Pendidikan

Profesor Termuda Unmul Berusia 39 Tahun, Si Penemu Jamu Kuat untuk Ikan

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 10629 Kali
Profesor Termuda Unmul Berusia 39 Tahun, Si Penemu Jamu Kuat untuk Ikan

Esti Handayani Hardi menjadi guru besar termuda dari Universitas Mulawarman. (nalendro priambodo/kaltimkece.id)

Temuannya ini sempat dilirik perusahaan farmasi raksasa di Indonesia. Namun ia lebih memilih LPPM Unmul.

Ditulis Oleh: Nalendro Priambodo
26 Februari 2020

kaltimkece.id Larangan obat kimia dalam budidaya perikanan sempat begitu meresahkan. Kebijakan tersebut tanpa dibarengi fasilitas pengadaan obat alami. Namun bagi Esti Handayani Hardi, inilah kesempatan untuk berkarya.

Salah satu yang begitu mendorongnya, adalah keberadaan beberapa pelosok di Kaltim yang masih digunakan obat kimia untuk manusia untuk ikan-ikannya. Ia khawatir, santapan ikan yang harusnya sehat malah jadi sumber penyakit.

Akhirnya ia mulai mencari solusi lewat penelitiannya pada 2012. Persisnya dua tahun setelah menyelesaikan studi doktoral ilmu akuakultur di Institut Pertanian Bogor (IPB). Sembari mengajar di Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Mulawarman, perempuan berkacamata ini rutin turun ke sentra budidaya perikanan dan laboratorium. Mengumpulkan 32 jenis tanaman lokal Kaltim yang memiliki kemampuan antibakterial, immunosimultan, prebiotik dan adjuvant.

Dari situ, ia menemukan tiga jenis tanaman rempah. Tepat menjadi bahan baku obat dan vitamin bagi ikan. Ketiga jenis tanaman tersebut adalah  Temu Kunci (Boesenbergia pandurata), Terung asam (Solanum ferox), dan Lempuyang (Zingiber zerumbet).

Risetnya pada 2017, menunjukkan penggunaan ekstrak ketiga jenis tanaman tersebut sebagai immunosimultan terhadap ikan nila dan lele. Meningkatkan kelulushidupan 100 persen setelah infeksi bakteri Aeromonas hydrophilia. Bakteri itu diketahui menginfeksi ikan air tawar, payau, sampai laut. Menyebabkan nafsu makan ikan turun. Pola renang melambat. Juga luka pada tubuh.

Pengobatannya bisa melalui pencampuran ekstrak rempah dengan bahan pangan atau perendaman bersama ikan yang sakit. Ekstrak Lempuyang yang ia olah juga ampuh sebagai bahan baku anestesi alami bagi ikan air tawar. Sangat membantu membius ikan agar tak mudah stres saat proses pengiriman luar daerah. Ketiga hasil penelitian Esti pun segera ia patenkan.

Lulus serangakain uji coba laboratorium dan lapangan membawa penelitian tersebut menjadi tiga jenis produk berbentuk cairan. Dikemas dalam botol 100 mililiter. Produk pertama bernama Bioimun. Meningkatkan ketahanan tubuh dan nafsu makan ikan. Mulai diproduksi 2016. Menyusul 3 in 1 Bioimun setahun setelahnya.

Dua tahun kemudian, dikeluarkan produk baru bernama Biofeed. Berbahan dasar Terung Asam. Sangat berguna meningkatkan bakteri. Baik dalam pencernaan ikan dan mengurangi amoniak sisa kotoran.

"Ini (dua produk) jamunya ikan. Ikannya sehat. Enggak bau amis. Kalau kita bilang, ikannya glowing. Kemilau, montok, nafsu makan meningkat," tutur Esti kepada kaltimkece.id, Selasa, 25 Februari 2020 di Rektorat Unmul.

Ekstrak rempah-rempah tersebut disambut positif pembudidaya ikan. Tak hanya dipasarkan di Kaltim, juga dipakai di Gorontalo, Banjarmasin, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, sampai Sumatra Utara.

Manfaat lain yang dirasakan adalah terbentuknya rantai produksi dari hulu ke hilir. Di hulu, ia bermitra dengan 20 petani di tiga desa untuk penyediaan bahan baku. Salah satunya di Desa Cipari, Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Sistem yang ia gunakan adalah pembelian langsung ke petani tanpa tengkulak. "Saya beli mahal dari petani diantar langsung ke kampus," katanya.

Diakuinya, produknya sempat dilirik perusahaan farmasi skala nasional. Meski demikian tawaran itu sempat ia tolak karena belum berorientasi bisnis. Kala itu niatnya ingin mengangkut citra Unmul di nasional. Tak heran, ia lebih memilih Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) dan Laboratorium Mikrobiologi Perikanan FPIK Unmul sebagai produsen produknya bersama dirinya.

Produknya mulai menuai sukses. Tahun lalu, ia bisa memproduksi 10 ribu botol produk di pabrik mini di kampusnya dengan omzet Rp 79 juta. Tahun ini, diperkirakan menyentuh lebih Rp 100 juta dengan peningkatan produksi 15 ribu botol per bulan.

Per botol kemasan 100 ml ia jual Rp 25 ribu. Belakangan, ia mulai menggandeng perusahaan Bio Perkasa memperbaiki mutu produk. Sementara untuk pemasaran, bekerja sama dengan PT Nutritek Perkasa. Total empat karyawan yang ia pekerjakan.

Ia masih melihat arah kebijakan kampus dan pemerintah terkait sektor perikanan. Harapannya, bisa bekerja sama dengan kampus terkait hilirisasi produk lainnya. Sekaligus inspirasi civitas akademika lain berinovasi. "Kami ingin Unmul punya pendapatan juga (dari hasil inovasi), tidak hanya andalkan uang kuliah dari mahasiswa. Jalannya memang enggak mudah," harapnya.

Perempuan yang sudah 11 tahun mengajar di FPIK Unmul tersebut menyebut kendala dalam riset penemuan baru adalah dana. Ia berbagi pesan, persoalan itu bisa diatasi lewat pengajuan proposal ke berbagai lembaga. Sebagai contoh, delapan riset terkait pengembangan akuakultur ramah lingkungan berbasis tanaman lokal Kaltim yang ia inisiasi 2012 lalu hingga 2021, dibiayai lembaga. Mulai Kementerian Pendidikan Tinggi, Kementerian Keuangan, sampai Islamic Devlopment Bank. Hitung-hitungan dia, ada Rp 5 miliar dana hibah mengucur membiayai penelitian terfokusnya itu.

Profesor Termuda di Unmul

Sejumlah riset menghasilkan 13 publikasi ilmiah skala nasional maupun internasional terindeks scopus. Rentetan kajian tersebut menjadi salah satu parameter penilaian Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Mengganjarnya gelar profesor atau guru besar dalam bidang ilmu parasit dan ilmu ikan pada Oktober 2019. Kala itu, perempuan kelahiran Lampung 1980 itu baru berusia 39 tahun. Bersama sembilan guru besar lainnya, ia dikukuhkan sebagai guru besar di ruang pertemuan lantai 4 Rektorat Unmul, Selasa, 25 Februari 2020. Sepuluh profesor itu diberi kesempatan memberi orasi ilmiah di hadapan ratusan tamu dari berbagai kalangan.

Rektor Universitas Mulawaman, Profesor Masjaya, bangga akan kerja keras 10 guru besar Unmul dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Tak mudah meraih gelar akademik tertinggi di kalangan dosen.

"Hari ini, kami lahirkan guru besar termuda di Unmul berusia 39 tahun. Sebelumnya paling muda 40 tahun," kata pria yang sempat menjadi pejabat di Fakultas Ilmu Sosial dam Politik ini.

Pada 2019, universitas negeri tertua dan terbesar di Bumi Etam itu berhasil menelurkan 12 guru besar dari berbagai kajian ilmu. "Tahun depan, kami targetkan 15 guru besar baru," ucap Masjaya.

Esti mengaku, keberhasilannya mencapai puncak karier tertinggi bagi dosen tak bisa dilepaskan dari dukungan keluarga. Khususnya suaminya yang sabar dan rela waktu luang bersama keluarga berkurang saat penelitian dan mengajar.

"Saya ingin tunjukkan bahwa menjadi guru besar pada usia sebelum 40 tahun itu mungkin. Apalagi, bagi perempuan seperti saya yang memiliki anak tiga yang masih kecil-kecil," tutur Esti merendah.

Sang suami, Sahid Agung Riyadi, sejak awal sadar konsekuensi memiliki istri dosen dengan jam terbang tinggi. Silang pendapat soal kurangnya waktu luang mengurus anak karena kesibukan masing-masing diakuinya hal biasa. Bisa disiasati dengan bantuan asisten rumah tangga. Sampai titik ini, ia memberikan kebebasan penuh kepada sang istri di dunia intelektual yang jadi minatnya.

"Jadi, tugas intelektual memastikan kebebasan berpikir. Ketika saya membatasi, ya sudah, stop. Tak ada nilai intelektualitas. Tugas saya membebaskan tanpa dasar dengan patokan kaidah yang harus diikuti," tutur pria 38 tahun yang lulusan D3 Hiperkes Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Solo yang kini berkarier di dunia pertambangan nikel. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

 

 

 

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar