kaltimkece.id Aula Perpustakaan Kota Samarinda sudah ramai sejak pagi. Mereka memadati sebuah ruangan untuk mengikuti peluncuran dan diskusi buku tentang sejarah Islam di Kaltim, Kamis, 2 April 2026. Acara tersebut diselenggarakan Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB). Ulama, keluarga tokoh agama, akademisi, hingga pegiat literasi hadir.
Buku tersebut berjudul Sejarah Islam di Kalimantan Timur: Empat Setengah Abad Jaringan Dakwah, Ulama, dan Peradaban dari Kerajaan hingga Republik. Ditulis Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kaltim sekaligus Rektor Universitas Mulawarman, Abdunnur, serta sejarawan publik Muhammad Sarip. Tiga bulan naskahnya disusun dan menjadi sebuah pustaka setebal 208 halaman.
Abdunnur menjelaskan, pembuatan buku tersebut berangkat dari minimnya referensi sejarah di Kaltim. Buku ini disebut titik awal agar lebih banyak buku sejarah Kaltim yang dihasilkan dan bisa menjadi referensi nasional bahkan global. Sejarah dalam bentuk buku, sebut guru besar tersebut, merupakan bekal persiapan generasi muda memahami sejarah.
Buku ini disebut akan dijadikan persembahan utama dalam Forum Konsorsium Universiti Universitas Borneo (KUUB). Universitas Mulawarman akan menjadi tuan rumah. Adapun KUUB, merupakan forum perguruan tinggi internasional yang mewadahi tiga negara yakni Indonesia, Malaysia, dan Brunei.
"Ini akan menjadi referensi bagi semua perguruan tinggi yang tergabung dalam KUUB untuk memahami perkembangan Islam di Kalimantan, khususnya Kaltim," jelas Abdunnur.
Buku ini disusun menggunakan narasi historiografi dengan gaya populer. Isinya perspektif tentang sejarah Islam di Kaltim. Pembaca juga diajak menyelami proses pertumbuhan agama hingga mengakar di masyarakat.

Muhammad Sarip yang juga selaku penyusun menguraikan, buku ini mengandung pelajaran mengenai perjuangan tokoh masa lampau dalam menghidupkan agama Islam.
"Kami tekankan, menghidupkan agama, bukan mencari hidup di agama," ujarnya.
Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia Kota Samarinda, Inui Nurhikmah, menilai buku ini menambah koleksi buku sejarah Kaltim. Ia mengakui koleksi buku sejarah lokal sangat kurang di Perpustakaan Kota Samarinda.
Sebagai informasi, peluncuran dan diskusi ini dimoderatori Nur Suci Sirana. Narasumber yang hadir di antaranya Ketua Umum MUI Kaltim, KH Muhammad Rasyid; Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia Kota Samarinda, Inui Nurhikmah; serta Ketua Lasaloka-KSB sekaligus tim ahli cagar budaya, Fajar Alam. Ada pula perwakilan generasi Z yakni peneliti SIDEKA Fakultas Syariah UINSI, Ira Fadia Herviska Putri; serta mahasiswa S-2 Pendidikan Sejarah UNS Surakarta, Muhammad Ilham Syahputra.
Selain penjelasan dari kedua penulis, narasumber yang lain memberikan tinjauan mereka atas buku tersebut. Sementara para peserta diskusi antusias mengajukan pertanyaan maupun masukan.
Arsinah, satu dari antara peserta, mengusulkan agar cerita sejarah dapat disajikan dalam bentuk komik maupun suara agar sesuai dengan minat generasi muda. Sementara itu, Ira Fadia yang merupakan peneliti SIDEKA mengaku telah mengadakan mini-riset kepada sejumlah mahasiswa. Sebanyak 70 persen generasi muda cenderung tertarik membaca novel dibanding buku sejarah.
Namun demikian, menurutnya, karya Abdunnur dan Sarip telah menggunakan gaya bahasa yang baik sehingga mudah dimengerti dan menarik minat pembaca awam sekalipun. Ia juga mengapresiasi pendapat ahli dalam penyajian buku tersebut. Melihat tingginya respons, Abdunnur dan Sarip mengatakan akan kembali menghadirkan karya yang lebih baik. (*)