Lingkungan

Lebih Detail tentang Bencana Asap, Langit Kalimantan dan Sumatra Terpekat di Dunia

person access_time 2 years ago remove_red_eyeDikunjungi 3350 Kali
Lebih Detail tentang Bencana Asap, Langit Kalimantan dan Sumatra Terpekat di Dunia

Konsentrasi aerosol pada 16 September 2019 (windy.com)

Bencana kabut asap kembali melanda. Berbagai indikator menunjukkan tingkat keparahannya.

Ditulis Oleh: Fel GM
16 September 2019

kaltimkece.id Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatra benar-benar parah. Citra yang paling nampak adalah menurunnya kualitas udara di sekitar kedua pulau, selain hutan dan lahan yang hangus. Pekatnya langit Kalimantan dan Sumatra tergambar jelas dari tiga indikator. Ketiga pertanda itu adalah kadar CO, PM2.5, dan aerosol.

kaltimkece.id menggunakan fasilitas aplikasi Windy untuk menyigi kualitas udara akibat kabut asap. Windy adalah perangkat lunak bikinan perusahaan Republik Ceko. Aplikasi ini mengombinasikan tiga model data cuaca dari tiga benua. Dilengkapi pula dengan informasi dari citra satelit. Dari pemetaan angkasa, konsentrasi kepekatan udara pada Senin, 16 September 2019, terkonsentrasi di Indonesia. Persisnya, Kalimantan dan Sumatra. Tidak satu pun titik di seluruh dunia yang kondisi udaranya lebih jenuh dari Indonesia.

Karbonmonoksida atau CO adalah indikator pertama. CO dihasilkan dari senyawa karbon yang terbakar tak sempurna. Senyawa ini terbentuk apabila proses pembakaran kekurangan oksigen. Karbonmonoksida juga membawa sifat racun. Indikator ini biasanya dipakai untuk mengukur polusi udara yang disebabkan asap kendaraan bermotor di suatu daerah.

Konsentrasi dengan CO tertinggi di Indonesia, dan juga dunia, adalah Jambi. Di provinsi ini, kadar CO menembus 3.570 ppbv (part per billion by volume atau bagian per semiliar). Kejenuhan CO di Jambi mencapai 50 kali lipat dibanding Manado, Sulawesi Utara, yang bebas dari kabut asap. Dua kota lain di Sumatra yang juga pekat akan CO adalah sekitar Pekanbaru (724 ppbv) dan Palembang (637 ppbv). Kadar CO di kedua kota ini bersaing dengan Tiongkok yaitu 639 ppbv. Kualitas udara Tiongkok memang dikenal buruk karena polusi dari aktivitas industri.

Di Kalimantan, konsentrasi CO tertinggi ditemukan di Ketapang, Kalimantan Barat. Kadar CO di sini mencapai 1.990 ppbv. Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, di posisi kedua dengan 1.726 ppbv. Sementara di wilayah Kaltim, konsentrasi CO tertinggi didapati di wilayah Berau dengan 631 ppbv serta Kutai Barat (592 ppbv). Untuk Samarinda, konsentrasi CO terbilang rendah yaitu 135 ppbv. Sedangkan kadar CO Balikpapan adalah 132 ppbv. Berikut citra konsentrasi CO di Indonesia.

Indikator kedua kualitas udara yang disediakan Windy adalah aerosol. Definisi aerosol adalah partikel halus dari jenis zat padat maupun cairan yang ditemukan di dalam udara. Contoh fisik aerosol adalah asap dan kabut. Keberadaan aerosol di atmosfer membuat cahaya terserap atau terhambur. Banyaknya cahaya yang terhambur atau terserap itulah yang diukur untuk menentukan keberadaan aerosol. Pengukuran menggunakan satelit yang menerima data transmisi cahaya matahari. 

Semakin banyak cahaya yang terhambur, berarti keberadaan awan, asap, atau kabut semakin pekat. Besarnya pengaruh aerosol terhadap radiasi dinyatakan dalam aerosol optical depth atau AOD (Validasi Data Aerosol Optical Depth Produk Satelit Suomi NPP–VIIRS di Wilayah Indonesia, Jurnal, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, 2015).

Di Kalimantan, kepekatan aerosol tertinggi ditemukan di Ketapang, Kalbar, dengan 5,40 AOD. Diikuti Banjarmasin, Kalsel, dengan 3,84 AOD. Kaltim tidak sepekat itu. Di Samarinda, kadar aerosol adalah 1,84 AOD, sementara Balikpapan 0,84 AOD. Sebagai perbandingan, kadar aerosol di Sulawesi Tenggara yang tidak terdampak kabut asap hanya 0,18 AOD.

Kondisi yang jauh mengerikan adalah Jambi. Di provinsi ini, aerosol tercatat di level 23,5 AOD. Ini berarti, kabut asap di Jambi nyaris lima kali lipat dari Kalbar, atau 230 kali lebih pekat dari udara di Sultra. Sama seperti CO, konsentrasi aerosol di Sumatra dan Kalimantan adalah yang tertinggi di dunia. Berikut citra konsentrasi aerosol di dunia.

Indikator ketiga disebut PM2.5. Partikulat PM2.5 adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer). Saking kecilnya, partikel ini dapat menembus masker dan menjadi sumber penyakit (Informasi Konsentrasi Partikulat PM2.5, BMKG). PM2.5 ditemukan dalam polusi asap kendaraan bermotor, termasuk pembakaran kayu, minyak, batu bara, maupun kebakaran hutan dan padang rumput.

Selaras dengan CO dan aerosol, PM2.5 terkonsentrasi di wilayah tengah Sumatra dan barat-selatan Kalimantan. Masih di sekitar Jambi, kadar PM2.5 tercatat 316 mikrogram per meter kubik (µg/m3). Di Kalimantan Barat, 289 µg/m3. Sementara di Kaltim, kepekatan PM2.5 tertinggi adalah Berau dengan 73 µg/m3. Berikut citra konsentrasi PM2.5 di Indonesia.

Faktor Angin

Penyebab pekatnya kabut asap di Kaltim adalah arah angin yang datang dari Kalteng, Kalsel, dan Kalbar. Kabut asap di Bumi Etam makin parah bila angin dari selatan dan tenggara ini mendapat bantuan angin dari barat daya. Hal itu dikemukakan Sutrisno, prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda.

Saat ini, kata Sutrisno, telah datang angin dari barat daya. Yang berarti, kabut asap dari Kalteng lebih dominan di langit Kaltim. “Kemarin masih angin tenggara-selatan. Sekarang sudah bervariasi sehingga kepekatan asap semakin parah," ungkapnya.

Selain kiriman tetangga, kabut asap diperparah kebakaran hutan di Kaltim beberapa hari belakangan. BMKG Samarinda mencatat, pada Senin, 16 September 2019, terpantau 221 titik panas di Kaltim. Titik panas kategori warna merah 81-100 persen tersebar di 10 kabupaten/kota di Kaltim. Demikian citra dari empat satelit yakni Aqua, Terra, SNPP, dan NOAA 20. Seluruh titik dipastikan kebakaran hutan dan lahan. Titik panas ini terpantau di Paser (50 titik), Bontang (5), Kukar (53), Berau (58), Mahakam Ulu (8), Kubar (12), Kutai Timur (26), dan Samarinda (8).

Rawan Penyakit

Kabut asap membuat sekitar 3,5 juta penduduk Kaltim rawan terserang penyakit. Paling rentan menyerang adalah infeksi saluran pernafasan akut atau ISPA. Penyakit yang menyerang saluran napas ini sangat berbahaya bagi anak usia di bawah lima tahun. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2007-2011 menyebutkan, 18 juta penduduk Indonesia dilaporkan memiliki prevalensi penyakit ini.

ISPA bisa menimpa semua kelompok umur. Tanda-tandanya adalah batuk hingga kesulitan bernapas berujung pada kematian. Orang yang menderita pneumonia (pembengkakan paru) akan lebih sulit ditolong ketika diserang ISPA. Asap pekat yang dihirup juga rawan mengundang asma, iritasi mata, hingga alergi.

"Ketika ISPA muncul, itulah tanda-tanda kabut asap mulai berbahaya. Mata akan mulai perih. Itu paling sering. Kebanyakan juga batuk pilek karena dehidrasi," jelas dr Arysia Andhina, Humas RSUD AW Syahranie, Samarinda, kepada kaltimkece.id.

Dokter yang akrab dipanggil Sisi ini memberikan beberapa saran. Warga sebisa mungkin mengurangi aktivitas di luar rumah. Apalagi membawa bayi atau anak-anak di luar ruangan, sebaiknya dihindari. Bagi orang dewasa, pencegahan dini penyebaran penyakit saat kabut asap bisa dengan memakai masker dobel. Bagi pengendara roda dua, sebaiknya memakai kacamata atau menutup kaca helm.

Yang tak kalah penting, sambungnya, selepas bepergian jangan bersentuhan dengan balita. Dahulukan mencuci tangan dan muka. Bakteri dan virus dari kabut asap mudah menjangkiti balita. Di samping itu, dalam kondisi seperti sekarang, hindari kebiasaan menjemur bayi berusia 0 hingga 1 bulan di bawah sinar matahari. Bayi yang terpapar kabut asap sangat rentan terkena penyakit pernapasan. (*)

Dilengkapi oleh: Arditya Abdul Azis

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar