kaltimkece.id Renatta Putri Johar adalah mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik di Universitas Mulawarman. Februari lalu merupakan kali pertama ia memilih di bilik suara. Kepada kaltimkece.id, kala itu ia menyebutkan preferensi pilihannya terpengaruh konten-konten di Tiktok.
"Dari konten-konten di Tiktok, saya memilih presiden yang terlihat dekat dengan rakyat," ucapnya.
Renatta merupakan satu dari beberapa mahasiswa yang diwawancarai kaltimkece.id pada 14 Februari 2024. Saat itu, GOR 27 Desember 'disulap' menjadi Tempat Pemungutan Suara (TPS) khusus untuk menampung mahasiswa rantau yang tak bisa pulang kampung untuk mencoblos. Renatta, yang merupakan mahasiswi asal Berau, memilih mencoblos di TPS tersebut.
Dari beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang diwawancara secara acak, semua sepakat bahwa media sosial menjadi sumber utama mereka dalam memperoleh informasi. Beberapa seperti Renatta menyebutkan Tiktok, sebagian lagi menyebutkan X atau Twitter. Namun pada dasarnya tetap sama, yaitu media sosial.
Fenomena itu berkelindan dengan survei Katadata Insight Center bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika. Dalam Status Literasi Digital di Indonesia 2022, media sosial disebut menjadi sumber informasi utama sejak 2020 hingga 2022.
Responden yang menjadikan media sosial sebagai sumber informasi cukup besar, mencapai 72,6 persen. Mengalahkan televisi dengan 60,7 persen, berita daring dengan 27,5 persen, media cetak 21,7 persen serta radio dengan 2,9 persen.
Adu Gimik Rudy-Seno dan Isran-Hadi
Bagaimana dengan di Kaltim? Dalam wawancara terpisah, kaltimkece.id mewawancarai Abdul Rahim yang mewakili tim media Rudy-Seno serta Dedi Priansyah yang mewakili tim media Isran-Hadi.
Abdul Rahim, ketua tim media Rudy-Seno mengakui bahwa media sosial menjadi salah satu saluran kampanye mereka. Ia memaparkan, bahwa sejauh ini Tiktok dan Instagram menjadi platform yang paling ramai dibandingkan platform lain.
"Sebenarnya semua kami garap, karena semua platform itu punya segmen masing-masing," ucap politisi PKS tersebut.
Dedi Priansyah, ketua tim media Isran-Hadi mengamini apa yang disebut Rahim. Tiktok dan Instagram ia sebut merupakan media yang paling banyak menarik masyarakat. Akan tetapi, Dedi menyebutkan bahwa pengguna Tiktok dan Instagram kebanyakan berasal dari kota besar seperti Samarinda dan Balikpapan.
"Di daerah seperti Kubar dan Mahulu, Tiktok kurang menggigit. Di sana kami lebih fokus ke Facebook," ujarnya.
Mengenai strategi kampanye, Rahim menyebutkan bahwa tim media Rudy-Seno fokus terhadap dua hal, yaitu kampanye positif serta counter kampanye negatif. Ia tidak menafikan bahwa Rudy-Seno diterpa berbagai isu. Sehingga, tim media berperan untuk mengklarifikasi kepada publik.
"Misalnya program Gratispol yang diusung Rudy-Seno dianggap mustahil menipu masyarakat, kita balas bahwa Gratispol itu dalam hitung-hitungannya sangat masuk akal," sebutnya. Klarifikasi itu, tambahnya, juga menjadi pencerdasan masyarakat dalam memahami pengelolaan anggaran.
Sementara itu, Dedi membantah jika tim media Isran-Hadi disebut melempar isu-isu negatif mengenai pasangan calon lain ke publik. Ia menyebutkan bahwa pihaknya fokus dalam membahas keberhasilan Isran-Hadi yang sebelumnya juga berpasangan di periode pertama.
Ia menambahkan, tim media Rudy-Seno seharusnya tak berlebihan menanggapi isu-isu negatif yang menerpa mereka. Ia justru menilai, bahwa sebagian dari isu tersebut merupakan bagian dari pencerdasan publik terkait rekam jejak pasangan calon.
"Kalau ternyata memang fakta, kenapa harus disembunyikan," kelakarnya.
Ada satu nama menarik di tim media Rudy-Seno, yaitu Irfan Wahid atau yang lebih dikenal Gus Ipang. Lembaganya yang bernama Ipang Wahid Stratejik turut menjadi konsultan dalam tim media Rudy-Seno. Sebagai informasi, Irfan Wahid merupakan konsultan yang turut memenangkan Prabowo-Gibran.
"Gus Ipang sebenarnya ingin istirahat setelah menjadi konsultan di Pilpres kemarin, namun kedekatannya dengan Rudy Mas'ud membuat dia mewakafkan waktu dan tenaganya sekali lagi," ujar Rahim.
Meskipun begitu, Rahim menyebutkan bahwa Ipang Wahid hanya fokus dalam mengemas ide dan gagasan dari Rudy Mas'ud dan Seno Aji. Ide jaminan sosial menggratiskan berbagai kebutuhan masyarakat, sebutnya, merupakan gagasan murni Rudy-Seno.
"Prosesnya itu Gus Ipang wawancara Rudy Mas'ud mengenai gagasan yang ingin diusung, kemudian meramunya agar gagasan itu bisa lebih diterima oleh masyarakat. Lahirlah Gratispol," tuturnya.
Sementara itu, Dedi menyebutkan bahwa tim media Isran-Hadi tak gentar dengan Irfan Wahid sebagai konsultan branding yang disewa Rudy-Seno dari Jakarta. Meski enggan menyebutkan nama, tim media Isran-Hadi juga memiliki konsultan media yang berasal dari Kaltim. "Kami yang lokal saja. Local pride," ucapnya setengah bercanda.
Menanggapi aktivitas tim media kedua paslon di pilkada Kaltim, Komisioner KPU Kaltim Abdul Qayyim Rasyid, mengatakan bahwa kampanye di media sosial pada dasarnya sah-sah saja. Asalkan mematuhi regulasi yang telah ditentukan oleh KPU. "Yang penting tidak melanggar UU ITE," sebutnya.
Ia mengingatkan bahwa pasangan calon wajib melaporkan daftar akun media sosial yang dipakai untuk kampanye. Jumlah maksimal akun media sosial berdasarkan Peraturan KPU 13/2024 serta Keputusan KPU 1363 adalah 20 akun dari masing-masing platform. Tim media Isran-Hadi maupun Rudi-Seno disebut telah melaporkan akun media sosial mereka.
"Mereka juga diwajibkan untuk mencantumkan dana yang dikeluarkan untuk iklan media sosial dalam laporan akhir rekening dana kampanye," paparnya.

Abdul Rahim dan Dedi Priansyah selaku tim media Rudy-Seno dan Isran-Hadi mengatakan bahwa mereka telah melaporkan akun media sosial mereka ke KPU. Rahim menuturkan bahwa tim media Rudy-Seno mendaftarkan tiga akun media sosial dari tiga platform yang berbeda. Sementara, Dedi bilang bahwa tim media Isran-Hadi melaporkan dua akun media sosial di dua platform yang berbeda.
Rahim mengakui bahwa fasilitas iklan media sosial turut dimanfaatkan tim media Rudy-Seno. Terutama Meta Ads, fasilitas iklan yang diberikan oleh perusahaan Meta yang menaungi Facebook, Instagram dan WhatsApp. "Jangkauannya lebih luas ketika memakai iklan, tetapi ya memang mesti bayar. Bagaimanapun media sosial itu kan memang bisnis," sebut Rahim.
Sementara itu, Dedi mengakui bahwa tim media Isran-Hadi turut menggunakan Meta Ads dalam memperluas jangkauan konten-konten mereka di media sosial. Akan tetapi, ia menyebutkan bahwa biaya yang dikeluarkan tidak begitu banyak. Penyebaran lebih banyak dilakukan dengan menyebarkan tautan konten di grup WhatsApp. "Biaya yang dikeluarkan untuk alat peraga kampanye jauh lebih besar. Memang beriklan di media sosial ini juga cenderung lebih murah," ucapnya.
Peta Akun Media Sosial Beriklan dari Rudy-Seno dan Isran-Hadi
Pascaskandal kebocoran data pada Pilpres Amerika Serikat 2017, perusahaan Meta mengeluarkan fasilitas Meta Ads Library yang bisa diakses publik. Melalui situs tersebut, masyarakat dapat melihat akun-akun yang menggunakan fasilitas iklan di platform Meta, termasuk biaya yang dikeluarkan. Kaltimkece.id menggunakan Meta Ads Library untuk memetakan akun media sosial beserta pengeluarannya yang terafiliasi dengan Rudy-Seno dan Isran-Hadi.
Dari 625 akun yang memiliki iklan Meta di Kaltim, terdapat 19 akun yang menampilkan konten-konten mengenai Rudy-Seno, serta 7 akun yang menampilkan konten-konten mengenai Isran-Hadi. Ketika ditotal, pengeluaran yang telah dikeluarkan akun-akun yang terafiliasi dengan Rudy-Seno berjumlah Rp28 juta, sementara akun-akun yang terafiliasi dengan Isran-Hadi berjumlah Rp12 juta.
Jumlah pengeluaran yang mereka keluarkan relatif sedikit dibandingkan dengan total pengeluaran untuk Meta Ads Library di Kaltim yang tercatat mencapai Rp130 juta. Jumlah pengeluaran terbanyak justru dikeluarkan oleh akun Madri Pani di Facebook, yang mencapai Rp61 juta. Sebagai informasi, Madri Pani merupakan calon bupati Berau yang berpasangan dengan Agus Wahyudi.

Narasi dominan yang diiklankan oleh akun-akun yang terafiliasi dengan Rudy-Seno, seperti disebutkan sebelumnya, banyak menampilkan mengenai kampanye terkait program Gratispol. Namun selain itu, beberapa iklan juga menampikan kedekatan Rudy-Seno dengan pejabat daerah lain di Kaltim hingga pejabat tingkat pusat. Mulai dari konten dukungan Andi Harun, hingga konten kebersamaan dengan Jokowi.

Sementara itu, narasi dominan yang diiklankan oleh akun-akun yang terafiliasi dengan Isran-Hadi, mayoritas memaparkan capaian-capaian kala menjadi gubernur dan wakil gubernur Kaltim. Akan tetapi, terdapat juga narasi 'menolak politik dinasti' yang mengarah kepada Rudy Mas'ud yang memiliki beberapa saudara kandung yang juga menjadi politisi di Kaltim.
Patut pula dicatat, jumlah akun yang tercatat di Meta Ads Library melebihi jumlah yang disebutkan oleh tim media Rudy-Seno maupun Isran-Hadi. Abdul Rahim dari tim media Rudy-Seno sebelumnya menyebutkan mendaftarkan tiga akun dari masing-masing platform. Sementara Dedi Priansyah dari tim media Rudy-Seno menyebutkan mendaftarkan dua akun media sosial di dua platform berbeda.
Dikonfirmasi mengenai itu, Abdul Rahim menyebutkan bahwa tak semua akun yang mengkampanyekan Rudy-Seno berasal dari tim media. Ia menyebutkan, bahwa terdapat relawan yang secara sukarela membuat akun-akun media sosial.
"Kalau dijumlah dengan akun relawan, mungkin jumlahnya mencapai ratusan," sebutnya.
Dedi Priansyah turut menyebutkan hal yang seragam. Selain relawan, kader-kader partai pendukung juga membuat konten-konten di media sosial mendukung Isran-Hadi di luar arahan resmi dari tim media.
Klarifikasi Dedi berkelindan dengan temuan kaltimkece.id. Dalam daftar akun yang tercatat di Meta Ads Library, terdapat akun @GeloraSamarinda serta @SahabatSafaruddin yang turut mengkampanyekan Isran-Hadi. Gelora merupakan partai asal Hadi Mulyadi, sementara Safaruddin merupakan ketua DPD PDIP Kaltim, yang menjadi partai pendukung Isran-Hadi.
Sementara itu, di daftar akun yang tercatat di Meta Ads Library, juga tercatat @PksKaltim sebagai akun yang mengkampanyekan Rudy-Seno. PKS merupakan salah satu partai pengusung Rudy-Seno.

Membentuk Citra lewat Dunia Maya
Akademikus Ilmu Komunikasi dari Universitas Mulawarman, Silviana Purwanti, menyebutkan bahwa wajar apabila calon kepala daerah memanfaatkan media sosial dalam berkampanye. Media sosial, khususnya yang dinaungi platform Meta, dapat memetakan demografi audiens yang disasar secara tepat. Baik secara usia maupun geografis daerah.
"Tinggal memakai dashboard profesional untuk mendeteksi penyebarannya," ucapnya.
Akan tetapi, biaya yang dikeluarkan untuk kampanye digital tak bisa semata-mata dilihat dari iklan yang disediakan oleh Meta. Peran buzzer atau pendengung dalam meramaikan kolom komentar konten pasangan calon yang lebih rumit untuk dipetakan juga patut dicermati.
"Pendengung itu, 'kan, ibarat suara dengung yang kemudian akan memancing kita untuk melihat," jelasnya. Keberadaan buzzer, sebutnya juga dapat 'merekayasa' algoritma sehingga menaikkan konten-konten tertentu.
Pengamat komunikasi politik dari universitas yang sama, Johantan Alfando, turut memberikan tanggapan. Ia menyebutkan bahwa media sosial berfungsi menciptakan citra atau persepsi tertentu kepada calon pemilih.
Mengenai Rudy-Seno, ia menyoroti konten-kontennya yang banyak menampilkan hubungan dengan pejabat-pejabat di pusat. Contohnya konten video Rudy Mas'ud di Ibu Kota Nusantara tatkala berbincang bersama Jokowi saat masih menjadi presiden.
"Pemilih Jokowi itu, 'kan, banyak, dari Projo misalnya. Tujuannya untuk memperlihatkan seolah-olah punya hubungan dekat dengan Jokowi. Padahal mungkin mengambil video-video singkat saja saat bertemu," sebutnya.
Konten-konten Rudy Mas'ud di media sosialnya juga memperlihatkan interaksi saat bertemu masyarakat. Johantan menilai, konten itu untuk memperlihatkan dirinya sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat.
Sementara untuk Isran-Hadi, ia menyoroti perubahan Isran Noor dari saat menjadi bupati di Kutai Timur sampai kemudian menjadi Gubernur Kaltim. Citra Isran saat di Kutim, sebutnya, cenderung serius. Berbeda dengan sekarang. "Mungkin ingin memperlihatkan bahwa kepala daerah juga bisa bercanda," ucapnya.
Perubahan Isran Noor, ia nilai mirip dengan yang terjadi pada Presiden Prabowo Subianto. Pada tiga Pilpres sebelumnya, ia cenderung mencitrakan dirinya sebagai orang yang tegas dengan latar belakang sebagai mantan jenderal TNI. Pada Pilpres 2024, Prabowo memakai citra 'gemoy' dengan baju berwarna biru muda cerah.
Akan tetapi, Johanthan menegaskan bahwa media sosial hanya dapat memoles citra. Pertemuan secara langsung, sebutnya lebih efektif. Format program dialog tatap muka seperti Desak Anies pada Pilpres lalu, sebutnya patut dicontoh.
"Calon kepala daerah mesti menyampaikan visi misi mereka secara langsung kepada rakyat, bukan hanya diwakili oleh tim sukses," tegasnya. (*)