Ragam

Kisah Desy Soleha, Guru yang Beralih Menjadi Pelukis Batik Demi Menyejahterakan Buruh Perempuan

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 792 Kali
Kisah Desy Soleha, Guru yang Beralih Menjadi Pelukis Batik Demi Menyejahterakan Buruh Perempuan

Desy Soleha Syafril, pengrajin batik dari Samarinda. (foto: giarti ibnu lestari/kaltimkece.id)

Harga produknya mencapai Rp 2 juta. Dijual hingga luar negeri. Sebuah usaha dari kegelisahan seorang perempuan di Samarinda terhadap seni yang mulai pudar.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
30 Maret 2022

kaltimkece.id Meski sedang kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Mulawarman, Samarinda, tak membuat Desy Soleha Syafril puas. Ketika kuliahnya libur agak panjang, perempuan yang haus ilmu ini terbang ke Yogyakarta. Di Kota Pelajar, ia mengikuti kursus melukis aliran abstrak dan kontemporer.

Waktu itu, masih sangat langka perempuan mengambil jurusan seni. Tapi saya sangat menyukainya,” kata perempuan berhijab itu kepada kaltimkece.id, pekan lalu.

Ilmu yang didapatkan dari kuliah dan kursus tersebut lantas Desy bagikan kepada para pelajar Kota Tepian. Pada 2005, setelah lulus kuliah, ia mengajar seni budaya di SD 019 Samarinda. Tiga tahun berselang, ia pindah ke SMK 3 Samarinda. Di sekolah kejuruan ini, ia mengajar tentang seni kerajinan tangan, tarian daerah, dan membuat baju daerah.

Suatu hari pada 2015, Desy bermuram durja di sudut kota. Ia melihat, tak sedikit warga Samarinda amat menyukai seni namun tak banyak wadah untuk menampung bakat mereka. Naluri seni dalam diri Desy segera bekerja. Setelah 15 tahun mengajar, ia memberanikan diri pensiun dini dari dunia pendidikan. Tak ingin seni mati, jalan yang dipilih selanjutnya adalah membuka usaha batik.

Mula-mula, Desy membuka rumah kreatif bernama Pengrajin Batik Putri Syafril di Perumahan Bukit Pinang Bahtera Indah, Samarinda Ulu. Dalam membangun bisnis ini, ia melibatkan para buruh perempuan seperti penyertika pakaian, pemulung, hingga petani, yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini ia lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan buruh. Biasanya, para buruh bekerja di rumah kreatif dari siang sampai malam. Sedangkan pagi sampai siang, mereka mengerjakan tugas utamanya.

Saya senang mereka bekerja di sini walaupun hanya mencari tambahan untuk keluarga. Mereka pun sudah mahir membatik,” tutur Desy yang kini berusia 40 tahun.

_____________________________________________________PARIWARA

Dalam membuat batik, Desy mengolaborasikan seni mencanting dan melukis. Menariknya, ia menggunakan keanekaragaman Kaltim sebagai motif produknya. Jukut pija (bahasa Kutai artinya ikan asin), misalnya, dilukis Desy di atas kain. Selain jukut pija, sejumlah hasil alam Kaltim yang dijadikan motif batik adalah daun pucuk singkil, bawang tiwai, buah nipah, buah kuranji, kelambu haruan, bunga labu, gelombang mahakam, seraong (topi khas Kutai), hingga sisik naga erau yang mempunyai arti.

“Artinya itu ada banyak seperti kemakmuran, kesejahteraan, kewibawaan, hingga kesuciaan,” urai ibu empat anak ini.

Uniknya lagi, Desy menggunakan perwarna alami untuk membuat batik. Bahan dasar pewarnanya dibuat dari daun mangga, nipah, daun rambutan, biji alpukat, kulit jengkol, kayu secang, hingga daun ketapang. Setiap produknya dijual dari harga Rp 350 ribu sampai Rp 2 juta. Meski terbilang mahal, batik buatan Desy rupanya sangat digemari. Ia kerap menerima pesanan batik dari sejumlah instansi pemerintah provinsi dan pemerintah kota.

Per bulan, sebut Desy, pesanan batik bisa mencapai 100 lembar dengan ukuran sekitar 2,5 meter. Tak hanya dalam negeri, ia juga memasarkan produknya ke luar negeri. Dalam upaya ini, Desy dibantu adiknya yang tengah menempuh pendidikan di Australia. Sang adik disebut menjual peoduk-produk buatan Desy di berbagai bazar di Negeri Kanguru.

Dari pesanan-pesanan tersebut, saya kerap mendapat ide-ide baru untuk memperkaya motif batik,” akunya, tersenyum.

Melihat besarnya antusias masyarakat terhadap batik, Desy membuka lagi rumah kreatif di Desa Danau Semayang, Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara. Namanya Rumah Kreatif Arsy. Dalam usaha ini, Desy menggunakan jasa ibu-ibu rumah tangga yang tinggal di lingkungan Rumah Kreatif Arsy. Sebagian dari mereka juga memiliki usaha membuat ikan asin dan kerupuk.

Saya yang ajak mereka membuat batik. Saya sendiri yang biayai mereka. Alhamdulillah, mereka menyambut baik. Saya senang bersama mereka. Seru, tutur Desy.

Bukan hanya membuat batik, dalam usaha ini, Desy juga tak sungkan membagi ilmunya. Sebelum pandemi Covid-19 melanda negeri ini, ia kerap dikunjungi sejumlah mahasiswa dari luar negeri yang mengikuti program pertukaran pelajar di Unmul. Para mahasiswa tersebut berasal dari berbagai negara seperti Ceko, Rusia, Brazil, Jepang, hingga Korea. Di rumah kreatif milik Desy, mereka belajar membatik.

_____________________________________________________INFOGRAFIK

Selain membatik, Desy juga seorang pengurus Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) DPC Samarinda. Sekretaris Jenderal IWAPI Samarinda, Rubiatul Adwiah, menjelaskan, organisasinya bergerak di bidang pemberdayaan kaum hawa. Ada 200 perempuan dari 100 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergabung dalam IWAPI.

Tujuan kami adalah menyejahterakan seluruh pengusaha wanita, terutama di masa pendemi ini, jelas Rubiatul. Untuk memuluskan tujuan ini, IWAPI Samarinda bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Samarinda.

Kamis, 24 Maret 2022, sejumlah petugas dari DP3A Samarinda berkunjung ke rumah kreatif milik Desy di Perumahan Bukit Pinang Bahtera Indah. Sekretaris DP3A Samarinda, Deassy Evriyani, mengatakan, kunjungan ini merupakan bagian dari program Desa Industri Rumahan milik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Tujuannya membina UMKM yang bergerak di bidang industri kain lokal.

Di Samarinda, ada tujuh kelurahan yang kami bina. Tahun depan akan lebih banyak lagi hingga 59 kelurahan, tutup Deassy. (*)

Editor: Surya Aditya

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar