Lingkungan

Pusat Suaka Orangutan 10 Kilometer dari Calon Istana Negara, Didirikan Hashim Djojohadikusumo

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 784 Kali
Pusat Suaka Orangutan 10 Kilometer dari Calon Istana Negara, Didirikan Hashim Djojohadikusumo

Peresmian PSO Arsari oleh Hashim Djojohadikusumo dan perwakilan Kementerian LHK. (istimewa)

Pusat Suaka Orangutan ini direncanakan sejak tiga tahun lalu. Tanpa sengaja lokasinya berkisaran di calon ibu kota negara.

Ditulis Oleh: Sapri Maulana
03 Desember 2019

kaltimkece.id Bento dan Iskandar sedang asik berayun ketika Ketua Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Hashim Djojohadikusumo, mendekat ke hunian keduanya. Menjalani masa karantina, orangutan tersebut menyedot perhatian. Keduanya bermanuver dengan aktifnya dalam peresmian Pusat Suaka Orangutan atau PSO Arsari.

Senin, 2 Desember 2019, PSO yang didirkan Yayasan Arsari Djojohadikusumo diresmikan Dirjen KSDEA Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau KLHK Wiratno. Selaku ketua yayasan, Hashim menyebut keinginannya agar para orangutan merasakan bahagia dengan kehidupan yang layak.

Sekitar pukul 08.30 Wita, Hashim tiba di Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Menggunakan baju berwarna kuning gading dan sepatu pantofel  hitam, sorotan kamera langsung mengarah ke Hashim sesaat ia tiba.

Panggung dan tenda di ruang terbuka telah didirikan. Jaraknya hanya sekitar 300 meter dari lokasi karantina orangutan. Yang sedang menjalani karantina adalah Bento, 17 tahun; dan Iskandar, 19 tahun. Adapun luas panggung sekira 5x6 meter persegi. Menjadi lokasi penandatangan prasasti oleh Dirjen KSDEA KLHK Wiratno dan Hashim Djojhadikusumo, sebagai tanda PSO Arsari telah diresmikan.

Setelah peresmian, lima pengurus PSO Arsari lalu mengantar rombongan menuju lokasi karantina. Namun, waktu dan jarak diberikan batasan. Agar Bento dan Iskandar tidak stress dan agresif melihat orang baru.

“Sekarang Bento dan Iskandar sudah familier dengan orang yang sering mengurus dia saat masa karantina ini. Itu adalah perkembangan. Ketika melihat orang baru, dia bisa stres dan agresif,” kata Satria, dokter hewan PSO Arsari kepada kaltimkece.id, Senin, 2 Desember 2019.

PSO Arsari, dijelaskan Hashim setelah melihat Bento dan Iskandar, memiliki perbedaan dengan yayasan orangutan lainnya. Tak semua dapat dirilis ke alam terbuka. Maka, didirikannya PSO ARSARI untuk menjawab kebutuhan suaka bagi orangutan yang sudah tua. Yang telah bertahun-tahun berada dalam kandang karena dipelihara manusia secara tidak legal. Maupun yang disita dari perdagangan satwa ilegal sejak bayi. Demikian juga alasan kesehatan dan kondisi lain yang tidak memungkinkan dilepasliarkan ke alam.

Tidak hanya menyelamatkan populasi orangutan dari kepunahan, Hashim bercita-cita PSO ARSARI membawa orangutan yang berhasil diselamatkan hidup bahagia tanpa harus dirantai dan disiksa. “Melalui upaya ini, kami ingin memastikan mereka bahagia pada hari tuanya. Tidak terkurung dalam kandang sampai akhir hidupnya,” harap Hashim yang juga CEO PT ITCI Karya Utama.

Adapun dua orangutan di PSO Arsari masuk kategori yang tidak bisa dilepasliarkan. Bento, berjenis kelamin jantan, diselamatkan dari peliharaan ilegal di sebuah rumah di Manado pada 8 September 2005. Sedangkan Iskandar diselamatkan ketika masih bayi dari perdagangan ilegal untuk diselundupkan ke Filipina pada 30 Oktober 2004. Keduanya saat ini menghuni kandang karantina di PSO ARSARI yang berada di area HGB PT ITCI di Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Bento dan Iskandar ditranslokasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur bersama YAD. Dengan dukungan Yayasan Masarang melalui Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki yang akhirnya bisa memulangkan mereka kembali ke Kalimantan pada 3 Oktober 2019.

Selanjutnya, akan dipersiapkan untuk dipindahkan ke pulau yang dimanfaatkan sebagai suaka (sanctuary) khusus bagi orangutan.

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan penghargaan kepada Hashim Djojohadikusumo sebagai Pejuang Pelestari Satwa Liar atas dorongannya membangun pusat penyelamatan dan rehabilitasi satwa liar kebanggaan Indonesia. Penghargaan dianugerahkan di Jakarta pada 22 Oktober 2019.

Hashim menjelaskan informasi yang ia terima dari sumber terpercaya. Lokasi istana negara ibu kota negara di Kaltim, jaraknya sekitar 10 kilometer dari lokasi PSO Arsari. Namun, Hashim membantah PSO Arsari dibentuk karena perpindahan ibu kota negara. Sebab, proses pembangunan PSO telah dijalankan sejak tiga tahun sebelumnya. Kendati demikian, Hashim mengakui, PSO Arsari akan bersinggungan dengan perpindahan ibu kota negara. Bahkan, diyakini akan sejalan dengan tujuan Presiden Joko Widodo.

“Ini sejalan dengan keinginan Presiden ya. Ingin IKN green city, smart city, dan living with nature,” kata Hashim. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar