Politik

Dinamika Pilkada Kukar 2020, Tokoh Gaek Bermunculan, dari Petahana hingga Pejabat Kesultanan

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 758 Kali
Dinamika Pilkada Kukar 2020, Tokoh Gaek Bermunculan, dari Petahana hingga Pejabat Kesultanan

DPC Gerindra Kukar membuka penjaringan sejak 11 Oktober 2019. (fachrizal muliawan/kaltimkece.id)

Figur yang bakal bertarung dalam pesta demokrasi Kukar tahun depan telah terlihat. Nama-nama familier merapat ke partai politik.

Ditulis Oleh: Fachrizal Muliawan
12 Oktober 2019

kaltimkece.id Pemilihan Bupati Kutai Kartanegara atau Pilbup Kukar 2020 mulai terasa. Diselenggarakan September 2020. Beberapa partai politik telah membuka penjaringan bakal calon pemimpin daerah kaya sumber daya alam tersebut.

PDI Perjuangan, NasDem, dan Gerindra diketahui telah membuka penjaringan. Bahkan, PDI Perjuangan menyelesaikan penjaringan sejak 19 September 2019. Sedangkan Gerindra membuka pendaftaran mulai Jumat, 11 Oktober 2019.

Pada hari pertama, dua bakal calon mengambil formulir di DPC Gerindra Kukar. Yang pertama adalah Hasanuddin Masud. Bambang Hermanto mewakili politikus Golkar yang saat ini berstatus anggota DPRD Kaltim.

Menurut Bambang Hermanto, Hasanuddin memiliki niat besar dalam kontestasi pemilihan bupati dan wakil bupati Kukar. Meski melaju ke DPRD Kaltim dari daerah pemilihan Balikpapan, Hasanuddin diklaim mendapat restu dari Golkar, partai yang menaunginya, untuk bertarung di Kukar. "Juga mendapat dukungan dari keluarga," ujarnya.

Bagi anggota DPRD, syarat bertarung di pemilihan kepala daerah atau pilkada, dimulai dengan mundur dari jabatan. Hasanuddin disebut menyadari hal itu. Dan siap mundur sebagai legislator demi bertarung di Pilkada Kukar. Keseriusan itu bakal dimulai dengan pengembalian formulir yang kelak dilakukan langsung oleh Hasanuddin.

Setelah Hasanuddin, pendaftar berikutnya adalah Ketua DPC Gerindra Kukar Rudiansyah. Sedari awal, Rudi—sapaannya menegaskan Gerindra terbuka untuk siapapun mendaftar. Dan posisinya sebagai ketua DPC, tak mendapat keistimewaan. Alias diperlakukan sama.

"Gerindra mendukung yang terbaik. Target kami perahu ini bisa membawa kemenangan di Kukar,” katanya.

Untuk mengusung calon di Pilkada Kukar, Gerindra termasuk partai yang mesti berkoalisi. Para periode ini, Gerindra menduduki tujuh dari 45 kursi di DPRD Kukar. Yang berarti, perlu dua lagi untuk dapat mengusung.

Komunikasi telah dilakukan dengan beberapa partai. Yang jelas, terang Rudi, Gerindra hadir dalam kontestasi politik untuk kemenangan bersama masyarakat Kukar.

Nama-Nama Gaek Bermunculan

Mulai panasnya mesin Pilbup Kukar terlihat dari nama-nama yang mencuat. Di antaranya Edi Damansyah sebagai petahana, Awang Yacoub Luthman, AM Gufron Yusuf, dan Eddy Subandi. Tokoh-tokoh tersebut sudah tak asing di telinga masyarakat Kukar. Keempatnya juga telah mengikuti penjaringan partai politik. Ada pula yang berencana memilih jalur independen.

Edi Damansyah saat ini menjabat bupati Kukar. Menjadikannya petahana dalam pilkada tahun depan. Sedangkan Awang Yacoub adalah anggota DPRD Kukar periode 2014-2019. Kini menjabat sekretaris Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Adapun Eddy Subandi pernah menjabat sekretaris Kabupaten Kukar era Bupati Syaukani Hasan Rais. Sedangkan Gufron mantan wakil bupati Kukar periode 2010-2015, mendampingi Rita Widyasari. Di antara nama-nama yang mencuat, Gufron memilih jalur independen.

Tunggu DPP

Semua nama yang telah disebutkan, diketahui ikut melakukan pengambilan formulir kala PDI Perjuangan Kukar membuka penjaringan. Namun dari kesemuanya, hanya Edi Damansyah dan Edi Subandi mengembalikan formulir. Sisanya adalah Ketua PAN Kaltim Darlis Pattolongi dan Ketua Hanura Kaltim Surpani Sulaiman. Di antara keempatnya, hanya Darlis melamar untuk bakal calon wakil bupati.

Ketua DPC PDI Perjuangan Solikin menuturkan, meski sudah mengembalikan formulir tak menjamin empat nama tadi diusung PDI Perjuangan. Nama para pelamar digodok di DPP PDI Perjuangan. "DPP yang menentukan siapa akan diusung," ujarnya.

Namun demikian, partai tersebut tak menutup kemungkinan justru sosok yang bakal diusung di luar empat nama pelamar. Dinamika politik membuat segala hal sulit diperkirakan. Apalagi PDI Perjuangan hanya memiliki tujuh kursi. Tetap memerlukan koalisi untuk mengusung calon. "Jadi mesti memerlukan dua kursi lagi," ujarnya.

Sementara itu, Golkar Kukar sebagai partai politik yang tak memerlukan koalisi untuk mengusung calon, tampak masih adem-ayem. Golkar di DPRD Kukar memiliki 13 kursi. Dan Ketua DPD II Golkar Kukar Abdul Rasid, menyebut kemungkinan penjaringan dihelat November 2019. Namun demikian, pengurus Golkar di Kukar masih menunggu instruksi. Baik dari provinsi maupun pusat. "Ketika ada instruksi membuka penjaringan, maka akan kami buka," ujarnya.(*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar