Lingkungan

Menilik Sejumlah Siasat Pelestarian Mangrove dari FGD di Unmul

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 286 Kali
Menilik Sejumlah Siasat Pelestarian Mangrove dari FGD di Unmul

Profesor Esti Handayani Hardi menjadi pembicara dalam FGD sosialisasi hasil kegiatan Kedai Kopi-Kedaireka. FOTO: GIARTI-KALTIMKECE.ID

Rehabilitasi mangrove di Sepaku dan Penajam menjadi tugas berikutnya. Pembangunan IKN turut mengancam mangrove.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
Jum'at, 16 September 2022

kaltimkece.id Keberadaan mangrove di Kalimantan Timur menjadi perhatian Tim Peneliti Kedaireka. Tim ini beranggotakan empat akademikus Universitas Mulawarman dari empat fakultas berbeda. Mereka adalah Profesor Esti Handayani Hardi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan; Haris Retno dari Fakultas Hukum; Kiswanto dari Fakultas Kehutanan; dan Yulian Andriyani dari Fakultas Pertanian. Merehabilitasi mangrove menjadi tugas utamanya.

Kamis, 15 September 2022, di sebuah ruangan di Unmul, Samarinda, mereka mengadakan focus group discussion atau FGD sosialisasi hasil kegiatan Kedai Kopi-Kedaireka. Mengusung tema Scalling Up Pengelolaan Ekosistem Mengrove Melalui Smart Silvofishery dan Pranata Hukum Desa di Delta Mahakam dan Kawasan Ibu Kota Negara, diskusi ini merupakan bagian dari program Kedaireka Maching Fund Universitas Mulawarman yang bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove atau BRGM Indonesia.

Kepada kaltimkece.id, Prof Esti menjelaskan tujuan FGD tersebut. Yaitu memaparkan sejumlah program dari Tim Peneliti Kedaireka yang sudah terealisasi dan menyusun strategi untuk melanjutkan program kerja berikutnya. Disebutkan, pada 2021, tim telah bekerja di tiga desa di Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara. Ketiganya yakni Desa Muara Badak Ulu, Saliki, dan Salo Palai. Sedangkan pada 2022, ada delapan desa dari empat kecamatan di dua kabupaten yang menjadi target kerjanya. Keempat kecamatan yakni Muara Jawa, Samboja (Kukar), Sepaku, dan Penajam (Penajam Paser Utara).

Prof Esti menyebutkan, sebagian dari program kerja tahun ini telah berjalan. Dalam melaksanakan tugas, Tim Peneliti Kedaireka bekerja sama dengan NGO atau lembaga swadaya masyarakat. Saat ini, tim tengah mengevaluasi sejumlah program yang telah disusun. Beberapa di antaranya yaitu pendekatan masyarakat, penguatan kerangka hukum, dan pengaturan lingkungan.

“Kami telah banyak melakukan rehabilitasi mangrove. Jadi, kami ingin mengakomodir program yang sudah kami dan masyarakat lakukan agar bisa memberikan kontribusi yang lebih baik lagi,” bebernya.

Ada empat tugas Tim Peneliti Kedaireka dalam merehabilitasi mangrove. Pertama, sebut Prof Esti, memetakan areal yang akan digunakan untuk budi daya mangrove. Kedua, membangun demontration plot (demplot) untuk mengetahui tambak yang ideal. Ketiga, mengedukasi masyarakat tentang fungsi mangrove. Edukasi ini meliputi pengukuran karbon, penerimaan manfaat, dan pengkaderan. Masyarakat dituntut bisa menciptakan regenerasi pelestarian mengrove. Tugas yang keempat yaitu mengemas ketiga program tersebut menjadi pranata hukum desa yang lebih kuat.

“Pengelolaan mangrove tidak bisa dilakukan segelintir orang,” jelas Prof Esti.

Sepaku dan Penajam menjadi target penelitian Tim Peneliti Kedaireka dalam waktu dekat pada 2022. Bukan tanpa alasan memilih kedua kecamatan di PPU itu sebagai target selanjutnya. Prof Esti menjelaskan, pembangunan Ibu Kota Nusantara tengah berlangsung di sana. Dengan begitu, banyak hutan mangrove yang akan dibabat. Padahal, kata dia, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui fungsi mangrove.

“Kami akan memberikan edukasi sejak dini. Jangan sampai mereka kena imbas dari hilangnya mangrove,” katanya. “Untuk itu, di sana akan dibangun sekolah lapang tambak dan sekolah lapang mangrove.”

Dalam focus group discussion, Prof Esti ditemani dua orang sebagai pembicara. Mereka adalah Deputi III Bidang Edukasi dan Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan, BRGM Indonesia, Myrna Asnawati Safitri; dan Direktur Harian Yayasan Biosfer Manusia atau Bioma Samarinda, Aspian Noor.

Dalam diskusi tersebut, Myrna Asnawati Safitri menjelaskan, BRGM bertugas memfasilitasi percepatan pelaksanaan restorasi gambut dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di areal restorasi gambut di tujuh provinsi. Ketujuhnya yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. BRGM juga melakukan percepatan rehabilitasi mangrove di sembilan provinsi. Yaitu Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Kaltim, Papua Barat, Kalbar, Riau, dan Papua.

“Target restorasi gambut pada 2022 adalah lebih 1,2 juta hektare dan target rehabilitasi mangrove 600 ribu hektare,” sebut Myrna.

Infografik FGD sosialisasi hasil kegiatan Kedai Kopi-Kedaireka.
DESAIN GRAFIS: MUHAMMAD IMTIAN NAUVAL-KALTIMKECE.ID

 

Sebanyak 20 persen dari luas mangrove dunia ada di Indonesia dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi. Berdasarkan data World Atlas of Mangrove, Myrna membeberkan, terdapat 16,53 juta hektare hutan mangrove di dunia. Di Indonesia, Peta Mangrove Nasional 2021 mencatat, total luasan mangrove mencapai 4,12 juta hektare, terdiri dari 3.364.080 hektare berstatus eksisting dan 756.183 hektare berstatus potensi dengan 202 jenis tumbuhan mengrove. Mangrove di Indonesia sebanyak 71 persen tersebar di kawasan hutan dan 29 persen di areal penggunaan lain (APL).

Ada sejumlah program yang telah terealisasi dalam percepatan rehabilitasi mangrove pada 2021. Salah satu di antaranya realisasi penanaman seluas 34.911 hektare di 32 provinsi, terdiri dari 127 kabupaten, 342 kecamatan, dan 654 desa. Adapun bibit yang telah tertanam sebanyak lebih dari 115 juta batang. Rhizophora sp menjadi bibit yang paling mendominasi. Penanaman mangrove ini melibatkan 927 kelompok masyarakat.

Sementara itu, Aspian Noor mengatakan, Yayasan Bioma tengah melakukan restorasi mangrove di Delta Mahakam, Muara Jawa, Kukar, tepatnya di Kampung Muara Kembang Dalam, Kampung Muara Pegah, dan Kampung Muara Ulu Kecil.

“Selain itu, Yayasan Bioma juga bertugas di dua kawasan bergambut di Kecamatan Kenohan dan Kecamatan Muara Kaman,” bebernya. (*)

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar