Politik

Farid Nurrahman Ramaikan Bursa Bakal Calon Wali Kota Samarinda, Dambakan Tepian Mahakam seperti di Sydney

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 1327 Kali
Farid Nurrahman Ramaikan Bursa Bakal Calon Wali Kota Samarinda, Dambakan Tepian Mahakam seperti di Sydney

Farid Nurrahman (kanan) menjabarkan rencananya di kantor kaltimkece.id.

Akademikus muda ini membawa ide besar untuk Samarinda dalam niatnya maju di kontestasi politik Kota Tepian tahun depan.

Ditulis Oleh: Bobby Lolowang
12 November 2019

kaltimkece.id Pemilihan wali kota Samarinda dihelat tahun depan. Satu per satu figur bermunculan. Mendeklarasikan niat bertarung dalam kontestasi politik tersebut. Salah satu yang telah membulatkan tekad adalah Farid Nurrahman.

Tanda-tanda majunya Farid dalam bursa bakal calon wali kota mulai terlihat seiring kemunculan wajahnya di berbagai ruas jalan Kota Tepian. Terpampang di baliho-baliho berbagai ukuran. Kemunculan di beranda media sosial juga tak kalah masif.

Pada Senin, 11 November 2019, Farid dalam kunjungannya ke kantor kaltimkece.id, Jalan Muso Salim, No 28, Samarinda Kota, menegaskan rencananya maju sebagai bakal calon wali kota Samarinda. Menegaskan niatnya yang muncul dari keresahan personal. Lahir dan besar di Samarinda, tak banyak perubahan terjadi hingga saat ini. “Maka saya turut menjadi kontestan untuk bisa membawa perubahan,” sebutnya kepada awak media ini.

Dalam pencalonannya, Farid mengusung tagline “Genbaper”. Kependekan dari Generasi Bawa Perubahan. Menurutnya, akronim ini memiliki keunikan. Mudah pula diingat. Terutama bagi para generasi muda.

Farid telah didukung oleh tim yang mayoritas para mahasiswa. Kebetulan, Farid juga seorang dosen yang mengajar di Institut Teknologi Kalimantan. Berisi tenaga dari berbagai bidang. Berkontribusi dalam program kerja hingga konsep penunjang lain. Selain para mahasiswanya di ITK, sejumlah lainnya merupakan lulusan Universitas Mulawarman.

Farid bukan tiba-tiba saja ingin jadi wali kota dan memimpin Kota Tepian. Jauh sebelum ini, ia turut mengupayakan kontribusi membangun kota. Berperan sebagai seorang profesional, dari keahlian ilmu planalogi yang ia kuasai. Berbagai pengalaman sebagai konsultan dijalankan di beberapa organisasi perangkat daerah (OPD). Dari level pemerintah daerah hingga kementerian. Di Kaltim, sejumlah kabupaten/kota telah menggunakan jasanya. Terlebih Samarinda.

“Namun dari berbagai persoalan yang dihadapi, Samarinda ini unik dan khusus. Enggak bisa hanya dituntaskan sebagai profesional. Namun mesti juga sebagai elite politik. Enggak bisa ditawar,” sebutnya.

Satu hal yang menjadi kunci untuk perbaikan Samarinda, adalah persoalan tata ruang. Sumber dari kebijakan setiap OPD di bawah Pemkot Samarinda. Dan selama bertugas sebagai konsultan di Kota Tepian, Farid mendapati budaya atau pola kerja yang justru menghambat terciptanya tata ruang ideal di ibu kota Kaltim. “Dan bukan hanya masalah tata ruang. Ada juga hal lain yang mesti bisa dihadapi,” terangnya lagi.

Meski masih terlalu jauh, Farid telah memiliki gambaran apa hal yang perlu dilakukan jika niatannya menjadi wali kota terwujud. Dengan kondisi Samarinda kini, penambahan dan perbaikan taman menjadi hal penting. Mengembangkan potensi besar kota ini di sepanjang tepi Sungai Mahakam. Suatu kawasan yang bila digarap serius, bisa menjadi seistimewa kawasan tepi sungai di Sydney, Australia.

“Kemudian mengatur trotoar hingga kawasan pedestrian. Sangat memungkinkan,” papar Farid.

Beriringan dengan itu, persoalan banjir tetap dapat penanganan serius. Menekan level luasan banjir dengan mempercepat durasi genangan setelah hujan. Jika biasanya surut dalam berjam-jam, menjadi hanya 15-30 menit.

Farid menyadari, dengan kehadirannya yang masih sangat muda, rentan dipandang sebelah mata. Bukan hanya oleh pesaing politik, tapi juga para calon konstituen. Bisa apa Farid di usianya yang masih 29 tahun? Terlebih ketika berhadapan para tokoh senior dan politikus populer yang telah lama mapan dalam panggung politik daerah.

Farid ogah menjadikan itu beban. Justru jadi motivasi. Apa bedanya dengan tokoh senior yang sudah lama eksis, tapi belum memberi kebanggaan untuk Kota Tepian. “Sudah geram dengan para senior yang telah melewati banyak kesempatan tapi entah apa hasilnya. Kenapa enggak pemuda saja?” (*)

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar