Ragam

Laporan dari Tawau-2: Tak Sulit Lagi Menyimpan Ringgit

person access_time 7 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1369 Kali
Laporan dari Tawau-2: Tak Sulit Lagi Menyimpan Ringgit

Foto: Fel GM (kaltimkece.id)

Hujan emas di negeri orang akan percuma tanpa layanan lembaga keuangan. Bankaltimtara mencoba menerobos batas untuk memberikan kemudahan kepada para TKI di Tawau. 

Ditulis Oleh: Fel GM
11 Maret 2019

kaltimkece.id Jejeran bangsal berdinding kayu berdiri di tepi jalan aspal yang mulus. Rumah-rumah bercat kuning cerah itu seragam. Luas masing-masing sekitar 30 meter persegi. Beranda kecil tersedia di setiap teras yang diikuti halaman secukupnya. Di tengah-tengah permukiman tenaga kerja Indonesia di Tawau, Negara Bagian Sabah, Malaysia, tersebut, sebuah surau didirikan. 

Perkampungan TKI ini dicapai sekitar 45 menit perjalanan darat dari pusat kota Tawau. Nama daerahnya adalah Sungai Kawa. Saujana pepohonan kelapa sawit milik perusahaan mengelilingi permukiman. Para TKI itu, mayoritas dari Sulawesi Selatan, adalah buruh perusahaan. Sebagian besar mereka telah berkeluarga.

Pembuka Maret 2019, kaltimkece.id menemui seorang TKI. Pekerja lelaki ini berusia 28 tahun. Dengan logat Makassar yang kental, pemuda ini dengan santun meminta namanya tidak dituliskan. Ia tidak nyaman jika namanya diketahui perusahaan.

“Saya tinggal di sini sejak 2008. Ikut keluarga,” ucap pemuda tersebut, sebut saja Rahmat, membuka pembicaraan. Bekerja di negeri orang dilewati dengan suka-duka. Dia pernah terjaring razia petugas imigrasi Malaysia karena lupa membawa paspor saat ke kota. 

Pekerjaaan Rahmat di perkebunan adalah memanen buah. Ketika musim panen tiba, saat tandan-tandan menghasilkan buah yang melimpah, perusahaan biasanya memberikan bonus. Suatu kali, Rahmat pernah berpenghasilan 1.500 Ringgit Malaysia (RM), kira-kira Rp 5 juta. 

“Sementara jika dirata-ratakan setiap bulan, penghasilan saya Rp 3 jutaan,” ucapnya. 

Rahmat tidak bekerja sendirian. Istrinya juga turut serta sebagai pekerja kebun. Penghasilan keduanya disisihkan untuk biaya sekolah adik-adik di Sulawesi Selatan. 

Baca juga bagian terdahulu artikel ini:
 

Masalah mulai datang. Sebagai warga negara asing, Rahmat kesulitan membuka rekening bank di Malaysia. Senyampang itu, tidak ada bank Indonesia yang membuka layanan di Tawau. Jika ada waktu, Rahmat pergi ke Pulau Sebatik, Nunukan, yang hanya terpisah selat kecil. Di sana ia mengirimkan uang melalui bantuan bank. Jika sedang sibuk, Rahmat menitip kepada rekan sekerja yang kebetulan pergi ke Sebatik. Jika dua-duanya itu tidak ada, Rahmat terpaksa menyimpan ringgit di tempat rahasia di dalam kamar. 

Kondisi yang dialami Rahmat, seperti halnya 150 ribu TKI di Tawau, telah diketahui anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara. Tirta yang juga datang ke Tawau menerima kabar bahwa sebagian TKI sempat ditipu lembaga keuangan abal-abal. Investasi bodong ini membawa kabur hasil keringat para imigran. 

OJK menyimpulkan, kejahatan tersebut bermula karena TKI kesulitan mengakses layanan keuangan perbankan. Di samping itu, pengetahuan para TKI mengenai literasi keuangan masih rendah. “Bukan hanya di Malaysia, di Arab Saudi juga demikian. Padahal, penghasilan mereka cukup besar,” terang Tirta. 

Kepala OJK Kaltim, Dwi Ariyanto, membenarkan kondisi tersebut. Kesulitan mengakses layanan perbankan di negara setempat diperparah dengan tingkat literasi terhadap industri jasa keuangan para TKI tergolong rendah. "Kedatangan OJK menemui TKI di Tawau adalah bentuk kepedulian literasi keuangan kepada keluarga TKI. Jangan sampai kerja jauh-jauh, duitnya disimpan pada produk yang tak jelas. Uang hasil kerja bisa hilang begitu saja. Hal ini pernah terjadi di Tawau," kata Dwi.

Solusi Perbankan

Permasalahan perbankan yang dihadapi para TKI ditangkap Bankaltimtara. Bank milik pemerintah daerah di Kaltim dan Kaltara ini seringkali mengikuti kegiatan di Konsulat RI di Tawau. Dari situlah, muncul solusi bagi para TKI. 

Sejak lama, Bankaltimtara telah membuka kantor cabang di garis sempadan Indonesia-Malaysia. Mulai dari Sungai Nyamuk, Pulau Sebatik, hingga Simanggaris dan Krayan di Nunukan. Kantor BPD terdekat bisa dicapai dalam 20 menit dari Tawau. Para TKI lebih mudah membuka rekening di BPD dibanding di bank-bank Malaysia.

Masalah yang harus dipecahkan berikutnya adalah pengiriman uang. Tidak mungkin seluruh TKI yang menjadi nasabah Bankaltimtara harus berkali-kali melewati pos lintas batas untuk menyetor uang di bank saja. BPD Kaltimtara punya siasat jitu. Di setiap permukiman TKI, harus ada orang yang dipercaya. Orang inilah yang akan membawa uang yang telah dikumpulkan TKI untuk disetor. Agar lebih aman, orang yang bersangkutan harus didampingi tiga karyawan Bankaltimtara ketika membawa ringgit-ringgit TKI ke Nunukan. Bisa juga, karyawan bank yang sudah dikenal komunitas TKI yang mengambil uang tersebut. 

Tantangan berikutnya adalah membuat para TKI percaya dengan sistem ini. Bukti buku rekening adalah jaminannya. Ringgit yang disetor para TKI di Nunukan segera dikonversi ke rupiah. Untuk lebih meyakinkan, Konsulat RI diberitahukan hal ini. 

“Begitulah caranya. Kadang para TKI menelepon kami setelah uang sudah terkumpul. Kami datang menjemput. Patut dicatat, Bankaltimtara hanya membantu. Sementara seluruh proses transaksi dilakukan di Nunukan," terang Zainuddin Fanani, direktur utama Bankaltimtara.

Solusi jitu itu disambut gembira para TKI. Sampai 2019, sudah 787 rekening yang dibuka para TKI di Bankaltimtara. Sebanyak 413 dalam bentuk Tabungan Simpanan Pelajar (Simpel), 323 rekening Tabunganku (untuk pelajar), dan 51 rekening Tabungan Simpeda (untuk dewasa). Total simpanan dari ketiga produk ini mencapai Rp 529 juta. Langkah Bankaltimtara mendapat apresiasi OJK. Apalagi, sebagian nasabah adalah para pelajar. Budaya menabung pun tertanam sejak dini di lingkungan TKI. Kehadiran Bankaltimtara juga membuat para TKI merasa lebih dekat, meskipun raga sedang jauh dari Indonesia. 

"Dulu, habis gajian, ya, habis begitu saja. Sekarang para TKI tahu menabung. Anak-anak mereka juga gemar menabung. Bahkan, ada TKI yang menyiapkan tabungan untuk masa tua. Ini sangat baik sekali," kata Zainuddin. Bankaltimtara percaya, melayani para TKI adalah sebuah kebaikan. 

“Kebaikan-kebaikan inilah yang membuat kami, Bankaltimtara, mampu melewati batas-batas yang dibuat manusia. Kebaikan yang menembus batas negara,” tutup Zainuddin. (bersambung)

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar