Mahakam Ulu

Beragam Upaya Membangun Ulang Lamin Adat Long Bagun Ilir yang Habis Terbakar

person access_time 5 months ago remove_red_eyeDikunjungi 745 Kali
Beragam Upaya Membangun Ulang Lamin Adat Long Bagun Ilir yang Habis Terbakar

Ketua DPRD Mahulu Novita Bulan menyerap aspirasi dari Petinggi Kampung Long Bagun Ilir, Lorensius Berit, Selasa, 29 Maret 2022.

Novita Bulan Siap Perjuangkan Pembangunan Ulang Lamin Adat Long Bagun Ilir. 

Ditulis Oleh: Nalendro Priambodo
Sabtu, 02 April 2022

kaltimkece.id Secangkir kopi panas yang baru saja dituangkan dari teko plastik menemani diskusi santai di ruang kantor Petinggi Long Bagun Ilir. Di atas meja kayu sederhana itu, Novita Bulan memperhatikan kata demi kata yang diucapkan sang petinggi kampung – Lorensius Berit. Sesekali perempuan ramah senyum itu melontarkan gurauan yang mencairkan suasana. 

“Terima kasih atas kunjungan Ketua DPRD Mahulu. Pada kesempatan ini kami menyampaikan beberapa usulan berkaitan dengan pembangunan lamin adat yang butuh perhatian khusus,” tutur Petinggi Kampung Long Bagun Ilir Lorensius Berit usai menerima kunjungan Ketua DPRD Mahulu, Novita Bulan, Selasa, 29 Maret 2022. 

Usulan pembangunan lamin adat yang dikemukakan Lorensius adalah membangun ulang Lamin Adat Dayun Urun di Kampung Long Bagun Ilir yang habis terbakar pada Jumat, 14 Januari 2022 lalu. 

Baca Juga : Runtun Kejadian Kebakaran di Mahulu yang Renggut Seorang Korban Jiwa, Belasan Rumah dan Lamin Adat

Pembangunan ulang lamin adat bagi warga di Kampung Long Bagun Ilir sambung Lorensius menjadi penting. Sebab, usai kebakaran, warga terkhusus komunitas Dayak Aoeheng yang juga banyak bermukim di kampung yang ia pimpin tak lagi memiliki lokasi khusus. Terlebih jika hendak menggelar ritual adat maupun pertemuan warga.

Beberapa waktu usai kejadian nahas tersebut, pemerintah kampung berinisiatif merencanakan pembangunan ulang lamin adat tersebut. Setelah menggelar sejumlah rapat, para tokoh masyarakat setempat, warga dan para petinggi sepakat lamin yang nanti dibangun ulang tidak meninggalkan unsur adat dan sejarah. Baik dari ornamen ukiran adat sampai material bangunan dari kayu.

Dari hasil perhitungan sementara, jelas pria berkaca mata itu, sedikitnya dibutuhkan Rp 1,8 miliar untuk membangun ulang lamin tersebut. Usulan itu pun sudah disampaikan di Musrembang Kampung maupun kecamatan. 

Sayangnya, dengan situasi keuangan daerah yang sedang sulit, pria 43 tahun yang sempat tinggal di lamin adat Dayan Urun ini mengaku diperkirakan pembangunan ulang lamin bisa memakan waktu bertahun-tahun. Sebab, dana cadangan dari dana desa yang mampu disisihkan untuk pembangunan hanya berkisar Rp 400 sampai 500 juta per tahun. Dengan perkiraan biaya pembangunan Rp 1,8 miliar, pembangunan diprediksi baru usai 4 sampai lima tahun ke depan. 

“Sehingga kita minta bantuan bu Ketua DPRD, Novita Bulan. Harapan kami kegiatan ini bisa diperjuangkan di APBD murni tahun 2023,” ujar Lorensius. 

Novita Bulan memahami kesulitan yang dihadapi warga di Kampung Long Bagun Ilir. Terlebih, sejak menjabat Ketua DPRD, ia juga bermukim di kampung itu. Sebagai warga setempat yang duduk di legislatif, Bulan menyadari betapa penting pembangunan ulang lamin adat tersebut. Mengingat bangunan itu menjadi sebagai satu-satunya tempat pertemuan dan kegiatan strategis warga di kampung tersebut. 

“Kami dari lembaga dan saya juga warga Long Bagun Ilir akan memperjuangkan pembangunan lamin adat itu ke pemerintah,” ujar politikus Partai Gerakan Indonesia Raya tersebut usai menyerap aspirasi warga. (*)

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar