• Berita Hari Ini
  • Warta
  • Historia
  • Rupa
  • Arena
  • Pariwara
  • Citra
Kaltim Kece
  • WARTA
  • LINGKUNGAN
  • Meneliti Air Terapi Ikan di Lubang Bekas Tambang: Aman untuk Rekreasi, Tidak untuk Sehari-Hari

WARTA

Meneliti Air Terapi Ikan di Lubang Bekas Tambang: Aman untuk Rekreasi, Tidak untuk Sehari-Hari

Tim kaltimkece.id menguji kualitas air kolam bekas tambang yang kini dimanfaatkan untuk terapi kesehatan. Guru Besar Universitas Mulawarman memberikan banyak catatan.
Oleh Muhammad Al Fatih
10 Agustus 2026 15:26
Teras Alam Ulin di Sempaja, Samarinda, memanfaatkan kolam lubang bekas tambang batu bara untuk menerapi kesehatan manusia. FOTO: M AL FATIH-KALTIMKECE.ID
Teras Alam Ulin di Sempaja, Samarinda, memanfaatkan kolam lubang bekas tambang batu bara untuk menerapi kesehatan manusia. FOTO: M AL FATIH-KALTIMKECE.ID

kaltimkece.id Teras Alam Ulin, tempat wisata di Sempaja Utara, Samarinda, ramai pada Selasa, 7 Juli 2026. Sebagian pengunjung adalah pasangan muda-mudi. Ada pula yang telah lanjut usia. Salah seorang di antara mereka ialah Amedea Cathriona Maharia, perempuan berusia kepala tiga.

Teras Alam Ulin menyediakan kolam ikan terapi. Setelah melihat-lihat sebentar, Amedea segera mencelupkan kedua kakinya ke kolam tersebut. Dalam sekejap, gerombolan ikan nilem atau Osteochilus hasseltii mengerumuni kaki Amedea. Ikan-ikan berukuran tiga hingga tujuh sentimeter dengan warna kekuningan itu disebut memakan bakteri dan mikroba di ujung kaki.

Setelah puas, Amedea menarik kakinya dari kolam. Ia mengaku geli karena baru pertama kali merasakan spa kaki di kolam ikan terapi. Faris Hasan Aziz, pengelola Teras Alam Ulin, tertawa kecil melihat reaksi pengunjung tersebut.

"Di Samarinda, wisata kolam ikan terapi memang masih sedikit," kata Faris kepada Amedea. Di Pulau Jawa, sambungnya, kolam ikan terapi jamak ditemui.

Faris Hasan Aziz, pengelola Teras Alam Ulin. FOTO: M AL FATIH-KALTIMKECE.ID

Faris Hasan Aziz, pengelola Teras Alam Ulin. FOTO: M AL FATIH-KALTIMKECE.ID

Kepada jurnalis kaltimkece.id, Faris mengatakan bahwa Teras Alam Ulin dibangun di kolam bekas lubang tambang batu bara sejak pertengahan 2021 serta dibuka untuk umum pada Mei 2022. Kolam tersebut disewa keluarga Faris dari seorang pengusaha.

"(Dokumen) yang kami urus hanya Nomor Induk Berusaha saja," katanya.

Sebelum memulai usaha, ia melakukan riset mengenai jenis ikan yang cocok untuk spa kaki. Pilihannya jatuh kepada ikan nilem bercorak kekuningan. Sebenarnya, sebut Faris, terdapat jenis ikan yang lebih bagus yaitu Garra Rufa yang populasinya berasal dari Timur Tengah. Hanya saja, biaya per ekornya disebut jauh lebih mahal dibandingkan ikan nilem.

Untuk mendatangkan ikan Garra Rufa, sebut Faris, perlu biaya Rp1.000 hingga Rp1.200 per ekor sedangkan ikan nilem biayanya Rp500 hingga Rp700 per ekor.

Kolam ikan terapi di Teras Alam Ulin berisi 12 ribu ikan nilem. Faris akan mengganti ikan-ikan tersebut jika sudah membesar atau kurang-lebih enam bulan sekali. Ia mendatangkan ikan-ikan nilem dari Depok.

Faris mengaku telah merogoh kocek sekitar Rp100 juta untuk membangun Teras Alam Ulin. Duit tersebut termasuk membangun pendopo berbahan kayu ulin.

Selain kolam ikan terapi, ada beberapa keramba berisi berbagai ikan hias di Teras Alam Ulin. Di sudut yang lain, terdapat kolam seluas 15x15 meter. Semula, kolam tersebut dijadikan tempat pemancingan namun kini telah bertransformasi menjadi lokasi latihan paddleboard.

"Kebetulan saya juga aktif di komunitas paddleboard," ucap Faris.

Amankah Lubang Tambang Dijadikan Kolam Ikan Terapi?

Faris mengaku tak mengurus Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) dalam mendirikan Teras Alam Ulin. Keluarganya hanya menyewa petak bekas lubang tambang dari seorang pengusaha yang mengaku bertanggung jawab atas lokasi tersebut. Ia pun mengaku tak tahu perusahaan yang pernah beroperasi di lahan tersebut.

Faris juga mengaku tak memberikan perlakuan khusus kepada air lubang bekas tambang yang dipakai untuk kolam ikan terapi di Teras Alam Ulin. Ia merasa air lubang bekas tambang aman untuk dipakai.

Selain ikan peliharaan, ada pula hewan yang datang secara alami di Teras Alam Ulin. Di keramba ikan hias, kata Faris, kerap muncul ikan nila dan biawak. Kehadiran hewan-hewan tersebut dianggap sebagai hama karena kerap memangsa ikan-ikan hias.

"Beberapa kali juga ada berang-berang. Jadi di sini sudah terbentuk ekosistem alami," sebutnya.

Teras Alam Ulin juga menyediakan rekreasi memberi makan ikan hias. FOTO: M AL FATIH-KALTIMKECE.ID

Teras Alam Ulin juga menyediakan rekreasi memberi makan ikan hias. FOTO: M AL FATIH-KALTIMKECE.ID

Selain untuk pariwisata, Faris mengatakan air kolam lubang tambang juga dimanfaatkan warga sekitar untuk kebutuhan sehari-hari.

"Air yang kami sediakan di toilet juga berasal dari lubang tambang," sebutnya.

Faris paham bahwa lubang tambang seharusnya direklamasi atau dikembalikan ke habitat serta ekosistem awal. Terutamanya untuk lubang tambang dengan skala yang cukup besar serta dalam.

"Tetapi untuk yang kecil seperti ini mungkin tidak ada salahnya dimanfaatkan sebagai lokasi wisata, apalagi sudah kadung ditinggalkan perusahaan," ucapnya.

kaltimkece.id telah berupaya mengonfirmasi mengenai keberadaan lubang tambang kepada pengusaha yang disebutkan Faris. Hingga berita ini ditayangkan, pesan yang dilayangkan ke nomor WhatsApp pengusaha tersebut belum berbalas.

Atas seizin Faris, kaltimkece.id mengambil sampel air lubang bekas tambang di Teras Alam Ulin sebanyak dua botol. Masing-masing botol berisi 1/2 liter. Air tersebut kemudian diuji kualitasnya di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mulawarman.

Indikator yang dipakai dalam pengujian adalah kandungan logam berat yaitu kandungan besi (Fe) terlarut, timbal (Pb) terlarut, kromium (Cr), serta merkuri (Hg) terlarut.

Setelah menunggu hampir dua pekan, 9 Juli hingga 20 Juli 2026, hasil uji laboratorium bernomor 061/LHU/VII/2026 keluar. Dalam laporan tersebut, air kolam di Teras Alam Ulin disebut mengandung besi terlarut berkadar 0.058 miligram per liter, timbal terlarut 0.016 miligram per liter, kromium 0,0054 miligram per liter, serta merkuri terlarut 0,002 miligram per liter.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman, Prof Esti Handayani. FOTO: ARSIP KALTIMKECE.ID

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman, Prof Esti Handayani. FOTO: ARSIP KALTIMKECE.ID

Laporan tersebut dianalisis oleh Guru Besar FPIK Unmul, Prof Esti Handayani Hardi. Ia mengkomparasikan hasil uji sampel air dengan baku mutu yang telah ditetapkan di sejumlah regulasi. Salah satunya Peraturan Pemerintah 22/2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dalam lampirannya menetapkan Baku Mutu Air Nasional. Kemudian Peraturan Menteri Kesehatan 32/2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan serta Peraturan Menteri Kesehatan 2/2023 tentang Standar Kualitas Air Minum.

Pemerintah disebut menetapkan standar kandungan logam berat yang berbeda tergantung pemakaian, mulai dari pemakaian untuk sanitasi, air minum, hingga rekreasi air.

Merujuk ketiga regulasi tersebut, kata Prof Esti, kandungan larutan besi sebesar 0,058 miligram per liter masih memenuhi baku mutu. Jumlah tersebut berada di bawah batas air sanitasi dan pemakaian rekreasi air yaitu 1 miligram per liter maupun pemakaian air minum 0,2 miligram per liter.

Adapun kandungan larutan timbal 0,016 miligram per liter dinyatakan hanya memenuhi baku mutu untuk pemakaian rekreasi air. Standar kandungan larutan timbal untuk pemakaian rekreasi air minimum 0,03 miligram per liter sedangkan air minum maksimum 0,01 miligram per liter.

Kandungan kromium sebesar 0,0054 miligram per liter juga dinyatakan hanya memenuhi baku mutu untuk pemakaian rekreasi air. Batas bawah kromium untuk pemakaian rekreasi air sebesar 0,05 miligram per liter dan air minum 0,01 miligram per liter.

Selanjutnya, kandungan larutan merkuri dinyatakan berada tepat di batas maksimum untuk rekreasi air dan pemakaian air minum. Dengan hasil uji kandungan 0,002 miligram per liter masih berada di batas maksimum rekreasi air yakni 0,002 miligram per liter dan di bawah batas pemakaian air minum yaitu 0,006 miligram per liter. Sementara itu, untuk sanitasi tidak memenuhi syarat dengan batas 0,001 miligram per liter.

"Dapat disimpulkan bahwa untuk kualitas kandungan logam berat terbilang aman untuk kolam terapi ikan namun tidak aman untuk pemakaian air minum atau pemakaian lainnya seperti memasak dan mandi," jelas Prof Esti.

DESAIN GRAFIK: M NAUVAL-KALTIMKECE.ID

DESAIN GRAFIK: M NAUVAL-KALTIMKECE.ID

Walau demikian, pemakaian kolam terapi ikan belum sepenuhnya aman mengingat hasil uji larutan merkuri berada persis di ambang batas sehingga tidak ada margin of safety. Prof Esti merekomendasikan agar disediakan fasilitas cuci kaki dan tangan dengan air dari sumber lain yang disertai dengan sabun sebelum dan sesudah terapi ikan. Air kolam juga perlu diganti secara berkala untuk mencegah akumulasi logam berat.

Untuk menghadapi kandungan logam berat, filter biologis juga dapat diaplikasikan oleh pengelola wisata. Filter biologis yang dimaksud adalah tanaman air seperti eceng gondok dan kayu apu yang toleran terhadap logam berat.

"Pengunjung juga tidak direkomendasikan untuk datang ke lokasi terapi ikan tersebut secara terus menerus karena dapat terpapar merkuri dalam jangka panjang meskipun konsentrasinya rendah," ujarnya.

Adapun untuk pemakaian lain seperti air minum, cuci, dan kakus tidak direkomendasikan. Dengan demikian, Teras Alam Ulin dan warga tidak diperkenankan memanfaatkan air kolam lubang tambang untuk toilet dan kebutuhan sehari-hari.

Penjelasan Dinas ESDM dan Jatam Kaltim

Peraturan Menteri ESDM 26/2018 memang memberikan ketentuan bahwa dalam proses reklamasi pascatambang, perusahaan dapat menempuh peruntukan lain seperti budi daya ikan, sumber air, maupun tempat wisata.

Akan tetapi, Kepala Dinas ESDM Kaltim Bambang Arwanto, mengingatkan bahwa tidak semua lubang tambang dapat dijadikan tempat wisata. Faktor kedalaman lubang tambang menjadi salah satu penentu.

"Misalnya, lubang tambang dengan kedalaman 30 meter apakah dapat dijadikan tempat wisata? Jelas tidak," ucapnya.

Bambang Arwanto, Kepala Dinas ESDM Kaltim. FOTO: M AL FATIH-KALTIMKECE.ID

Bambang Arwanto, Kepala Dinas ESDM Kaltim. FOTO: M AL FATIH-KALTIMKECE.ID

Mengubah lubang bekas tambang sebagai tempat wisata juga harus melalui studi kelayakan serta rencana pascatambang yang telah disetujui oleh pemerintah.

Peralihan perizinan tambang dari pemerintah provinsi ke pemerintah pusat pada 2020 membuat pengawasan menjadi sulit. Kewenangan Pemprov Kaltim dalam memonitor proses pascatambang disebut terbatas.

Dinamisator Jatam Kaltim, Mustari Sihombing, menilai peruntukan lain dalam reklamasi pascatambang adalah upaya 'cuci dosa' perusahaan tambang. Jatam Kaltim menyatakan menolak reklamasi pascatambang untuk peruntukan lain termasuk menjadi wisata.

"Memang dalam regulasi itu ada mekanismenya tapi itu upaya menutupi tanggung jawab perusahaan," kata Mustari.

Jatam Kaltim juga menilai bahwa secara umum kolam lubang bekas tambang tidak layak dijadikan untuk budi daya ikan, sumber air, maupun pariwisata. Jatam Kaltim bahkan mengeluarkan penelitian khusus bertajuk 'Hungry Coal' pada 2017.

Dalam penelitian tersebut, Jatam Kaltim menguji ikan-ikan yang dibudidayakan di kolam bekas tambang. Ikan-ikan tersebut dinyatakan memiliki kandungan logam berat yang beracun bagi tubuh.

"Kandungan mangan dan besinya tidak hilang, akumulasi konsumsinya juga dapat menyebabkan kanker," papar Mustari.

Ia meminta lahan yang telah digunakan untuk pertambangan batu bara dikembalikan ke sedia kala. Termasuk mengembalikan ekosistem tumbuhan yang semula ada di lahan tersebut.

"Harus dikembalikan seperti awal sesuai varietas dan jenis vegetasi yang semula ada di lahan tersebut, reklamasi itu satu-satunya jalan untuk menjamin keselamatan dan ruang hidup masyarakat," serunya.

Tanggapan Pengelola Teras Alam Ulin

kaltimkece.id telah meminta tanggapan Faris Hasan Aziz atas hasil uji laboratorium. Melalui sambungan telepon pada Ahad, 9 Agustus 2026, ia mengucap syukur bahwa air kolam bekas tambang di Teras Alam Ulin dinyatakan aman untuk terapi. Akan tetapi, ia sedikit terkejut dengan hasil tidak aman terhadap pemakaian sehari-sehari termasuk makan, cuci, dan kakus (MCK).

Walau demikian, Faris menyambut baik hasil uji dan masukan-masukan yang diberikan Prof Esti. Ia berkomitmen melakukan pembenahan. Air toilet Teras Alam Ulin disebut akan diganti dengan air PDAM. Ia pun akan mempertimbangkan saran mengenai penanaman filter biologis seperti eceng gondok atau kayu apu.

"Nanti kami sesuaikan tanaman sejenis yang kira-kira cocok untuk dipakai," sebutnya.

Selama ini, kata dia, Teras Alam Ulin memakai filter air untuk memastikan air yang dipakai untuk kolam ikan terapi jernih dan tidak keruh. Terlepas dari itu, ia menegaskan tetap akan mengambil langkah-langkah evaluasi untuk memperbaiki kualitas usaha.

"Keamanan dan kenyamanan pengunjung jadi prioritas kami," ucapnya.

Bahaya terkadang tak nampak di mata. Layaknya virus: datang dari mana saja, menyusup ke lapisan-lapisan kecil, menggerogoti keseimbangan, lalu perlahan merusak sistem tubuh. Beruntunglah mereka yang pandai mengevaluasi diri. Sebab penyakit yang dibiarkan tumbuh diam-diam pada akhirnya dapat menjalar ke seluruh tubuh. (*)

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan hasil workshop kaltimkece.id bersama International Media Support (IMS), Indonesian Data Journalism Network (IDJN) dan Kaltim Today bertajuk "Countering Climate Disinformation: Prebunking, Data, and Constructive Journalism".

Editor : Surya Aditya

Dapatkan informasi dan insight pilihan redaksi kaltimkece.id

Gabung Channel WhatsApp
  • Alamat
    :
    Jalan KH Wahid Hasyim II Nomor 16, Kelurahan Sempaja Selatan, Samarinda Utara.
  • Email
    :
    [email protected]
  • Phone
    :
    08115550888

Warta

  • Ragam
  • Pendidikan
  • Lingkungan
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Politik
  • Humaniora
  • Nusantara
  • Samarinda
  • Kutai Kartanegara
  • Balikpapan
  • Bontang
  • Paser
  • Penajam Paser Utara
  • Mahakam Ulu
  • Kutai Timur

Pariwara

  • Pariwara
  • Pariwara Pemkab Kukar
  • Pariwara Pemkot Bontang
  • Pariwara DPRD Bontang
  • Pariwara DPRD Kukar
  • Pariwara Kutai Timur
  • Pariwara Mahakam Ulu
  • Pariwara Pemkab Berau
  • Pariwara DPMD Kutai Kartanegara
  • Pariwara DPRD Kaltim
  • Pariwara Diskominfo Kaltim

Rupa

  • Gaya Hidup
  • Kesehatan
  • Musik
  • Risalah
  • Sosok

Historia

  • Peristiwa
  • Wawancara
  • Tokoh
  • Mereka

Informasi

  • Kontak
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
© 2018 - 2026 Copyright by Kaltim Kece. All rights reserved.