Mahakam Ulu

Keindahan Air Terjun Teh di Mahulu, Air Merah Bisa Diminum, Dijaga Masyarakat Dayak Turun-Menurun

person access_time 5 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1614 Kali
Keindahan Air Terjun Teh di Mahulu, Air Merah Bisa Diminum, Dijaga Masyarakat Dayak Turun-Menurun

Air terjun Long Melaham yang berwarna seperti teh (foto: Disparpora Mahulu dan Universitas Udayana)

Air terjun merah ini sukar dicapai. Harus berjalan kaki selama lima jam melewati belantara hutan.

Ditulis Oleh: Muhibar Sobary Ardan
23 April 2021

kaltimkece.id Patahan batu setinggi 6 meter memecahkan aliran Sungai Melaham. Airnya lantas terkumpul di sebuah kolam sedalam betis yang berukuran sekitar setengah lapangan sepak bola. Dari sisi luar kolam yang terbuka, air tumpah lagi. Sisi tersebut berupa tebing setinggi 50 meter atau setara gedung 12 lantai. Sedemikianlah air dengan bebasnya terjun menghantam bebatuan raksasa di bawah jurang. Embun pun datang seperti sudah diundang. 

Deru air terjun bernama Jantur Long Melaham itu tak pernah berhenti di Kampung Long Melaham, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu. Air terjun ini dikelilingi hutan lebat. Di dekat kolam, beberapa pohon aren tumbuh di sela-sela pepohonan endemik Kalimantan. Sebagian akar pohon menyeruak di tepian sungai. Dari sinilah keistimewaan Jantur Long Melaham berasal. Akar dan getah pepohonan larut. Air sungai berwarna kemerahan, seperti teh saja.

Marianus Tidung, 23 tahun, adalah warga Kampung Long Melaham yang telah mendatangi air terjun tersebut. Ia membenarkan bahwa air sungai yang berwarna merah layaknya teh adalah keunikan.

“Air yang merah itu aman untuk diminum. Warga yang berburu sering meminumnya langsung,” jelas Marianus kepada kaltimkece.id, Kamis, 22 April 2021.

Kampung Long Melaham, lokasi administrasi air terjun ini, sebetulnya tidak jauh dari ibu kota kabupaten, Kampung Ujoh Bilang di Kecamatan Long Bagun. Jaraknya kurang lebih 16 kilometer. Kampung Long Melaham bisa dicapai selama 45 menit melintasi jalan mulus beralas aspal. Akan tetapi, untuk sampai di lokasi air terjun tidak mudah.

Dari Kampung Long Melaham, hanya jalur tanah milik perusahaan kelapa sawit yang tersedia. Perlu satu jam menyusuri jalan tersebut dengan mobil berpenggerak ganda atau motor trail. Kendaraan kemudian diparkir di tepi jalan. Penyusuran dilanjutkan dengan berjalan kaki. Inilah perjalanan paling berat.

“Kita berjalan kaki selama lima jam melewati hutan yang lebat,” tutur Marianus Tidung yang pernah mengantar tim Pusat Wisata Unggulan Universitas Udayana, ke air terjun tersebut.

Jalur menuju air terjun cuma jalan setapak. Warga sekitar kerap menggunakannya untuk berburu. Medannya tidak mudah. Selain dipenuhi pepohonan besar, banyak semak belukar dan bukit-bukit yang harus didaki.

Potensi wisata di Jantur Long Melaham telah disadari Pemkab Mahulu. Melalui kerja sama dengan Universitas Udayana, disusun gambaran pembangunan di daerah tersebut. Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Mahulu, Kristina Tening, menyebutkan, konsep pembangunan di Jantur Long Melahan dan sekitarnya mengacu hasil penelitian tersebut. Saat ini, Disparpora telah menyusun detail engineering design atau DED-nya.

“Kemungkinan pada 2022, pembangunan fisik dimulai,” jelas Tening.

Agus Muriawan Putra, anggota dari tim Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana, menguraikan hasil kajian. Pembangunan yang tepat untuk Jantur Long Melaham adalah wisata minat khusus. Air terjun ini cocok bagi wisatawan yang memiliki ketertarikan dengan alam dan budaya masyarakat sekitar.

Daya tarik utama Jantur Long Melaham ialah berwarna merah seperti teh. Selain itu, kehidupan masyarakat Dayak yang menjaga hutan menjadi edukasi bagi wisatawan. Udayana merekomendasikan tema wisata Long Meta atau Long Melaham Tourism Area. Empat karakter wisata ialah Long-Wafa (Long Melaham Water Fall), Longme Teriv (Long Melaham Tea River), Longme-Camp (Long Melaham Camping Area), dan Longme Trek (Long Melaham Trekking).

Tema tersebut dilandasi dari fakta bahwa air terjun berada di tengah hutan. Ekosistem masih alami. Sementara itu, aksesnya tidak mudah. Wisatawan perlu menyiapkan fisik dan biaya untuk menikmati keindahannya.

“Sebenarnya, tidak perlu banyak fasilitas yang dibangun. Semisal, tambahan tangga dari kayu. Kayunya mengambil sisa-sisa di hutan. Bahasa mudahnya, pembangunan berbasis lingkungan,” terang Agus. Yang perlu diperhatikan, sambungnya, dibangun pelayanan pendukung. Sebagai contoh, tersedianya petugas kesehatan, jalan penghubung ke kampung, serta jaringan telekomunikasi.

Baca juga:
 

Kepala Bidang Bina Marga dan Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Kawasan Pemukiman Mahakam Ulu, Deckty Toge Manduli, menjelaskan sejumlah kendala. Sampai hari ini, akses dari Kampung Long Melaham menuju air terjun berstatus milik perusahaan kelapa sawit. Tanpa perusahaan menghibahkan jalan kepada pemerintah, pemkab tidak bisa memperbaiki.

“Makanya, saat ini belum ada usulan anggaran untuk jalan tersebut,” jelasnya.

Bidang pariwisata di kabupaten berjuluk Urip Kerimaan ini sudah menjadi komitmen Bupati Mahulu, Bonifasius Belawan Geh. Menurut Bupati, wisata Mahulu yang maju akan membawa dampak ekonomi yang besar kepada masyarakat. Di lain sisi, pariwisata merupakan cara untuk terus menjaga kelestarian alam dan budaya di Mahulu.

“Jadi pertumbuhan ekonomi dapat, pelestarian alam dan budaya lokal juga dapat. Walaupun datang angin topan dari luar, kalau sektor pariwisata kuat, Mahulu pasti lebih maju,” kuncinya. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar