Ragam

Kisah Klasik Mahasiswa dari Samarinda yang Merancang Gim Autisme, Sempat Dianggap Aneh

person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 1120 Kali
Kisah Klasik Mahasiswa dari Samarinda yang Merancang Gim Autisme, Sempat Dianggap Aneh

Muhammad Ardy Putra tengah memberikan edukasi kepada anak-anak. (foto: istimewa)

Mahasiswa ini dulunya penyandang disabilitas. Kini ia menjadi seorang programmer untuk para autis.

Ditulis Oleh: Samuel Gading
15 Januari 2022

kaltimkece.id Malam sudah larut tetapi Muhammad Ardy Putra, 21 tahun, masih terjaga di depan komputer jinjing. Sedari tadi ia sibuk mengetik ribuan kode komputer atau coding untuk membuat aplikasi permainan. Pekerjaan mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Samarinda itu beres tepat ketika azan subuh berkumandang.

Beberapa hari kemudian, Selasa, 21 Desember 2021, Ardy pergi ke kantor Dinas Pendidikan Samarinda. Sejumlah pejabat Pemkot Samarinda sudah menunggunya di sana. Tak ingin membuang waktu, Ardy segera mempresentasikan aplikasi gim yang dibuatannya tadi kepada para pejabat.

Aplikasi tersebut, sebagaimana yang disampaikan Ardy kepada kaltimkece.id, berbeda dengan aplikasi permainan yang lain. Ia merancangnya khusus untuk memberi terapi visual para penyandang autisme. Tajuk aplikasinya saja Fun Education Autisme. Permainan multiinteraktif itu dibuat menggunakan aplikasi pengembangan bernama Unity.

“Aplikasi ini berguna melatih konsentrasi, ketelitian, dan ketajaman kognitif anak untuk menyerap serta mengingat berbagai pengetahuan dasar,” terang Ardy di kantor Pusat Layanan Autis (PLA) Samarinda, Kamis, 13 Januari 2022.

_____________________________________________________PARIWARA

Ada sejumlah fitur di aplikasi buatan pemuda tersebut. Dua di antaranya tentang bermain dan belajar. Dalam fitur bermain, ada tiga opsi pilihan yakni menebak hewan, mencari warna, dan menentukan bentuk benda. Sedangkan fitur belajar, tiga opsi pilihannya yaitu mengenal hewan, warna, dan bentuk. Sistem belajarnya seperti memberi pertanyaan dan pilihan ganda. Para penggunannya dituntut memilih jawaban yang tepat.

Ardy mengembangkan aplikasi tersebut bersama beberapa psikolog dan terapis PLA Samarinda. Beberapa pengajar di instansi tersebut bahkan menjadi pengisi suara aplikasi. Kesulitan para anak berkebutuhan khusus untuk berkonsentrasi menjadi inspirasi Ardy membuat gim ini.

“Anak berkebutuhan khusus itu, diminta menunjuk suatu benda saja sudah sulit. Makanya, saya buat aplikasi ini agar mereka senang dan termotivasi belajar,” kata Ardy.

Masa Kecil

Ardy adalah anak kedua dari pasangan Ediansyah dan Tien Amina. Ediansyah merupakan pegawai negeri sipil. Sedangkan Tien Amina berprofesi sebagai guru untuk anak usia dini. Ardy tahu betul kebutuhan para autis karena dirinya sendiri sempat menyandang autisme. Pada masa kecilnya, ia tidak bisa bicara sempurna. Bahkan, ia pernah mengalami perundungan dari teman-temannya.

“Saya dianggap aneh. Bahkan, pernah dilempar ke tong sampah. Tapi saya pede dan tidak pernah menyerah,” cerita Ardy mengisahkan masa silamnya.

Untungnya, Ardy memiliki dua orangtua yang amat mencintainya. Upaya Ediansyah dan Tien Amina mencarikan pengobatan untuk Ardy, tak pernah putus. Asa muncul ketika Ardy duduk di bangku kelas I SD. Ia bertemu Agus Prasetyo, kini kepala Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina Samarinda. Dengan penuh kesabaran, Agus melatih kemampuan motorik dan wicara Ardy. Hasilnya pun sungguh menakjubkan. Perlahan tapi pasti, bersama Agus, Ardy bisa berbicara dan bersikap seperti manusia yang lain. “Sampai saya bisa SMA, kemudian berkuliah,” ucapnya.

_____________________________________________________INFOGRAFIK

Terinspirasi dari Anime

Ardy jatuh cinta dengan film animasi dari Jepang ketika masuk SMA. Film anime seperti Puella Magi Madoka Magica, Girls und Panzer dan Hunter x Hunter, sudah dikhatamnya. Menurut Ardy, alur cerita dan produksi anime terlihat canggih. Inipula yang membuatnya tertarik mempelajari ilmu komputasi sehingga selepas lulus sekolah, ia mendaftar di Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi Universitas Mulawarman. Akan tetapi, ia tidak diterima.

Keinginan Ardy meraup ilmu komputasi sudah membuncah. Ia pun mendaftar di Politani Samarinda, Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak, Jurusan Teknik dan Informatika. Di perguruan tinggi inilah ia membuat berbagai aplikasi. Selain Fun Education Autisme yang dibuat saat magang industri di PLA untuk tugas akhir kuliah, ia juga membuat aplikasi permainan bertajuk Mr Glasses Maker saat duduk di bangku semester empat. Gim ini juga untuk melatih pola pikir dan konsentrasi pemainnya.

“Waktu bertemu 2021 lalu, saya bilang ke dia, ini (aplikasi buatan Ardy) keren, lho,” kata Moehamad Goufur, pelaksana tugas Kepala UPT PLA Samarinda, kepada kaltimkece.id. “Ini bukti kalau anak berkebutuhan khusus, juga bisa melahirkan inovasi yang luar biasa,” imbuhnya.

Fun Education Autisme saat ini belum tersedia di App Store maupun Google Play. Ardy menjelaskan, pendaftaran hak paten aplikasi tersebut masih berproses di Dirjen Kekayaan Intelektual Kementrian Hukum dan Ham. Ia pun masih harus memperbaiki bug dan menambah beberapa fitur gim. Rencannya, bersama pemkot, aplikasi tersebut diterapkan di beberapa sekolah anak berkebutuhan khusus di Samarinda.

Ardy seperti malaikat tak bersayap bagi para autis. Cita-citanya pun sederhana tapi mulia. Ia hanya ingin menjadi Youtuber virtual. “Yang isi kontennya tentang persoalan autisme,” tutup mahasiswa murah senyum itu. (*)

Editor: Surya Aditya

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar