kaltimkece.id Dinamika politik di Kaltim makin seru selepas kandidat gubernur dan wakil gubernur, Rudy Mas'ud-Seno Aji, diusung enam partai sekaligus. PDI Perjuangan menjadi satu-satunya kunci agar Pemilihan Gubernur Kaltim 2024 tidak diikuti calon tunggal.
Kepada kaltimkece.id, Ketua DPD PDIP Kaltim, Safaruddin, angkat bicara seputar dinamika politik daerah. Melalui sambungan telepon, Kamis, 11 Juli 2024, mantan kepala Kepolisian Daerah Kaltim itu menyatakan, proses dukungan kepada bakal calon gubernur/wagub Isran Noor-Hadi Mulyadi masih diproses.
Walaupun demikian, Safaruddin melanjutkan, dukungan DPD PDIP Kaltim terhadap Isran Noor tidak bersifat final. Pengurus PDIP di tingkat provinsi hanya menyampaikan usulan ke DPP PDIP. Sisanya, kewenangan pimpinan pusat.
"Finalnya nanti ditandatangani ibu ketua (Megawati Soekarnoputri)," jelasnya.
Sejauh ini, Isran-Hadi disebut dalam posisi terjepit karena belum mendapatkan satu pun rekomendasi partai. Syarat membentuk perahu di Pilgub Kaltim adalah diusung 11 kursi dari partai atau gabungan partai. Asa terakhir pasangan petahana tersebut hanya PDIP (9 kursi) ditambah PPP (2 kursi) atau Partai Demokrat (2 kursi). Itu sebabnya, PDIP memegang kunci pada pilkada kali ini.
Sebagai informasi, enam partai telah menyatakan mengusung Rudy-Seno di Pilgub Kaltim. Keenamnya adalah Partai Golkar (15 kursi), PAN (4 kursi), PKB (6 kursi), PKS (4 kursi), Partai Gerindra (10 kursi), dan Partai Nasdem (2 kursi). Total 41 kursi dari 55 kursi di DPRD Kaltim yang bergabung dalam koalisi gemuk ini.

Pengamat politik dari Universitas Mulawarman, Samarinda, Budiman, menilai, dinamika politik di Kaltim disebabkan kewenangan pimpinan pusat partai politik terlalu kuat. Pimpinan partai di daerah, sambungnya, seharusnya diberikan kewenangan lebih untuk menentukan kandidat yang diusung di pilkada serentak.
"Partai-partai di daerah lebih memahami kondisi dan kebutuhan daerah masing-masing," ucapnya.
Meskipun begitu, ia memprediksi Pilgub Kaltim tidak akan diikuti calon tunggal. Ada potensi Ketua Umum PDIP, Megawati, menunjuk Isran Noor. Keputusan tersebut dapat dilatarbekalangi keretakan hubungan antara Megawati dengan Presiden RI Joko Widodo. Lagi pula, kata Budiman, konfigurasi partai pengusung kandidat di beberapa pilkada memperlihatkan PDIP yang ingin menyaingi pasangan yang diusung Koalisi Indonesia Maju.
Di sisi lain, Budiman justru menilai posisi Hadi Mulyadi sebagai pendamping Isran Noor dapat terancam. PDIP yang kini memegang kunci diyakini akan mengusulkan calon pendamping. Ditambah lagi Partai Gelora yang dipimpin Hadi Mulyadi tidak memiliki kursi di parlemen.
Mengenai analisis itu, kembali ke Safaruddin selaku ketua DPD PDIP Kaltim sekaligus kader partai, menegaskan keengganannya maju di Pilgub Kaltim. Safaruddin mengaku ingin fokus mewakili Kaltim di Senayan setelah terpilih sebagai anggota DPR RI dalam Pileg 2024.
Desas-desus yang lain menyatakan Isran Noor berpotensi diduetkan dengan Edi Damansyah, bupati Kukar, yang notabenenya kader PDIP. Namun rencana tersebut batal setelah terbit peraturan KPU yang memungkinkan Edi maju kembali di Pilbup Kukar.
Iswan Priadi, ketua Tim Sukses Isran-Hadi menyebutkan bahwa setidaknya dua partai akan yang mendukung pasangan tersebut. Meskipun begitu, ia masih menunggu partai-partai tersebut mengeluarkan rekomendasi.
"Kedua partai tersebut, suaranya mencukupi (untuk mengusung paslon)," sebutnya.
Sebelumnya, Hadi Mulyadi menegaskan bahwa ia dan Isran Noor masih kompak menatap Pilgub Kaltim 2024. Memang, kata dia, segaka kemungkinan terbuka lebar. Akan tetapi, ia menyatakan bahwa Isran-Hadi sebagai petahana tetap kembali berpasangan untuk melanjutkan periode kedua mereka. (*)