimba Bumi Etam. Ia dibawa ke tengah hutan Kaltim yang lokasi persisnya tak bisa disebutkan demi alasan keamanan. Di rumah barunya itu, tim dokter bersiaga 24 jam.

“Tim penyelamat menghabiskan delapan bulan penuh untuk menyelamatkan badak tersebut. Mayoritas anggota tim harus tinggal di hutan. Mereka berpisah sementara dari keluarga,” kata Kurnia Oktavia Hariani, National Rhino Coordinator WWF Indonesia, kepada kaltimkece.id, Kamis, 12 September 2019.

Tentang Badak Sumatra

Penemuan badak sumatra di Kalimantan makin memperkuat teori Paparan Sunda. Kurang dari 20 ribu tahun lalu, Asia Tenggara adalah satu daratan dengan keberadaan “jembatan tanah” di permukaan laut. Sejumlah pulau yang kini terpisah dulunya disatukan oleh jembatan ini. Disebut Kepulauan Sunda Besar yang terdiri dari Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Sebagian daratan yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara, seperti Vietnam dan sekitarnya, juga termasuk.  

“Jembatan tanah” ini tenggelam pada akhir zaman es. Salah satu penguat teori ini adalah kesamaan satwa dan tumbuhan di wilayah tersebut. Badak ditemukan di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Demikian halnya gajah, macan, termasuk orangutan. Badak sumatra juga diketahui sempat hidup di Vietnam dan Malaysia sebelum dinyatakan punah pada 2011.

“Jembatan tanah” ini pula yang membuat flora dan fauna di Kalimantan, Jawa, dan Sumatra, sangat berbeda dengan kawasan timur Indonesia seperti Sulawesi, Maluku, hingga Papua --dulunya bagian Benua Australia. Batas antara keduanya, yakni di antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi, diberi garis imajiner yang disebut garis Wallace. Di sebelah barat disebut zona ekologi Indomalaya, di timur dinamakan Australasia.

Adapun populasi badak sumatra, diketahui tersebar di berbagai titik di zona Indomalaya. Pada 2012, ditemukan tujuh individu di Taman Nasional Gunung Lauser, Aceh. Diperkirakan, 20-25 individu teridentifikasi di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Ada pula 20-30 ekor di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Sementara di sebuah hutan di Kaltim, diperkirakan hanya 6-15 ekor badak (Distribution of the Sumatran Rhino, dokumen pdf, 2017).

Populasi badak sumatra pun diperkirakan kurang dari 100 ekor di dunia.  Dengan angka sedemikian, badak sumatra dinyatakan sebagai satwa langka. Ia dikategorikan kritis dan terancam punah menurut organisasi konservasi dunia, International Union for Conservation of Nature (IUCN). Kategori ini hanya dua level menjelang punah.

“Populasi di Kaltim di bawah 16, tak sampai 10 individu. Yang terpantau kamera baru tiga individu,” jelas Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, Sunandar Trigunajasa, Rabu, 11 September 2019. Sunandar mengatakan, perubahan alih fungsi lahan di habitat badak sumatra berpengaruh besar terhadap populasi. Habitat badak di Kalimantan disebut berdampingan dengan industri perkayuan, kelapa sawit, maupun tambang batu bara.

"Ketika hutan berkurang, alam akhirnya mengalah," kata Nandar, sapaan dekatnya.

Meskipun isu perburuan badak di Kalimantan belum pernah terdengar, BKSDA tetap mewaspadainya. Berkaca kepada kepunahan badak di berbagai negara, pemburu badak selalu mengincar cula. Organ ini dipercaya memiliki banyak khasiat bagi tubuh manusia.

Sebenarnya berbagai penelitian ilmiah berkata sebaliknya. Cula badak yang mengandung keratin, senyawa seperti kuku manusia, tak memiliki khasiat penyembuhan apapun (Ethnopharmacolgy of Rhinoceros Horn II: Antipytric Effect of Prescription Containing Rhinoceros Horn or Water Buffalo Horn, 1991).

Upaya Penyelamatan

Selain habitat yang terjepit aktivitas manusia, populasi badak sumatra di Kalimantan memiliki ancaman lain. Sampai sekarang, belum ditemukan pejantan badak di Kalimantan untuk pengembangbiakan alami.

“Selama ini, yang kami identifikasi masih badak betina. Belum ditemukan yang jantan. Mungkin masih ada (badak jantan lainnya),” kata Kurnia dari WWF yang juga seorang dokter hewan.

Tim berupaya mengawinkan badak secara alamiah. Lewat penelitian genetik lebih lanjut, diupayakan pembuahan buatan dengan badak sumatra yang lain. Memang belum ada contoh keberhasilan inseminasi buatan badak di Indonesia. Namun, lanjut Kurnia, peluang itu masih terbuka. Cara itu sukses di India.

Upaya pengembangbiakan tersebut akan berlangsung di sebuah suaka badak seluas 6.700 hektare. Lokasi ini Kaltim. Nantinya, suaka ini dijadikan pusat pengembangbiakan badak sumatra di Kalimantan. Sejalan dengan aksi darurat pemerintah menyelamatkan badak dari ancaman kepunahan seperti di negeri jiran. Rencana ini harus berhasil. Jika gagal, maka badak di Kalimantan hanya menjadi kisah yang tertinggal. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar