Pendidikan

Cerita Hanna Pertiwi Wakili Kaltim di OYTW: Belajar Diplomasi Bersama Kemenlu RI

person access_time 2 years ago remove_red_eyeDikunjungi 2525 Kali
Cerita Hanna Pertiwi Wakili Kaltim di OYTW: Belajar Diplomasi Bersama Kemenlu RI

Foto: Dokumentasi Hanna Pertiwi

Kepentingan negara di panggung internasional, bukan lagi tugas pemerintah semata. Publik bisa turut ambil peran secara luas.

Ditulis Oleh: .
02 Juli 2019

kaltimkece.id Diplomasi bukan lagi pembahasan kaku di ruangan beku. Kini makin akrab dengan keseharian. Bahkan bisa dimulai hanya dari satu jempol.

Digital diplomacy menjadi kampanye yang tengah diupayakan pemerintah Indonesia. Dikemukakan untuk melawan isu dan propaganda yang dikembangkan negara-negara asing. Gerakan #IndonesiaUSA70th Youth Ambassadors salah satu langkah menyebarluaskan digital diplomacy.

Program ini hasil kolaborasi Outstanding Youth for the World (OYTW) dari Pemerintah Indonesia dengan International Visitor Leadership Program (IVLP) dari Amerika Serikat. Diluncurkan sebagai peringatan 70 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Hanna Pertiwi, mahasiswa Universitas Mulawarman Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, terpilih mewakili Bumi Etam di ajang tersebut. Satu di antara 19 muda-mudi lain yang juga terpilih. Dari Aceh hingga Papua. Berbaur menjadi agen penyambung lidah dan citra negara.

Digital diplomacy sebenarnya bukan hal baru. Sistem ini telah lama berkembang di negara-negara barat. Amerika Serikat dan Australia memaksimalkan kemajuan teknologi modern dan potensi dunia maya untuk mendukung perjuangan di panggung internasional. Fergus Hanson (2012) mendefinisikan digital diplomacy, atau juga dikenal eDiplomacy, sebagai penggunaan internet serta teknologi informasi dan komunikasi untuk mencapai tujuan diplomatik.

Di Indonesia, #IndonesiaUSA70th Youth Ambassadors digelar 18-20 Juni 2019 di Jakarta. Materi yang diangkat mulai diplomasi publik, leadership, hingga isu-isu internasional. OYTW diselenggarakan Kementerian Luar Negeri sejak 2011. Mengirimkan muda-mudi Indonesia berprestasi ke negara sahabat. Tujuan utamanya memperluas jejaring dan wawasan. Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Kanada, Hong Kong, India, hingga Australia adalah negara-negara yang telah dikunjungi.

Adapun IVLP merupaan program utama pertukaran profesional garapan Department of State (DoS) sejak 1940. Indonesia bermitra dengan IVLP sejak 1952.

Hanna Pertiwi melewati tiga tahapan untuk ikut serta di ajang ini. Tahapan awal berupa registrasi dari mengisi formulir hingga mengirimkan foto diri. Namun pada tahap ini, calon peserta langsung diuji dengan menulis essai dalam Bahasa Inggris. Terdiri dari 700-1.000 kata. Calon peserta juga mesti membuat konten video bertemakan “Why Should I be Chosen as #IndonesiaUSA70th Youth Ambassador?" dan diunggah ke Youtube.

Peserta yang melaju ke tahap berikutnya, diwawancara lagi oleh utusan Kemenlu. Tiga pertanyaan diajukan. Bagi peserta di luar Jabodetabek, sesi tersebut berlangsung via panggilan video Skype. Hanya 60 dari 548 pemohon terpilih mengikuti tes wawancara. Sedangkan tahap terakhir adalah seleksi di Jakarta. Berupa psikotest, FGD, hingga talent show.

Dari ketiga tahap itu, 20 peserta terpilih mengikuti tes selama tiga hari di Hotel Alia Cikini, Jakarta Pusat. Beragam materi dibekali untuk peserta. Seperti pada hari pertama, 18 Juni 2019, bertempat di Kemenlu RI, peserta menerima materi Diplomasi Publik dari Azis Nurwahyudi, direktur Diplomasi Publik Kemenlu.

Dalam paparannya, Azis menyebut diplomasi sebagai hubungan antara negara. Sedangkan diplomasi publik, dikenalkan pada 1960-an oleh US information agency. Diplomasi bertujuan untuk memenangkan hati dan memberikan pengaruh suatu negara kepada masyarakat asing. Diplomasi terbagi lagi menjadi soft yang berarti budaya, nilai-nilai politik, dan kebijakan polugri; dengan Hard yang berarti kekerasan dengan alat.

Setelah materi Diplomasi Publik Indonesia, peserta melanjutkan agenda ke @america di Pacific Place Mall. Lima narasumber telah menanti. Di antaranya US Assistant Secretary for Berau & Deputy Assistant Secretary of Eduacational and Cultural Affairs, dengan tema LeadHERship-A Coversation on Women’s Empowerment.

“Eduaction is key for people,” sebut Marie Royce, US Assistant Secretary. Ia menyarankap kepada audience tetap menempuh pendidikan dalam keadan apapun. Ditambahkan lagi oleh Christina Suriadjaja, co-founder Travelio.com: “Education is not about knowledge. It’s about networking.”

Ia mencontohkan relasi pada masa sekolah yang bisa berperan besar terhadap kepentingan pada masa mendatang. Hubungan dengan teman satu kelas dahulu, penting untuk terus terjaga. Tak ada yang tahu, bisa jadi rekan sekelas dulu kelak menjadi pejabat tinggi atau mitra bisnis.

Pada hari Kedua, 19 Juni 2019, Emeli Abraham dari US Embassy menyebut bahwa pemuda tak cukup sekedar memilik bakat. Tapi juga wajib untuk antusias dalam mejalankan segala aktivitas.

Rangkaian acara #IndonesiaUSA70th Youth Ambassadors pada 20 Juni 2019 ditutup dengan persembahan 20 peserta. Semua menampilkan nyanyian dan tarian dari seluruh Nusantara dengan format medley. Riuh tepuk tangan penonton membuat peserta yang berlatih dua malam saja, kian bangga dengan bagian #IndonesiaUSA70th Youth Ambassadors OYTW-IVLP 2019.

Pengumuman 10 peserta yang terpilih ke Amerika Serikat diumumkan akhir Juli di kemlu.go.id. Peserta terpilih akan melakukan perjalanan selama tiga pekan ke beberapa kota di Amerika Serikat. Berlangsung selama Oktober – November 2019. Sejumlah agenda adalah menemui pejabat pemerintah, profesional, tokoh keagamaan, kalangan akademik, dan kelompok suku. Peserta dikirim untuk merasakan langsung budaya Amerika serta kehidupan sosialnya.

Adapun tujuan program adalah menyorot dinamika politik, sosial, dan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Amerika Serikat. Menunjukkan keanekaragaman budaya dan agama di Indonesia dan Amerika Serikat. Mewadahi kesamaan pandangan dalam penguatan demokrasi. Termasuk memberikan wawasan sistem pemerintahan federal serta kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Peserta juga dikenalkan institusi pendidikan di Amerika Serikat. Demikian pula gerakan kepemudaan serta inovator dan menguatkan hubungan antar para pemimpin muda dari Indonesia dan Amerika Serikat.

Selanjutnya, 20 peserta tadi memiliki tugas mengikuti Bali Democracy Forum XII pada Desember 2019. Bertemu partisipan dari berbagai dunia dengan tujuan untuk memperkuat kapasitas demokrasi dan institusi demokrasi melalui diskusi antar-negara. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar