Lingkungan

Menatap Masa Depan Bumi yang Terang-Benderang melalui Pembangkit Listrik di Muara Enggelam

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 518 Kali
Menatap Masa Depan Bumi yang Terang-Benderang melalui Pembangkit Listrik di Muara Enggelam

Suasana sore di PLTS komunal di Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara. FOTO: SURYA ADITYA-KALTIMKECE.ID

Energi bersih dan terbarukan adalah masa depan bagi bumi. Sekelompok orang di pelosok Kaltim sudah merasakannya.

Ditulis Oleh: Surya Aditya
Jum'at, 30 Desember 2022

kaltimkece.id Air mata Ramsyah nyaris tumpah ketika Pembangkit Listrik Tenaga Surya komunal di desanya diresmikan pada 15 Maret 2016. Bagi pria berusia 48 tahun itu, kehadiran setrum merupakan gerbang bagi warga desa menuju peradaban yang lebih baik. Aliran listrik akan melepas belenggu keterbatasan yang mengungkung mereka puluhan tahun lamanya.

Ramsyah tinggal di sebuah permukiman mungil bernama Desa Muara Enggelam di Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara. Desa itu berdiri nun jauh di tengah Danau Melintang, sekitar 93 kilometer dari ibu kota Kalimantan Timur. Mayoritas warga hidup dari mencari ikan atau menanam padi di atas air dengan teknik apung. Seluruh wilayah desa memang hamparan air. Tak ada secuil daratan pun di sana.

“Membentangkan kabel di atas air terlalu berbahaya. Itu sebabnya, puluhan tahun desa ini tidak pernah menikmati aliran listrik dari PLN,” tutur Ramsyah kepada kaltimkece.id, Senin, 26 Desember 2022.

Desa Muara Enggelam berdiri di tengah Danau Melintang. Pada musim air pasang, tinggi airnya mencapai 12 meter. FOTO: SURYA ADITYA-KALTIMKECE.ID

Desa Muara Enggelam dihuni 170 jiwa dari 110 kepala keluarga sebagaimana catatan pemerintah desa pada 2019. Sebelum PLTS komunal beroperasi, penduduk memperoleh setrum dari empat generator set berbahan bakar solar. Mesin-mesin bantuan Pemkab Kukar tersebut dikelola empat ketua RT. Setiap kepala keluarga kemudian membayar iuran untuk membeli bahan bakar dan biaya perawatannya.

Kemampuan mesin pembangkit listrik mini terbatas. Genset hanya beroperasi 12 jam sehari dari pukul enam petang sampai pukul enam pagi. Mesin-mesin itu sering rewel. Kalau sudah rusak, bisa berhari-hari memperbaikinya. Belum lagi ketika ada warga yang menunggak bayar iuran. Mesin terpaksa dimatikan pukul 12 malam karena bahan bakarnya tidak cukup.

Satu mesin genset memerlukan solar 15 liter atau Rp 67.500 supaya bisa menyala selama 12 jam. Setiap kepala keluarga harus membayar iuran Rp 10 ribu per hari atau Rp 300 ribu per bulan. Mahal sekali untuk menikmati listrik selama setengah hari. Masalah yang lain, genset menghasilkan polusi. Raungan mesin bergemuruh sepanjang malam. Asap hitam pekat juga menyelimuti udara desa.

Asa mengakhiri masalah tersebut datang pada akhir 2014. Sebanyak 150 unit panel surya beserta regulator dan baterainya tiba di Desa Muara Enggelam. Warga desa menyambut bantuan senilai Rp 4 miliar dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tersebut. Mereka bergotong-royong membangun wadah PLTS di timur laut Desa Muara Enggelam.

Wadah itu didesain seperti panggung di atas air. Tingginya sejajar dengan rumah-rumah di sana yaitu sekitar 15 meter. Lebar dan panjang penampung PLTS kira-kira 20 meter x 20 meter. Tiang maupun lantainya terbuat dari kayu ulin sementara sekelilingnya diberi pagar besi. Ruangan kecil untuk menyimpan baterai dan regulator juga dibangun di situ.

“Kami menyebutnya ruang kontrol,” sebut Ramsyah yang sudah belasan tahun mendiami Muara Enggelam.

Baterai-baterai di ruang kontrol berfungsi menyimpan listrik dari panel surya. FOTO: SURYA ADITYA-KALTIMKECE.ID

Seperangkat panel surya dirakit di wadah tersebut. Panel surya merupakan gabungan dari beberapa sel surya. Ukurannya kecil dan tipis baik secara seri, paralel, ataupun campuran (seri dan paralel). Penggabungan ini akan menghasilkan arus dan tegangan yang besar (Analisis Desain Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Kapasitas 50 WP, 2016, hlm 3).

Prinsip kerja panel surya sebenarnya sederhana. Panel ini mengubah energi matahari menjadi energi listrik. Ketika cahaya matahari menyentuh panel surya, elektron-elektron di sel surya akan bergerak. Pergerakan ini menghasilkan arus listrik searah (DC). Besaran energi listrik yang dihasilkan akan berbeda-beda bergantung jumlah sel surya yang dikombinasikan.

Energi listrik panel surya juga dapat digunakan pada malam hari. Caranya dengan menyimpan keluaran listrik secara otomatis di baterai melalui regulator. Regulator ini juga berfungsi mengamankan terjadinya kelebihan beban sehingga panel surya tidak cepat rusak. Setelah itu, listrik dihubungkan ke sebuah rangkaian elektronik bernama inverter DC-AC. Arus listrik searah tadi diubah menjadi arus listrik bolak-balik (AC) supaya dapat dipakai di berbagai perkakas elektronik (hlm 4).

Ramsyah menyebutkan, PLTS komunal di Desa Muara Enggelam awalnya menghasilkan listrik sebesar 30 kilowatt peak (kWp). Setelah perangkat panel ditambah, PLTS kini menghasilkan listrik sebesar 42 kWp. Listrik tersebut dikirim ke 160 rumah dan delapan fasilitas umum seperti masjid, penerangan jalan, puskesmas, dan sekolah.

“Sejak PLTS berdiri, kami menikmati listrik selama 24 jam dengan harga yang murah,” jelasnya.

Dari ruang kontrol, listrik hasil produksi panel surya didistribusikan ke rumah-rumah warga Desa Muara Enggelam. FOTO: SURYA ADITYA-KALTIMKECE.ID

Kehadiran PLTS turut meningkatkan kesejahteraan warga Desa Muara Enggelam. Dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bersinar Desaku, pembangkit menghasilkan listrik yang dijual murah-meriah. Konsumsi listrik setiap rumah di Desa Muara Enggelam berbeda-beda. Ada yang 300 watt, ada pula 600 watt.

Tarif listrik berkapasitas 300 watt adalah Rp 3 ribu per hari, sedangkan untuk 600 watt dua kali lipatnya. Warga membayar iuran listrik per 10 hari. Satu rumah pun hanya perlu mengeluarkan Rp 90 ribu sampai 180 ribu sebulan. Jauh lebih murah dibanding zaman ‘peradaban genset’. Sebelum kehadiran PLTS, warga harus mengeluarkan Rp 300 ribu per bulan demi listrik 12 jam.

Kehadiran PLTS juga membawa keuntungan bagi BUMDes Bersinar Desaku. BUMDes meraup cuan yang tidak sedikit. Ramsyah selaku wakil direktur BUMDes memperlihatkan salinan dokumen pendapatan dan pengeluaran dari enam unit usaha periode November 2021.

Pendapatan BUMDes dari penjualan listrik PLTS adalah yang terbesar yakni Rp 10.183.000. Ramsyah memastikan, jumlah tersebut tak jauh berbeda dari bulan-bulan sebelum maupun setelahnya. Konsumsi listrik Desa Muara Enggelam tak pernah naik atau turun signifikan. Dengan demikian, pendapatan rata-rata BUMDes dari sektor listrik mencapai Rp 120 juta per tahun.

Ramsyah, wakil direktur BUMDes Bersinar Desaku. FOTO: DOKUMEN PRIBADI

Dari penghasilan tersebut, BUMDes hanya mengambil 15 persen. Sebanyak 25 persen yang lain disumbangkan ke kas desa, 5 persen untuk operasional; 9,5 dana sosial (CSR); 0,5 persen pajak, dan sisanya untuk modal berikutnya. Ramsyah menjelaskan, uang modal digunakan untuk merawat PLTS, mengembangkan usaha, hingga pemasangan instalasi listrik.

“Sementara dana sosial digunakan untuk membantu kegiatan warga, merenovasi sekolah, hingga membantu pengobatan warga yang sakit,” bebernya.

Kehadiran PLTS turut mengangkat derajat Desa Muara Enggelam. Ramsyah mengatakan, sejumlah pengelola BUMDes dari daerah lain, bahkan dari Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat, pernah bertandang. Mereka belajar mengelola PLTS, mulai membuat proposal, merakit, hingga manajemen pemasaran listrik.

“PLTS ini ramah lingkungan. Bahan bakarnya disediakan alam, gratis, dan tak perlu ada yang dirusak,” ucapnya.

Lilia Oktavia, assistant manager Komunikasi dan Manajemen Stakeholder, PLN UIPP Kalimantan. FOTO: DOKUMEN PRIBADI

Assistant Manager Komunikasi dan Manajemen Stakeholder, PLN Unit Induk Pembangkitan dan Penyaluran Kalimantan, Lilia Oktavia, mengamini keterangan Ramsyah. Menggunakan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT), kata dia, tak menghasilkan emisi karbon. “Sumber energinya pun gratis dengan pasokan berlimpah,” jelas Lilia kepada kaltimkece.id pada kesempatan yang berbeda.

Masa Depan Listrik Indonesia

Pembangkit listrik berbasis EBT adalah harapan bagi kehidupan yang lebih baik. Hal itu disadari oleh pemerintah. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030, porsi penambahan pembangkit listrik EBT di Indonesia diproyeksikan mencapai 51,6 persen.

PLN Kalimantan telah menyusun program mendapatkan listrik bersih tanpa menggunakan energi kotor. Lilia Oktavia menyebutkan, sejumlah pembangkit EBT dengan total kapasitas 1.731 megawatt akan dibangun di Kalimantan. Pembangkit tersebut terdiri dari PLTS, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBio), dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM).

PLN melibatkan sejumlah elemen masyarakat dalam program co-firing di Balikpapan. FOTO: DOKUMEN PLN

PLN juga punya program dedieselisasi atau mengonversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke PLTS di daerah terpencil. Perseroan tengah melaksanakan program co-firing yaitu mencampurkan batu bara dengan biomassa seperti serbuk kayu, cangkang sawit, atau pelet sampah untuk dijadikan bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Perpaduan ini untuk mengurangi penggunaan batu bara sebagai bahan bakar PLTU.

“Setidaknya ada delapan PLTU yang melaksanakan program co-firing di Kalimantan,” sebut Lilia.

Upaya pemerintah mengembangkan energi baru sepertinya berjalan mulus. Sejumlah negara menyatakan mendukung rencana tersebut. Hal itu terlihat dari hasil Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Bali bulan kemarin. Mengutip siaran pers berjudul Proyek Kerja Sama Hasil Kesepakatan KTT G20 yang terbit di djkn.kemenkeu.go.id, Ahad, 13 November 2022, Asian Development Bank (ADB) meneken nota kesepahaman dengan PLN. ADB bersedia membantu program pensiun dini sejumlah PLTU salah satunya PLTU Cirebon 1 berkapasitas 660 megawatt.

Indonesia juga menerima pendanaan untuk proyek berbasis energi terbarukan seperti pengembangan kendaraan listrik dan pensiun dini PLTU. Pemberi dana adalah negara yang tergabung dalam Internasional Partners Group (IPG) yaitu Inggris, Norwegia, Jerman, Prancis, Amerika Serikat, Jepang, Irlandia Utara, dan Kanada. Untuk mewujudkan proyek tersebut, IPG bakal mengucurkan USD 20 miliar atau sekitar Rp 311 triliun.

“Beberapa PLTU di Pulau Jawa telah dicanangkan masuk program early retirement. Untuk Kalimantan, masih tahap kajian dan pembahasan,” terang Lilia.

Infografik perbedaan pembangkit listrik dari energi fosil dan pembangkit listrik dari energi terbarukan.
DESAIN GRAFIK: M IMTINAN NAUVAL-KALTIMKECE.ID

PLN melalui sub-holding PLN Indonesia Power juga menggandeng tiga produsen PLTS untuk berinvestasi di pabrik panel surya. Mereka akan berkolaborasi membangun pabrik pengembangan bisnis maupun model pemasaran produk panel surya di Indonesia. Pabrik ini akan memproduksi kebutuhan PLTS sehingga masyarakat bisa mendapatkan komponen-komponen dengan mudah dan harga terjangkau.

“Diharapkan menjadi perusahaan solar panel terbesar di Asia Tenggara dan yang memproduksinya adalah anak bangsa,” ujarnya.

Semua ini dilakukan sebagai ikhtiar merawat bumi. PLN menyadari bahwa pembangkit listrik batu bara memiliki dampak buruk bagi keberlangsungan hidup. Kaborndioksida dari PLTU akan naik ke atmosfer dan menghalangi pemancaran panas dari bumi sehingga panasnya kembali ke bumi. Bumi pun menjadi sangat panas. Inilah yang disebut efek rumah kaca. Lilia menambahkan, PLN memasang target net zero emission (NZE) alias nol emisi karbon terwujud pada 2060.

Yohana Tiko, direktur Walhi Kaltim. FOTO: DOKUMEN PRIBADI

Rencana PLN membangun pembangkit listrik EBT disambut positif Wahana Lingkungan Hidup Kaltim. Direktur organisasi nirlaba tersebut, Yohana Tiko, mengatakan, hidup di lingkungan yang sehat dan layak adalah impian semua makhluk. Keberadaan pembangkit EBT diyakini mempermudah impian itu jadi kenyataan.

Akan tetapi, Walhi Kaltim mengingatkan, jangan sampai pembangkit EBT dibangun dengan serampangan. Tiko mengatakan, belajar dari yang sudah-sudah, pembangunan yang asal-asalan kerap memantik konflik sosial seperti penggusuran lahan. Tak jarang pula, penduduk lokal tidak dilibatkan dalam pembangunan termasuk bagi hasil yang tak sepadan. Jika itu terjadi, sirna sudah niat mulia dari proyek ini. Nila setitik rusak susu sebelanga.

“Kalau sampai terjadi konflik sosial, enggak ada bedanya pembangkit EBT dengan pembangkit batu bara, sama-sama merusak alam,” kuncinya. (*)

Senarai Kepustakaan

Anwar Ilmar Ramadhan, dkk, 2016. Analisis Desain Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Kapasitas 50 WP. Teknik, 37 (2), 2016, 59-63.

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar