Lingkungan

Waduk Benanga, Riwayatmu Kini: Menambang di Hulu, Banjir di Tepian

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 2564 Kali
Waduk Benanga, Riwayatmu Kini: Menambang di Hulu, Banjir di Tepian

Foto: Ika Prida Rahmi (kaltimkece.id)

Waduk Benanga menjadi kunci penanganan  banjir Samarinda. Ketika bendungan tak sanggup menampung, Samarinda dipastikan kebanjiran. 

Ditulis Oleh: Fel GM
10 Juni 2019

kaltimkece.id Ketika dibangun pada 1978, Waduk Benanga sebetulnya tidak benar-benar disiapkan untuk menanggulangi banjir. Bendungan dengan luas 150 hektare itu adalah wadah lapangan untuk irigasi. Embung tersebut mampu mengairi 350 hektare lahan sawah milik transmigran yang telah bermukim di hulu Sungai Karang Mumus, Lempake, Samarinda Utara. Waktu itu, kawasan ini adalah lumbung beras Samarinda. 

Waktu bergulir, Samarinda mengalami perkembangan yang cepat. Hunian kumuh bermunculan di tepi Sungai Karang Mumus bak cendawan di musim hujan. Pada 2004 saja, sudah 7.629 jiwa hidup di tepi Karang Mumus. Mereka tinggal di 1.451 bangunan, setengah di antaranya permanen (Dinamika Interaksi Aliran Hulu-Hilir Sungai: Studi Kasus Pengelolaan Sungai Karang Mumus, 2004, hal 27).

Kondisi itulah yang pelan-pelan mengubah peran Waduk Benanga yang merupakan hulu Sungai Karang Mumus. Limbah rumah tangga, industri, dan pasar, yang dihasilkan permukiman di Karang Mumus menimbulkan sedimentasi yang parah. Kemampuan sungai menerima air dari hulu pun berkurang. Akibatnya, Waduk Benanga harus mampu menampung lebih banyak air dari arah utara. Jika Benanga tidak menampungnya, atau melewatkan air begitu saja, Karang Mumus yang sudah dangkal itu tak akan kuat. Apalagi jika pasang Sungai Mahakam setinggi sekarang. Ia akan meluap saban kali hujan deras datang. 

Air yang harus ditampung Waduk Benanga --sembari dikeluarkan pelan-pelan ke Karang Mumus-- itu datang dari mana-mana. Kiriman air terbesar datang di bagian utara waduk. Mulai Lempake, menuju Bandara APT Pranoto, hingga sebagian wilayah Kutai Kartanegara. Lebih detailnya, areal tangkapan air yang masuk ke Benanga seluas 19.150 hektare atau kira-kira 26 persen wilayah kota Samarinda (Kajian Kondisi Biofisik Daerah Tangkapan Air Potensi dan Pemanfaatan Waduk Benanga di Wilayah Kota Samarinda, 2017, hal 150).

Baca juga
 

Celakanya, kondisi di 19.150 hektare areal ini semakin rusak. Aktivitas yang paling masif berperan dalam mengupas lahan, tuding Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, adalah pertambangan batu bara. Puluhan izin tambang beroperasi di bagian hulu Waduk Benanga. Kawasan itu meliputi daerah aliran Sungai Pampang (dari Lempake hingga Sungai Siring, Samarinda Utara), sebagian Muara Badak, Tenggarong Seberang, hingga Sebulu (ketiganya kecamatan di Kukar).  

Dalam catatan Jatam, perusahaan pertambangan batu bara pertama kali beroperasi pada 1994 di kawasan ini. Tepatnya, di Sungai Siring. Memasuki era reformasi, bupati dan wali kota keranjingan menerbitkan izin usaha pertambangan. Khusus wilayah ini, Jatam memberi catatan bahwa izin-izin diterbitkan oleh wali kota Samarinda dan bupati Kukar. 

Menukil dokumen perizinan yang kaltimkece.id dapatkan dari Pemprov Kaltim, wilayah tangkapan air Waduk Benanga telah distempel 58 izin usaha pertambangan atau IUP. Izin-izin ini dikeluarkan oleh kepala daerah. Ditambah lagi dua perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B) yang diterbitkan pemerintah pusat. 

Waduk Benanga yang terkungkung izin pertambangan batu bara benar-benar terlihat ketika koordinat IUP dan PKP2B dihamparkan di atas peta. Hampir 90 persen wilayah tangkapan air Benanga adalah izin tambang belaka. 

Memperparah Banjir

Menambang di hulu, banjir di tepian. Menurut Pradharma Rupang selaku Dinamisator Jatam Kaltim, galian tambang dengan teknik open pit membuat fungsi lahan sebagai penahan air hilang seketika. Walaupun direklamasi sebaik mungkin, mustahil mengembalikan bentang lahan seperti sedia kala. Sebagai contoh, open pit akan melenyapkan bukit dan lembah. Tanah yang datar dan cekung akan membuat aliran air lebih cepat masuk ke Benanga.

“Jangan bayangkan lahan yang kecil, ini bicara puluhan ribu hektare bentang lahan yang berubah karena pertambangan,” jelas Rupang. 

Korelasi antara aktivitas pertambangan di hulu dengan banjir aliran Sungai Karang Mumus sebenarnya sudah dideteksi Pemprov Kaltim sejak 2012 silam. kaltimkece.id menerima berkas peta kerawanan banjir Samarinda. Di peta tersebut terlihat hubungan erat antara aktivitas pertambangan, Waduk Benanga, Sungai Karang Mumus, dan kawasan yang sering terendam banjir. 

Gambarannya begini. Aliran air datang dari utara Waduk Benanga yang sesak akan izin tambang. Setelah masuk ke Waduk Benanga, air dialirkan ke selatan menuju Sungai Mahakam via Sungai Karang Mumus. Di selatan Benanga inilah, banjir muncul di permukiman warga tepatnya di sekitar Sungai Karang Mumus. Luas wilayah rawan banjir ini mencapai 450 hektare. Wilayah inilah yang hari-hari ini terendam karena meluapnya Sungai Karang Mumus.

Demikianlah Samarinda. Menambang di hulu, banjir kemudian. “Mereka yang bersenang-senang menikmati hasil batu bara di hulu, kita di Kota Tepian yang kebanjiran,” tutup Rupang. (*)

Senarai Kepustakaan
  • Widayanti, Diyat Susrini, dkk, 2017. Kajian Kondisi Biofisik Daerah Tangkapan Air Potensi dan Pemanfaatan Waduk Benanga di Wilayah Kota Samarinda. Dimuat dalam Jurnal Prosiding Seminar Nasional: Pengelolaan Daerah Aliran Secara Terpadu. Pekanbaru: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Riau.
  • Yogaswara, Heri, dkk. 2004. Dinamika Interaksi Aliran Hulu-Hilir Sungai: Studi Kasus Pengelolaan Sungai Karang Mumus. Jakarta: Pusat Penelitian Kependudukan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar