Ragam

Klarifikasi Danielle Kreb soal Pesut di Sungai Mahakam, Terancam Tapi Bukan Tersisa 41 Ekor

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 927 Kali
Klarifikasi Danielle Kreb soal Pesut di Sungai Mahakam, Terancam Tapi Bukan Tersisa 41 Ekor

Peneliti pesut Danielle Kreb. (foto: istimewa)

Peneliti pesut ini merasa difitnah. Memberikan kabar yang sama sekali tidak pernah ia ucapkan.

Ditulis Oleh: Aldi Budiaris
Selasa, 28 Juni 2022

kaltimkece.id Sebuah akun Instagram mengunggah video yang menampilkan sejumlah pesut bermain air di Sungai Mahakam. Dalam keterangannya, tertulis, hewan endemik Kaltim itu tersisa 41 ekor dan hampir punah. Peneliti pesut dari Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), Danielle Kreb, disebut sebagai sumber informasinya.

Dikonfirmasi kaltimkece.id pada kesempatan yang berbeda, Danielle Kreb membantah keras kabar tersebut. Ia memastikan tidak pernah bilang kepada siapapun bahwa pesut di Sungai Mahakam tersisa 41 ekor. “Saya juga bingung, itu infonya dapat dari mana,” kata Danielle melalui sambungan telepon.

Perempuan berkebangsaan Belanda itu lantas menjelaskan, berdasarkan data terakhir pada 2021, ada sekitar 67 ekor pesut di Sungai Mahakam. Jumlah tersebut masih bisa bertambah karena rata-rata kelahiran pesut mencapai lima ekor setiap tahunnya. “Tapi, tingkat kematian juga lima ekor per tahun,” bebernya.

_____________________________________________________PARIWARA

Terjerat jaring nelayan disebut menjadi penyebab kematian pesut yang paling sering terjadi. Tahun lalu saja, kata Danielle, ada dua ekor pesut mati karena terperangkap jaring. Penyebab kematian yang lainnya adalah pesut mengonsumsi racun ikan dan tertabrak kapal. “Racun agak sulit diketahui karena terlarut di air. Siapa yang meracuni juga tidak pernah terungkap,” imbuhnya.

RASI punya sejumlah program untuk menekan laju kematian mamalia air tawar itu. Satu di antaranya memberikan edukasi kepada nelayan Sungai Mahakam untuk tidak menangkap ikan dengan menggunakan jaring. RASI juga punya alat bernama finger frekuensi. Alat ini dipasangkan di jaring nelayan. Ketika ada pesut di dekat jaring tersebut, finger akan mengeluarkan suara yang dapat mengusir pesut dari jaring.

“Kami sudah membagikan finger kepada 155 nelayan,” jelas Danielle. Para nelayan yang memiliki finger tersebar di sejumlah kecamatan di Kutai Kartanegara dan Kutai Barat. Danielle mengatakan, alat tersebut akan lebih efektif jika digunakan pada saat musim ikan di hulu Sungai Mahakam.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, Ivan Yusfi Noor, membenarkan bahwa populasi pesut di Sungai Mahakam sedang terancam. Akan tetapi, bukan berarti jumlahnya tersisa 41 ekor. Ia menyebut, pada 2019, ada 80 ekor pesut di hulu sungai tersebut.

_____________________________________________________INFOGRAFIK

Ivan juga membenarkan, penyebab kematian pesut tertinggi adalah tersangkut jaring nelayan. Menurut data BKSDA Kaltim, persentase kematian pesut karena jaring mencapai 70 persen sedangkan tertabrak kapal 30 persen. Jumlah kematian pesut terbanyak terjadi pada 2019. Sebanyak 10 ekor pesut mati pada tahun itu.

Ivan menerangkan, tingginya angka kematian karena jaring disebabkan hewan bernama latin Orcaella brevirostris itu suka menyantap ikan. “Sehingga dia selalu mendatangi jaring untuk mendapatkan ikan,” pungkasnya. (*)

Editor: Surya Aditya

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar