Ragam

Belajar dari Canberra, Bagaimana Australia Perlu 45 Tahun Mengubah Desa Menjadi Ibu Kota

person access_time 2 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 1113 Kali
Belajar dari Canberra, Bagaimana Australia Perlu 45 Tahun Mengubah Desa Menjadi Ibu Kota

Gedung parlemen Australia di Canberra (foto: Cudoybook)

Dalam lawatan ke Canberra, Presiden Jokowi berharap bisa meniru Australia dalam membangun ibu kota negara. Mungkinkah model kota seperti Canberra, salah satu yang terbaik di dunia, hadir di Kaltim?

Ditulis Oleh: Mustika Indah Khairina
12 Februari 2020

kaltimkece.id Kedatangan bangsa berkulit terang dari Eropa pada 1800-an membawa peradaban baru di tanah Australia. Benua di belahan bumi selatan ini kerap menjadi lokasi favorit untuk membuang para kriminal seperti pembunuh, penyamun, dan bajak laut dari Inggris.

Setelah hampir seabad orang-orang Eropa bermukim, negeri ini pun ramai. Penduduk terkonsentrasi di dua kota utama yakni Sydney dan Melbourne. Pada akhir abad ke-19, Australia ditetapkan sebagai anggota persemakmuran Inggris Raya --berlaku sampai sekarang. Sebuah pemerintahan federasi pun dibentuk. Tibalah saat menentukan ibu kota negara. 

Dua kota terbesar, Melbourne dan Sydney, segera bersaing sebagai calon ibu kota menjelang 1908 (The Oxford Companion to Australian History, 1998, hlm 464–465). Kompetisi keduanya mirip seperti Kaltim dan Kalteng yang pernah sama-sama diunggulkan sebagai pengganti Jakarta. 

Kompromi panjang pemerintah federal bersama parlemen akhirnya rampung. Lokasi yang ditetapkan sebagai ibu kota adalah negara bagian (semacam provinsi di negara berbentuk republik) New South Wales, kelak bernama Australian Capital Territory. Syaratnya, lokasi itu tidak lebih 160 kilometer dari Sydney. Sedangkan Melbourne, supaya adil, dijadikan pusat pemerintahan sementara selama ibu kota dibangun. 

Parlemen membuka sayembara internasional untuk desain ibu kota pada 1912. Rancang bangun milik arsitek Amerika Serikat, Walter Burley Griffin, yang terpilih. Arsitek itu ditunjuk sebagai direktur desain dan konstruksi. Namun karena berbagai masalah politik, Griffin diberhentikan setelah bekerja sewindu lamanya. 

Pembangunan Canberra sebagai ibu kota lantas terkatung-katung. Pemerintah berupaya membentuk komite ibu kota yang bertugas mengimplementasikan desain Griffin. Sepanjang perjalanan, pemimpin komite yang berkali-kali berganti hanya mencangkokkan visi mereka yang berbeda-beda (Canberra: From History to Heritage in a Modern Planned Capital City, 2005, hlm 432-435). 

Keadaan itu berlanjut begitu krisis finansial melanda dunia pada 1930-an --dimulai dari Depresi Besar di Amerika Serikat. Keputusan Australia untuk terlibat dalam Perang Dunia Kedua turut memperkeruh keadaan. Negara ini mengirim hampir satu juta pasukan. Ongkos pembangunan ibu kota yang bersumber dari dana pemerintah pun tergerus karena membiayai perang.  

Ibu Kota Rasa Desa

Dua puluh tujuh tahun setelah proyek pemindahan ibu kota ditetapkan, Canberra menjadi tuan rumah hajatan besar. Rapat Asosiasi Australia-Selandia Baru untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan (ANZAAS) ke-24 dihelat di kota itu pada Januari 1939. Dalam laporannya, The Canberra Times menulis bahwa Canberra kewalahan. Kota itu tidak mampu menampung 1.250 perwakilan. Tenda-tenda pun didirikan di tepi sungai untuk menampung peserta. 

Sampai Perang Dunia II berakhir, Canberra tidak banyak berubah. Kota itu hanya memanen kritik. Ibu kota Australia dianggap lebih mirip desa. Bangunan-bangunannya berantakan dan jelek. Canberra bahkan disebut sebagai "kumpulan kota pinggiran yang mencoba menjadi satu kota." Sebuah stempel yang mencorengkan jelaga ke wajah Perdana Menteri Sir Robert Menzies yang menjabat pada 1950-an (Canberra 1954–1980, 1980, hlm 230-242). 

Tekanan juga datang dari negeri sendiri. Para pegawai negeri, contohnya, khawatir kepindahan ke ibu kota baru mengubah gaya hidup mereka yang nyaman di Melbourne. Pokoknya, keadaan itu membuat perdana menteri amat malu. 

Dari rasa malu itulah, PM Menzies terpecut semangatnya. Ia segera memberhentikan dua menteri yang bertugas mengembangkan kota. Penataan kota baru lekas dimulai. Sejumlah infrastruktur kota, kantor-kantor pemerintah, hingga perumahan umum terus dibangun. Pegawai negeri dipindahkan bertahap. 

Hasilnya tergambar jelas. Periode 1955 sampai 1975, populasi Canberra naik 50 persen setiap lima tahun (hlm 130-140). Canberran, sebutan bagi penduduk Canberra, mulai bisa menegakkan kepala setelah 45 tahun sejak kota mereka diputuskan sebagai ibu kota negara.  

Gambaran Keberhasilan Canberra

Presiden Joko Widodo baru saja tiba dari lawatannya ke Canberra. Dalam kunjungan tersebut, Indonesia meratifikasi perjanjian perdagangan bilateral dan menandatangani nota kesepahaman Rencana Aksi Kemitraan Strategis dan Komprehensif 2020-2024 (Presiden Jokowi Tiba di Indonesia Usai Lawatan ke Australia, 2020). 

Jokowi sempat meninjau Canberra dari kawasan Mount Ainslie. Ia berharap, Indonesia bisa meniru hal baik dari Canberra seperti segi perencanaan dan tata kota.

Baca juga:
 

Sebagai model sebuah ibu kota, Canberra memang menggoda. Jalan-jalannya lebar, rapi, dan teratur. Pejalan kaki dan pengguna sepeda diberi kemewahan luar biasa karena tidak perlu berkompetisi dengan pengendara mobil. Saking lebar jalannya, pada jam-jam sibuk sekalipun, mobil dan bus bebas melengang. Kemacetan lalu lintas adalah barang langka di kota ini. 

Canberra yang modern segera menjadi kota yang menarik untuk dihuni. Mahasiswa dari seluruh penjuru Australia dan dunia datang menempuh studi di institusi pendidikannya yang berkualitas. Bisnis lokal menjamur. Komunitas-komunitas start-up didukung penuh pemerintah, sebagaimana reporter kaltimkece.id saksikan ketika menempuh pendidikan di Melbourne.

Danau artifisial Burley Griffin --diambil dari nama arsitek yang mendesain ibu kota-- membelah kawasan perkantoran dengan permukiman. Meski dipisahkan sebuah tasik, jarak dari hunian warga menuju kantor dan pusat pelayanan masyarakat sebenarnya tidak berjauhan.  

Wilayah teritorial ibu kota Australia dikelilingi 43 cagar alam. Demikianlah sebabnya, penduduk Canberra terus-menerus dimanjakan pemandangan alam nan indah. Danau-danau yang sejuk menghidangkan keromantisan. Bukit-bukit hijau kokoh berdiri tanpa terhalang gedung pencakar langit. Canberra adalah kota yang beradaptasi dengan lansekap alamnya, bukan sebaliknya seperti Jakarta atau Samarinda.

Dunia segera mengakui Canberra sebagai model kota baru yang sukses. Tahun lalu, Canberra menjadi kota terbaik di Australia versi survei realestate, situs properti terbesar di negara itu. Penduduk Canberra digambarkan sangat puas dengan kondisi keamanan. Harga perumahan juga terjangkau. Layanan kesehatan dan pendidikan berkualitas tinggi dengan prospek pekerjaan yang baik (Canberra residents are the happiest in the country).

Pencapaian Canberra adalah catatan penting bagi Indonesia yang hendak memindahkan ibu kota negara ke sebuah desa bernama Pemaluan, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara. Tidak seperti ibu kota baru di Indonesia, Canberra awalnya hanya menyiapkan permukiman untuk 25 ribu orang (Walter Burley Griffin is Dead. Long Live Walter Burley Griffin’s Planning Ideals, 2013, hlm 7). Bandingkan dengan rencana pemerintah Indonesia yang menyiapkan ibu kota baru untuk 1,5 juta pegawai negeri beserta keluarga. 

Dalam A History of Canberra (2011), populasi kota ini di bawah 9.000 jiwa pada 1933. Setelah 86 tahun, sesuai sensus terbaru, penduduk Canberra bahkan "hanya" 400 ribu jiwa pada 2019. Ibu kota Australia dengan wilayah 2.538 kilometer persegi ini tidak lebih padat dari Balikpapan. Kota Minyak saat ini dihuni 667 ribu jiwa, padahal, luas wilayahnya hanya seperempat Canberra.

Dari semua itu, sudah benar bila Presiden Jokowi memilih Canberra sebagai percontohan pemindahan ibu kota. Yang harus Presiden buktikan berikutnya tinggallah memastikan kestabilan politik, pendanaan yang cukup, menghargai lingkungan, dan meredam urbanisasi. Cukup Perdana Menteri Menzies saja yang pernah menanggung hina karena kegagalan pendahulunya membangun ibu kota. (*)

Editor: Fel GM

Senarai Kepustakaan
  • Brown, Nicholas, 2014,​ ​A History of Canberra​, ​Cambridge University Press.
  • Davison, Graeme; Hirst, John; Macintyre, Stuart, ed. 1998. The Oxford Companion to Australian History. Oxford University Press.
  • Disdukcapil Balikpapan (website), 2019, ​Jumlah Penduduk,​ Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
  • Humas Kemensetneg RI, Februari 11, 2020,​ ​Presiden Jokowi Tiba di Indonesia Usai Lawatan ke Australia​, Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia.
  • Vernon, Christopher, 2005,​ ​Canberra: From History to Heritage in a Modern Planned Capital City​, ​Beijing Union University.
  • Wensing, Ed, 2013,​ ​Walter Burley Griffin is Dead: Long Live Walter Burley Griffin's Planning Ideals, Urban Policy and Research.
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar