Lingkungan

Kematian Penyu di Sangasanga, Pertolongan yang Terlambat

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 286 Kali
Kematian Penyu di Sangasanga, Pertolongan yang Terlambat

Foto:Facebook

Penyu jenis tempayan ditemukan di Sungai Mahakam sisi Sangasanga. Bertahan tiga hari sebelum mengembuskan napas terakhir.

Ditulis Oleh: Ika Prida Rahmi
07 Januari 2019

kaltimkece.id Menjadi rutinitas bagi Yusuf, 45 tahun, menikmati pagi di dermaga tepi Sungai Mahakam sisi Sangasanga. Kapal dan perahu hilir mudik menjadi tontonan. Tapi pada hari pertama 2019, tontonan yang muncul malah tak lazim.

Selasa, 1 Januari 2019, Yusuf kembali menjalankan rutinitas itu di Gang Nelayan, Kelurahan Sangasanga Dalam, Sangasanga, Kutai Kartanegara. Tak begitu jauh, keponakannya bernama Dewi Astuti duduk di teras rumah, cukup dekat dari tepi sungai.

Hampir dua jam Yusuf di dermaga. Matanya yang semula menatap sungai, teralihkan penampakan serupa tempurung kura-kura. Terapung di sela-sela kapal nelayan yang sandar.

Dari jauh bentuknya terlihat sangat besar. Warnanya hijau dan bergerak pelan. Sepintas seperti melawan arus. Di lingkungan sungai, pemandangan ini tampak tak lazim. Yusuf jadi penasaran.

Ia lalu berdiri dari tempatnya. Dari jauh, Dewi ikut penasaran pamannya mengendap-endap. Yusuf mendekati penampakan itu dengan perlahan. Pelan-pelan juga ia menaiki kapal yang sandar, hingga sampai tepat di atas tempurung tersebut.

Objek asing itu tak berpindah. Padahal, pergerakan Yusuf menimbulkan suara dan gelombang di permukaan air. Bahkan, dengan gampangnya Yusuf mengangkat sebagian tempurung itu.

Begitu terkejut ketika tampak bagian kepala dan tangan yang melengkung. "Penyu!" teriak Yusuf. Dewi ikut kaget. Hewan di tangan pamannya tak lazim berada di sungai.

Warga seketika berdatangan. Semua heran. Tak habis pikir binatang laut bisa ditemukan di sungai. Yusuf dibantu warga mengangkat penyu tersebut ke dermaga. "Saat diangkat penyu itu diam saja seperti kelelahan," kata Dewi Astuti, 24 tahun.

"Sepertinya tersangkut jaring. Mungkin ada yang habis pergi ke laut, entah nyangkut di jaringnya, terus lepas di sini."

Besar tubuh penyu sekitar satu meter. Beratnya diperkirakan 250 kilogram. Diperlukan sampai tiga orang untuk mengangkat satwa lindung itu."Katanya sih penyu hijau, karena warnanya hijau. Sepertinya sudah tua," tambah Dewi.

Kondisi penyu tampak memprihatinkan. Saat diamankan, gelagatnya sudah lemas. Ada sejumlah luka di tubuhnya. Termasuk bagian kepala yang terluka cukup dalam. Di sisi leher tampak bekas lilitan tali. "Entah bekas dicatuk (dipukul) orang. Ada aliran darah juga mengalir. Di ekornya kayak ada daging. Sepertinya penyu habis bertelur," urainya.

Penyu yang ditemukan Yusuf tak lama mencuat di media sosial. Ratusan akun berkomentar. Beberapa meneruskan unggahan itu ke akun Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Kaltim. "Banyak yang tag (akun BKSDA) karena kami enggak punya nomor teleponnya. Cuma enggak ada tanggapan," ungkap Dewi.

Penyu tampak sekarat. Warga kadung khawatir. Penduduk setempat sangat awam dengan hewan tersebut. "Kasihan kami lihat. Penyu sudah lemas betul beberapa hari itu. Kami kasih makan, mau saja makan dikasih ikan."

Warga sempat berencana melepaskan penyu ke laut. Namun, jarak dari Sangasanga ke laut sangat jauh. Alternatifnya adalah menitipkan kepada warga nelayan yang biasa melaut. Sayangnya, ombak besar akhir-akhir ini membuat aktivitas nelayan terhenti. Penyu terpaksa berdiam dekat tepi sungai. Warga bergantian merawat dan memberikan ikan untuk dimakan.

"Rencananya sempat mau kami lepaskan ke sungai. Tapi kasihan karena sudah lemas sekali. Takutnya nanti mati enggak ketahuan. Jadi ditaruh di bawah batang sambil menunggu orang pergi ke laut," ungkap Dewi.

Namun, semakin hari penyu tampak tak sehat. Nyawanya pun tak tertolong setelah empat hari ditemukan. Warga berinisiatif mengubur hewan langka itu.

Sehari setelah dikuburkan, warga kedatangan petugas yang mengecek kebenaran temuan penyu. Tak diketahui dari instansi mana. Dewi terlanjur kecewa. Respons pihak berwenang datang terlambat.

"Alasannya orang (petugas) itu katanya sudah datang, cuma waktu ditanya sama anak-anak, dibilang sudah dilepas. Namanya anak-anak, ya, asal jawab. Saya kecewanya, kenapa baru datangnya pas sudah mati," sesal Dewi.

Baca juga:
 

Kepala BKSDA Kaltim Sunandar yang dikonfirmasi pada Jumat 4 Januari 2018, membenarkan pihaknya telah mendatangi lokasi penemuan penyu. Ketika ditemui kaltimkece.id, ia baru menerima telepon bawahannya. Dari sambungan seluler itu, disebutkan jika penyu yang diamankan warga telah dievakuasi. Petugas BKSDA Kaltim diklaim telah melepaskan penyu ke laut lepas.

"Penyu sudah dilepaskan ke laut. Ini sudah saya perintahkan untuk buat laporan. Nanti saya sampaikan hasil laporannya kalau sudah selesai, terkait lokasi ditemukan penyu, jenisnya, dan lokasi dilepaskanya," sebut Sunandar.

Menurut pengamatan Bayu Sandi, direktur Yayasan Penyu Indonesia, spesies yang ditemukan warga Sangasanga adalah penyu jenis tempayan. Di laut Indonesia, spesies ini terdapat di perairan Sulawesi dan Sumatera.

Memiliki nama ilmiah Caretta caretta, penyu tempayan adalah penyu bercangkang keras terbesar di dunia. Spesies ini juga penyu terbesar kedua setelah penyu belimbing. Tempayan dewasa bisa memiliki berat rata-rata 80 sampai 200 kilogram, rata-rata sekitar 135 kilogram. Kisaran panjangnya 70 sampai 95 sentimeter garis lurus. Berat maksimum mencapai 545 kilogram dan panjang maksimum diperkirakan 213 sentimeter (Turtles of the United States and Canada, 2009).

Spesies ini memiliki khas kepala dan cangkang atas berwarna kuning-jingga hingga cokelat kemerahan. Bagian bawahnya atau plastron biasa berwarna kuning pucat. Leher dan bagian samping berwarna cokelat di sisi atas dan kuning di sisi bawah (Loggerhead Turtle (Caretta caretta), 2003).

Penyu tempayan menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut terbuka. Juga di perairan pantai yang dangkal. Spesies ini jarang muncul ke darat, kecuali para betina ketika membangun sarang atau menyimpan telur. Ketika air laut dingin, tempayan bermigrasi ke daerah yang lebih hangat. Atau, melakukan hibernasi sampai pada taraf waktu tertentu (Sea Turtles: A Complete Guide to their Biology, Behavior, and Conservation, 2004).

Penyu tempayan digolongkan spesies rentan oleh International Union for the Convervation of Nature. Perangkap ikan yang tak bersahabat, berkontribusi besar terhadap banyak kematian tempayan di dunia. Penyu bakal mati lemas ketika terjebak pukat ikan. Berkurangnya kriteria pantai yang cocok, seiring kehadiran para predator, juga berdampak terhadap populasi tempayan saat ini. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

 

Senarai Kepustakaan:
  • Ernst, CH; Lovich, JE. 2009. Turtles of the United States and Canada (edisi kedua). JHU Press
  • Bolten, AB. 2003. "Loggerhead Turtle (Caretta caretta)". NOAA Fisheries
  • Spotila, James R. 2004. Sea Turtles: A Complete Guide to their Biology, Behavior, and Conservation. Baltimore, Maryland: The Johns Hopkins University Press and Oakwood Arts.

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar