Lingkungan

Kalimantan yang Sudah Diguncang 42 Kali Gempa

person access_time 4 months ago remove_red_eyeDikunjungi 5321 Kali
Kalimantan yang Sudah Diguncang 42 Kali Gempa

Kalimantan beberapa kali dilanda gempa (ilustrasi: Danoo).

Tanah Kalimantan sempat beberapa kali bergetar karena gempa. Meskipun relatif aman, tak boleh hilang waspada. 

Ditulis Oleh: Arditya Abdul Azis
09 Agustus 2018

kaltimkece.id Ketika sebagian besar kepulauan Indonesia akrab dengan gempa bumi, Kalimantan disebut sebagai wilayah yang paling aman. Pada kenyataannya, pulau di tengah-tengah Nusantara ini telah berkali-kali diguncang gempa. 

Menukil catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Samarinda, gempa bumi terbaru melanda Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, pada 3 Mei 2018. Kekuatan gempa 4,5 skala Richter. Gempa berpusat di 1’96 lintang selatan dan 115’83 bujur timur, sekitar 29 kilometer arah barat daya Paser, dengan kedalaman 10 kilometer.

Dua bulan sebelumnya, pada 27 Maret 2018, gempa jenis tektonik yang lain melanda Bontang, juga di Kalimantan Timur. Berkekuatan 3,8 skala Richter, jantung gempa terdapat di 1’01 lintang utara dan 118’20 bujur timur atau sekitar 127 kilometer arah timur laut Bontang. Samarinda juga tidak lepas dari gangguan gempa. Pada 10 Januari 2017, ibu kota Kaltim tersebut terpapar meskipun guncangannya tidak terasa. Gempa pada Selasa siang itu adalah dampak dari gempa Laut Sulawesi yang berkekuatan 7,3 skala Richter. 

Adapun Tarakan, Kalimantan Utara, adalah wilayah yang diguncang gempa terbesar se-Kalimantan. Pada 21 Desember 2015, Pulau Tarakan goyang karena gempa 6,1 skala Richter. 

Jenis Gempa Kalimantan

Menurut penyebabnya, gempa bumi terdiri dari tiga jenis yaitu gempa bumi vulkanik, tektonik, dan runtuhan. Gempa bumi vulkanik, sesuai namanya, terjadi karena aktivitas vulkanis seperti erupsi gunung berapi. Sementara itu, gempa bumi tektonik disebabkan pergeseran kulit bumi. Jenis gempa terakhir adalah runtuhan, gempa yang disebabkan runtuhan bebatuan (Meteorologi Indonesia Volume II, 2006, hlm 12).

Gempa yang paling banyak mengguncang Indonesia adalah gempa tektonik. Gempa ini disebabkan pergerakan pecahan kulit bumi. Kulit bumi atau litosfer terbentuk dari lapisan batuan yang relatif sangat tipis. Lapisan itu mudah pecah menjadi potongan kulit bumi yang tidak beraturan dan disebut lempeng tektonik. Lempengan ini akan bergerak karena pengaruh arus konveksi dari lapisan di bawahnya (Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta, 2007, hlm 60)

Ketika lempeng-lempeng tektonik itu saling bertemu, bertabrakan, atau berpisah, yang selanjutnya hadir adalah patahan dan gempa. Wilayah Indonesia yang menjadi pertemuan tiga lempeng akhirnya rawan terhadap bencana alam ini. Ketiga jalur lempeng tersebut adalah Lempeng Pasifik, Indo-Australia, dan Eurasia. Perjumpaan lempeng Eurasia dan Pasifik membujur di utara Papua hingga Maluku Utara. Lempeng Eurasia dan Indo-Australia membentang dari sebelah barat Sumatra, selatan Pulau Jawa, nusa tenggara, hingga Laut Banda. (Penentuan Seismisitas dan Tingkat Risiko Gempa Bumi, 2013, hlm 2). 

Ketiga jalur lempeng itu tidak melintasi Kalimantan sehingga pulau ini cenderung aman dari gempa. Kalimantan juga tidak dilewati sabuk vulkanik aktif, dan karenanya, tidak ada gunung berapi aktif sebagai penyebab gempa vulkanik. Namun demikian, bukan berarti pulau terbesar ketiga di dunia ini aman dari guncangan. Sejumlah gempa di Kalimantan telah dicatat BMKG dalam beberapa tahun terakhir. Uniknya, seluruh gempa yang melanda Kalimantan justru berjenis tektonik, yang ditimbulkan dari pergerakan lempengan bumi. 

Kepada kaltimkece.id, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Samarinda, Sutrisno, memaparkan penjelasannya. Seluruh gempa bumi di pulau ini, jelasnya, disebabkan kondisi tektonik di sebelah timur Kalimantan yang cukup kompleks. Gempa di Kaltara, kawasan yang paling rawan gempa se-Kalimantan, disebabkan sesar atau patahan yang mengalami penurunan. Struktur patahan bergerak mendatar atau strike-slip fault. 

Jenis patahan mendatar ini berbeda dengan tumbukan atau merengkahnya lempengan antarbenua. Di pertemuan tiga jalur lempeng di Indonesia, struktur patahan berbentuk reserve atau sesar naik. Patahan jenis ini pula yang menyebabkan gempa berskala 7 Skala Richter di Nusa Tenggara Barat, Minggu, 5 Agustus 2018. 

Baca juga: Ketika Tanah Lunak, Tak Ada Flyover yang Tak Retak

Patahan Kalimantan berbeda. Ia cenderung mendatar sehingga kekuatan gempa relatif kecil dan tanpa risiko tsunami. Kerawanan gempa di Kalimantan pun berkurang. Menurut BMKG, dari tahun 1980 hingga 2013, Pulau Kalimantan hanya 42 kali diguncang gempa. Bandingkan dengan Sumatra, sebanyak 8.550 kali gempa pada periode yang sama.

“Kalimantan lebih banyak terkena dampak gempa dari Sulawesi dan Filipina,” kata Sutrisno. Gempa berasal dari aktivitas kerak dangkal atau shallow crustal earthquake. Pusat gempa atau hiposentrum yang berjenis dangkal, di bawah 70 kilometer, biasanya berkekuatan kecil. 

Waspada walau Stabil

Dibanding lima provinsi, Kalimantan Utara lebih rawan kedatangan gempa di Kalimantan. Nunukan, Tarakan, dan sekitarnya, secara tektonik diapit tiga sistem sesar mendatar. Di sebelah selatan Kaltara, dua sistem sesar (patahan) berarah barat daya-tenggara yaitu Sesar Mangkalihat dan Sesar Maratua. 

Sesar Mangkalihat merupakan kelanjutan dari Sesar Palu-Koro yang melintas dekat Tanjung Redeb, Berau. Adapun Sesar Maratua, berujung di laut yang berdekatan dengan Tanjung Selor, Bulungan. Di sebelah utara Pulau Tarakan juga terdapat zona Sesar Sempurna yang melintas dari Laut Sulawesi hingga Sabah, Malaysia. 

Kehadiran patahan atau sesar itu berpotensi menimbulkan gempa. Ketika sesar bergerak, energi yang mengguncangkan bumi akan tercipta. “Namun demikian, hingga saat ini, kami belum dapat memastikan struktur sesar mana yang membangkitkan gempa bumi di Kalimantan,” jelas Sutrisno dari BMKG Stasiun Samarinda. 

Sutrisno membenarkan bahwa kerawanan gempa di Kalimantan lebih rendah, sebagaimana di timur Sumatra seperti Riau. Meski demikian, tidak ada satu tempat di muka bumi yang bisa disebut aman seratus persen dari gempa.  “Aman itu relatif. Lebih tepat, Kalimantan disebut stabil,” terang Sutrisno. Dan seaman apapun wilayah dari gempa, ingatnya, waspada tetap harus dijaga. (*) 

Editor: Fel GM
Senarai Kepustakaan
  • Tjasyono H.K, Bayong. 2006. Meteorologi Indonesia Volume II. Jakarta: Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta 
  • Hartono, 2007. Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta. Bandung: Citra Praya.
  • Sili, Petrus Demon, 2013. Penentuan Seismisitas dan Tingkat Risiko Gempa Bumi. Malang: Universitas Brawijaya Press. 

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar