Lingkungan

Menyusuri Lorong Waktu di Gua-Gua Karst, Benteng Kehidupan Sepanjang Masa

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 868 Kali
Menyusuri Lorong Waktu di Gua-Gua Karst, Benteng Kehidupan Sepanjang Masa

Foto: Dokumentasi

Bentang karst telah menjadi bagian hidup umat manusia sejak 40 ribu tahun lalu. Di Kaltim, warisan generasi terdahulu itu dikepung 193 izin usaha.

Ditulis Oleh: Fel GM
08 November 2018

kaltimkece.id Dinosaurus adalah penguasa alam ketika permukaan bumi sedang indah-indahnya. Mereka hidup tenteram di bawah iklim yang hangat. Kutub utara dan selatan belum ditutupi es pada masa itu. Binatang raksasa yang memuncaki rantai makanan itu pun bebas beranak-pinak di daratan Alaska sampai Antartika.

Hingga sebuah asteroid menghantam Semenanjung Yukatan, dekat kota Chicxulub, Meksiko. Benda angkasa berdiameter 9,6 kilometer tersebut membawa “kiamat” bagi kaum dinosaurus. Peristiwa kira-kira 66 juta tahun silam itu tercatat sebagai bencana paling buruk yang pernah terjadi di muka bumi (What Really Happened when The Dino Killer Asteroid Struck, artikel BBC, 2016).  

Setelah hantaman asteroid, bumi gelap gulita. Bumi berubah gersang seperti permukaan bulan. Sinar matahari terhalang debu angkasa. Tumbuhan yang tidak bisa berfotosintesis menjadi awal mula hancurnya rantai makanan. Koloni dinosaurus yang masih selamat dari gempa 10 skala Richter setelah jatuhnya asteroid, akhirnya mati kelaparan. Riwayat dinosaurus pun tamat.

Masa Purba 

Nun jauh di belahan bumi yang lain, kawasan timur Kalimantan masih tergenang oleh Selat Makassar. Di bawah selat dangkal itu, terhampar bebatuan ofiolit. Batu yang terbentuk karena pemekaran lantai samudra tersebut turut menjadi saksi kepunahan dinosaurus. 

Batu ofiolit ini kelak banyak ditemukan di perbatasan Kutai Timur dan Berau, tepatnya di wilayah bernama Muara Lasan. Ofiolit disebut sebagai batuan tertua yang membentuk kawasan tersebut. Batu ini terbentuk pada zaman Jurassic, tepatnya pertengahan era Mesozoikum, lini masa yang sama dengan era dinosaurus (Rencana Induk Pengelolaan Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur, 2018, hlm 3).

Sebelum kepunahan dinosaurus, bumi telah memasuki masa kapur. Di bagian barat Selat Makassar yang kelak ikut membentuk Pulau Kalimantan, periode ini dilewati dengan proses pengendapan atau sedimentasi. Sisa-sisa makhluk laut bercangkang mengalami proses kimiawi. Selama jutaan tahun, fosil makhluk laut berubah menjadi endapan karang, batu pasir, dan gamping atau batu kapur. Disebut batu kapur karena salah satu proses kimiawi tadi adalah pengapuran.  

Bumi pun memasuki era Kenozoikum. Pada awal era setelah kepunahan dinosaurus ini, satu per satu endapan kapur terangkat dari dasar laut. Berjalan selama 60 juta tahun, daratan dan pulau muncul, termasuk Kalimantan. Endapan kapur terangkat seturut pergerakan lempeng tektonik Asia, lempeng Pasifik, dan lempeng Australia. 

Mengutip dokumen rencana induk yang disusun Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, endapan kapur yang terangkat kemudian membentuk bentangan Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang kini masuk Kabupaten Berau dan Kutai Timur. Sebagaimana proses pembentukannya, semakin ke timur atau arah laut, usia batu kapur atau gamping semakin muda. Batuan kapur termuda ditemukan di Formasi Domaring yang dekat dengan pesisir Kaltim. Seluruh proses itu menghasilkan bentang Karst Sangkulirang-Mangkalihat seluas 1,8 juta hektare atau setara 15 persen dari luas Provinsi Kaltim. 

Era Prasejarah

Setelah endapan batu gamping terangkat ke permukaan laut, proses kimiawi berikutnya melibatkan air hujan. Proses ini melahirkan rongga-rongga dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ribuan tahun lamanya, air hujan membuat daratan dan pegunungan kapur tadi memiliki gua-gua dan sungai bawah tanah. Sementara di atas daratan, pohon-pohon mulai tumbuh. Dari dasar laut yang dalam, endapan batu gamping pun menjadi bentangan karst (Pengelolaan Kawasan Karst Di Desa Terkesi, Kecamatan Klambu Kabupaten Grobogan, Tesis, 2014).

Selama ribuan tahun, gua dan ceruk yang terbentuk di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat setidaknya berjumlah 147 buah, sebagaimana dilaporkan dalam Rencana Induk Pengelolaan Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur (hlm 10). Dokumen ini dipresentasikan oleh Eko Haryono, doktor dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, dalam Focus Group Discussion di Sangatta, Kutai Timur, Selasa, 6 November 2018.

Keberadaan gua mengundang manusia prasejarah tinggal di sana. Manusia purba ini diduga kelompok manusia prasejarah lanjutan yang mulai hidup menetap. Mereka mencari makanan dengan berburu binatang. Di Kaltim, manusia zaman ini meninggalkan petunjuk yang amat penting. Mereka membuat gambar di dinding gua yang disebut rock-art. Sekitar 2.300 gambar cadas yang kebanyakan berupa telapak tangan manusia telah ditemukan di 38 situs gua dan ceruk (Rock-Art Kalimantan Timur: Jenis Gambar dan Waktu Pembuatannya, Jurnal, 2016). 

Gambar tertua diperkirakan berusia hingga 40 ribu tahun. Beberapa gambar cadas yang lain diduga dibuat 4 ribu tahun sampai 9 ribu tahun yang lalu. Berpangkal dari angka tersebut, bentang alam karst telah dimanfaatkan manusia setidaknya selama 40 milenium. Sebagai perbandingan, perhitungan kalender Masehi yang dipakai sekarang barulah dua milenium. Atas peninggalan yang luar biasa itu, gambar tangan di bentang Karst Sangkulirang-Mangkalihat tengah diajukan sebagai warisan dunia. Setelah menjadi nominasi, status tersebut masih menunggu penetapan Unesco, organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusinya. 

Era Sebelum Kemerdekaan

Kemajuan peradaban membuat manusia mulai meninggalkan gua. Setelah era berburu, manusia memasuki masa pertanian atau lebih tepatnya beternak sebagai sumber penghidupan. Mereka kemudian membuat permukiman baru di luar gua pada masa pra-aksara, sekitar 10 ribu tahun silam.

Meskipun tak lagi ditinggali, gua di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat masih sangat berarti bagi manusia. Pindi Setiawan adalah peneliti gambar gua dari Institut Teknologi Bandung yang memiliki analisis tersebut. Sebelum masa kemerdekaan, terangnya, hampir semua kerajaan di Kalimantan berdiri di dekat sungai dan bentang karst. 

“Mulai Kesultanan di Sarawak, Berau (kini Kesultanan Sambaliung dan Gunung Tabur) di dekat karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kesultanan Kutai (karst Sangkulirang-Mangkalihat dan karst Sungai Mahakam), Kesultanan Paser, hingga Kesultanan Banjar (karst Pegunungan Meratus),” tutur Pindi ketika melayani wawancara kaltimkece.id di Sangatta. 

Kerajaan-kerajaan memandang arti penting bentang karst karena nilai ekonominya. Sejak lama, manusia telah mengetahui bahwa burung walet bersarang di gua-gua karst. Sarang burung memiliki nilai yang sangat tinggi.

Komoditas ini menjadi unggulan dalam perdagangan internasional terutama ke Tiongkok. Dari dinasti ke dinasti, sarang burung adalah makanan mewah bagi para kaisar di sana. Sarang burung walet diperkirakan telah dibawa ke Tiongkok sejak sebelum abad ke-10 (Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia, 2013, hlm 13). 

“Itu sebabnya, peperangan di antara kerajaan di Kalimantan berbeda dengan Pulau Jawa. Di sini, yang diperebutkan adalah wilayah perdagangan, bukan menguasai daerah agraria seperti di Pulau Jawa,” terang Pindi, peneliti dari ITB. Di wilayah perdagangan, kerajaan yang berkuasa akan mengutip pajak dari transaksi para pedagang. 

“Pada era modern, gambaran wilayah perdagangan itu seperti Singapura. Mereka tidak punya wilayah luas tetapi mendapat penghasilan besar dari perdagangan internasional,” lanjut lelaki yang sudah keluar-masuk gua di banyak wilayah di Indonesia ini.

Belanda yang datang belakangan menyadari hal tersebut. Maka yang dilakukan pertama kali adalah menguasai jalur-jalur ekonomi tadi. Menurut Pindi, Belanda telah mempelajari hubungan di antara kerajaan-kerajaan di Kaltim. Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat dipilih Belanda sebagai salah satu pusat perdagangan karena nilai ekonominya. Lagi pula, bentang karst ini menjadi perbatasan Kesultanan Kutai dan Berau. 

Belanda akhirnya menetapkan Pulau Sangkuang, kini disebut Sangkulirang, sebagai pelabuhan utama. Di pulau itu, Belanda mengumpulkan hasil hutan seperti rotan, gaharu, termasuk sarang burung walet dari pegunungan karst. Pada 1930, Belanda menetapkan Sangkulirang sebagai wilayah administratif atau landschap yang dipimpin seorang klerek. Awang Ishak, ayah dari mantan gubernur Awang Faroek Ishak, adalah pejabat klerek pertama di Sangkulirang (Kecamatan Sangkulirang Dalam Angka, 2012, hlm 1)

Era Modern

Membentang seluas 1,8 juta hektare, nilai ekonomi kawasan ekosistem Karst Sangkulirang-Mangkalihat makin terbukti setelah masa kemerdekaan. Tak lagi sarang burung walet, kawasan tersebut dieksploitasi oleh perusahaan hutan tanaman industri, pertambangan batu bara, hingga perkebunan kelapa sawit. 

Dalam laporan Dinas Lingkungan Hidup Kaltim, setidaknya 193 izin telah terbit di kawasan ekosistem seluas 1,8 juta hektare itu. Sebanyak 90 izin di Kabupaten Berau, 103 izin di Kabupaten Kutai Timur. Perinciannya adalah pertambangan batu bara sebanyak 26 izin, perkebunan 110 izin, hak pengusahaan hutan 30 izin, hutan tanaman industri 10 izin, pertambangan batu gamping 16 izin, dan satu izin pabrik semen. Sebagian perusahaan pemegang izin tersebut telah beroperasi. 

Melihat situasi itu, Awang Faroek Ishak ketika menjadi gubernur Kaltim menerbitkan Peraturan Gubernur 67/2012 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Pergub tersebut menjadi dasar penetapan kawasan karst yang dilindungi dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kaltim pada 2016 yakni 308 ribu hektare. Sebanyak 54 izin yang telah diterbitkan tercatat masuk kawasan lindung dengan total luas 155 ribu hektare. 

Namun demikian, terdapat masalah dalam penetapan kawasan lindung. Pergub dan Peraturan Daerah RTRW Kaltim memakai peta berskala 1:250.000. Padahal, untuk penetapan kawasan bentang alam karst, peta yang dipakai menurut aturan harus berskala 1:50.000. Skala yang lebih kecil diperlukan agar hasilnya lebih presisi. 

Melalui peta berskala 1:50.000 pula, dapat diketahui wilayah bentang alam karst yang harus memiliki dua unsur. Pertama adalah eksokarst atau bentuk luar seperti adanya bukit, lembah, atau menara karst. Kedua adalah endokarst atau bentuk dalam seperti gua dan sungai bawah tanah. Satu saja tidak ada, suatu wilayah tidak bisa disebut kawasan bentang alam karst meskipun tanahnya berstruktur batu kapur.

Sejak 2016, dua lembaga meneliti kawasan bentang Karst Sangkulirang-Mangkalihat menggunakan peta berskala 1:50.000. Baik Badan Geologi Nasional dari Kementerian ESDM maupun Kelompok Studi Karst dari Universitas Gadjah Mada, menyajikan hasil dengan kesamaan sebesar 80 persen. Luas bentang alam Karst Sangkulirang-Mangkalihat, berdasarkan penelitian terbaru, bertambah menjadi 403 ribu hektare. 

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kaltim, Ence Ahmad Rafiddin Rizal, menerangkan bahwa usulan 403 ribu hektare ini akan disampaikan Pemprov Kaltim kepada Kementerian ESDM. Usulan tersebut telah melewati dua focus group discussion di Berau dan Kutim. Nantinya, Menteri ESDM menetapkan kawasan bentang alam karst yang dilindungi. Keputusan menteri tersebut dapat dijadikan dasar untuk merevisi RTRW Kaltim yang baru diperbolehkan diubah pada 2021 mendatang. Penetapan kawasan yang lebih presisi, kata Rizal, juga memberikan kepastian dalam kepentingan pelestarian karst maupun pemanfaatannya.

“Penentuan kawasan lindung untuk bentang alam karst ini sangat penting,” demikian Tantan Hidayat, Kepala Sub Bidang Pengembangan Geologi Lingkungan, Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, Kementerian ESDM. 

Eko Haryono dari Universitas Gadjah Mada sepakat. Menurutnya, bentang karst Sangkulirang-Mangkalihat sangat berharga bagi Kaltim. Kawasan ini adalah cadangan air masa depan sekaligus tempat hidup 373 jenis vegetasi dan sembilan primata. 

Tetap Benteng Ekonomi

Menurut hasil penelitian UGM, bentang Karst Sangkulirang-Mangkalihat menyimpan harta karun yang sangat berharga: penyerap karbondioksida. Serapan karbon baik organik dan inorganik di kawasan ini menghasilkan nilai 6,39 juta ton karbondioksida per tahun. Dari situ, total cadangan karbon organik dan inorganik diperkirakan mencapai 275,57 giga ton karbondioksida. 

Jika pengajuan carbon fund Kaltim disetujui oleh World Bank, nilai ekonomi yang dapat dihasilkan dari kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat sangat besar. “Total mencapai USD 1.377 triliun. Asumsinya, satuan nilai ekonomi karbon adalah USD 10 per ton karbon,” jelas Eko. Nilai ekonomi itu setara Rp 19 kuintiliun (jumlah yang sangat besar karena terdapat 18 angka nol di belakang 19). Sebagai perbandingan lagi, Rp 19 kuintiliun setara dengan 8.762 kali APBN 2018 yang sebesar Rp 2.200 triliun. 

Meskipun angka tersebut sepertinya ambisius, ia bukanlah mustahil. Setelah kayu, minyak dan gas bumi, serta batu bara di Kaltim habis, karst tetap menyimpan nilai ekonomi yang teramat besar. Baik hari ini maupun masa depan, bentang karst adalah benteng peradaban manusia seperti yang dimulai sejak 40 ribu tahun lalu. Karst tetap menjadi benteng ekonomi bagi manusia-manusia yang menjaga kelestariannya. (*) 

Senarai Kepustakaan
  • Dinas Lingkungan Hidup Kaltim, 2018. Nilai Penting Ekosistem Karst Sangkulirang-Mangkalihat Kabupaten Berau-Kutai Timur, disajikan dalam FGD di Kutai Timur, 9 November 2018.
  • Jane Palmer, 2016. What Really Happened when The Dino Killer Asteroid Struck, artikel BBC.
  • Koordinator Statistik Kecamatan Sangkulirang, 2012, Kecamatan Sangkulirang Dalam Angka Tahun 2012, Sangatta: Badan Pusat Statistik Kutai Timur.
  • Pradjoko, Didik, dan Utomo, Bambang Budi, 2013. Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia, Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud RI. 
  • Rencana Induk Pengelolaan Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur, 2018, disajikan dalam FGD di Kutai Timur, 9 November 2018. 
  • Sugiyanto, Bambang, 2016. Rock-Art Kalimantan Timur: Jenis Gambar dan Waktu Pembuatannya, Jurnal, Banjarmasin: Balai Arkeologi Kalimantan Selatan. 
  • Sulistyorini, Endah Tri, 2014. Pengelolaan Kawasan Karst di Desa Terkesi, Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan, Tesis, Semarang: Universitas Diponegoro.

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar