Politik

Kisruh Internal PKS Dipicu Perkara Wawali Samarinda dan Garbi

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 583 Kali
Kisruh Internal PKS Dipicu Perkara Wawali Samarinda dan Garbi

Kader arus bawah PKS mengadakan konferensi pers, Rabu, 17 Juli 2019. (Arditya Abdul Azis/kaltimkece.id)

Pencoretan nama Sarwono sebagai calon wawali Samarinda yang diusung PKS, berbuntut mundurnya ratusan kader partai.

Ditulis Oleh: Arditya Abdul Azis
20 Juli 2019

kaltimkece.id Sarwono digantikan Arif Kurniawan sebagai kandidat calon wakil wali kota Samarinda dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kebijakan tersebut menuai kekecewaan kelompok yang melabelkan diri kader arus bawah PKS.

Kekecewaan ditunjukkan dengan langkah mundur massal dari partai. Melepas atribut seperti baju, jas, topi, hingga kartu tanda anggota atau KTA partai berlambang padi dan bulan sabit tersebut. Aksi tersebut dilakukan di salah satu kedai Jalan Awang Long, Rabu sore, 17 Juli 2019.

Ikhwanul Toat adalah perwakilan Forum Kader Pendukung Sarwono. Ia juga Ketua Pengurus Depera Dadi Mulya. Tercatat sebagai calon legislatif dari PKS Daerah Pemilihan Samarinda Ulu. Ia didampingi sejumlah pengurus lain saat aksi mundur bersama pada Rabu sore itu.

Disebutkannya, gerkan angkat kaki berjamaah tersebut diikuti sekitar 200 kader. Terbagi dari DPD PKS Samarinda serta caleg DPRD kota dan provinsi di Kaltim. Kubu tersebut menilai Ketua DPD PKS Samarinda Dimyati Mustofa telah mengambil keputusan sepihak terkait calon yang diusung sebagai wawali Samarinda.

Ikhwanul Thoat mengklaim surat keputusan DPD PKS Samarinda cacat etika. Dalam penerbitan SK, tidak ada komunikasi sama sekali kepada Sarwono sebagai calon yang lebih dulu menerima SK dari DPP PKS.

"Mereka tidak memberikan alasan pasti atas pergantian Pak Sarwono ke Arif Kurniawan. Keduanya memang kader PKS. Tetapi, bagi kami yang memiliki peluang besar itu Bapak Sarwono," ucap Ichwanul Toat.

Saat ini, sejumlah kader yang mengundurkan diri, sebagian bergabung dengan Ormas Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi). “Kami mendesak agar pengurus DPD PKS Samarinda segera bertemu Sarwono dan segera meminta maaf. Karena cara seperti ini sangat tidak etis,” sebutnya.

Lama Tak Aktif

Saat dihubungi kaltimkece.id, Arif Kurniawan yang juga sekretaris DPW PKS Kaltim, mengatakan bahwa kader-kader yang mengundurkan secara maasal tersebut, sudah lama tidak aktif di PKS. “Ya, teman-teman tahulah. Ini soal keaktifan mereka di Garbi,” ungkapnya.

Arif membantah segala klaim yang dituduhkan kepada pengurus partai saat ini. Pergantian Sarwono sebagai calon wawali dari PKS sudah berdasar persetujuan partai. Ditetapkan lewat beberapa rapat. Dari tingkat DPD, DPW, hingga DPP.

Para kandidat sebelumnya termasuk kader eksternal PKS dari akademisi dan politisi. Namun kedua kader terpilih menolak ikut pemilihan wawali. Sehingga terpilihlah Arif Kurniawan dan Dimyati sebagai calon pengganti Sarwono.

"Saya tentunya merasa tidak enak. Saya dan beliau (Sarwono) teman dekat. Tetapi ini sudah menjadi keputusan partai. Saya tidak bisa menolak," ungkapnya.

Sarwono dikirimi surat pemanggilan untuk menjelaskan duduk perkara pergantian calon wawali Samarinda. Namun setelah dikirim tiga kali, Sarwono tak sekalipun menangapi. Pada rapat 10 Mei 2019, Sarwono tidak menghadiri dengan alasan sakit. Sejak itu, ia tak pernah memberi kabar lagi. "Kami terus menghubungi. Tapi tidak ada tanggapan."

Ketua DPD PKS Samarinda Dimyati Mustofa menyebut proses pergantian nama calon wawali sudah berlangsung lama. Tepatnya sebelum Pemilu dan Pileg April 2019. Alasannya terkait keaktifan Sarwono di Ormas Garbi.

Dimyati menyebut, kisruh antara PKS dan Garbi yang terjadi dari level pusat, membuat sejumlah kader PKS angkat kaki dari partai. Meski demikian, gejolak itu diklaim tak berimbas di tubuh partai. Termasuk untuk hasil pemilu. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar