Ragam

Lebih Dalam tentang Perilaku Impulsif dari Mahasiswi Samarinda yang Bunuh Diri karena Asmara

person access_time 5 months ago remove_red_eyeDikunjungi 1216 Kali
Lebih Dalam tentang Perilaku Impulsif dari Mahasiswi Samarinda yang Bunuh Diri karena Asmara

Petugas membawa jenazah mahasiswi yang bunuh diri di Samarinda (foto: samuel gading/kaltimkece.id)

Mahasiswi yang bunuh diri di Samarinda disebut berperilaku impulsif. Berhubungan dengan keadaan psikis yang lebih berat.

Ditulis Oleh: Samuel Gading
20 Mei 2021

kaltimkece.id Pertengkaran hebat sejam yang lalu masih melekat di kepala Hanum (bukan nama sebenarnya), 22 tahun, ketika membuka kaleng minuman ringan di sebuah warung. Tenggorokannya kering setelah berupaya menenangkan sepupunya yang cekcok dengan sang kekasih. Yang bikin hati Hanum kacau, sepupunya itu, sebut saja Sinta, mengancam mencabut nyawanya sendiri.

Rabu, 19 Mei 2021, pukul setengah delapan malam di tepi Jalan KH Wahid Hasyim, Samarinda Utara, Hanum menghabiskan minuman di warung yang tak jauh dari indekos sepupunya. Di kamar sewa itulah, Sinta berkelahi dengan kekasihnya, sebut saja Rama. Hanum ingat, keduanya melontarkan kata-kata keras sampai berteriak. Sinta sempat histeris ketika mengatakan akan bunuh diri. Hanum dan Rama setengah mati menenangkannya. Setelah gadis itu terlihat tenang, Hanum dan Rama meninggalkan indekos tersebut.

Hanum belum jauh meninggalkan indekos ketika teleponnya berdering. Rupanya, orangtua Sinta yang memanggil. Sebagai kerabat yang sama-sama tinggal di Samarinda, Hanum diminta paman dan bibinya melihat keadaan Sinta. Mereka berkata kepada Hanum bahwa Sinta memiliki karakter impulsif. Mahasiswi perguruan tinggi swasta itu disebut sering bertindak tanpa memikirkan akibatnya.

“Di sambungan telepon, mereka meminta agar sepupu saya itu tidak ditinggal. Orangnya nekat,” terang Hanum di depan personel Unit Inafis, Kepolisian Resor Kota Samarinda.

Mendengar permintaan tersebut, Hanum bergegas menuju indekos Sinta. Rumah sewa di Samarinda Utara itu berwarna hijau muda. Begitu tiba di depan kamar Sinta, lelaki asal Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara itu, berulang kali mengetuk pintu tetapi tak ada jawaban. Hanum berupaya mengintip dari lubang kunci. Dari celah itu, ia melihat pemandangan yang mengerikan. Di dapur bercat krem, sepupunya yang baru berusia 22 tahun sudah tergantung tak bernyawa.

Kepala Sub Unit Inafis Polresta Samarinda, Ajun Inspektur Dua Hari Cahyadi, mengatakan, dari pemeriksaan sementara tempat kejadian perkara, kasus ini diduga bunuh diri. Jenazah Sinta segera dibawa ke RSUD AW Sjahranie untuk di-visum et repertum.

“Dugaan awalnya begitu (adalah bunuh diri) tetapi kami tetap mendalami,” ungkap Aipda Hari kepada kaltimkece.id, Rabu malam.

Tentang Perilaku Impulsif

Dalam kejadian ini, sebuah petunjuk penting diperoleh. Sinta, sebagaimana keterangan sepupunya, memiliki perilaku impulsif. Menurut Asosiasi Psikiater Amerika, perilaku impulsif adalah kegagalan seseorang mengendalikan godaan untuk mengambil tindakan yang merugikan dirinya sendiri atau orang lain. Sebenarnya, hampir semua orang memiliki perilaku impulsif. Akan tetapi, kadar atau tingkatannya berbeda-beda (Hubungan Antara Perilaku Impulsif dengan Kecenderungan Nomophobia pada Remaja, Skripsi Fakultas Psikologi dan Kesehatan, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, 2018, hlm 31).

Impulsif pada orang dengan kondisi psikis sehat cenderung rendah dan tidak berbahaya. Sebaliknya, impulsif yang jelas justru ditemukan pada orang-orang dengan kondisi kejiwaan dan neurologis yang berat. Impulsivitas yang berlebihan ini, masih menurut Asosiasi Psikiater Amerika, seringkali didapati pada pengidap gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality Disorder).

Pengidap gangguan tersebut umumnya memiliki perasaan takut ditolak, cemas, tidak berarti, takut ditinggalkan, atau marah. Mereka cenderung menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Gangguan mental seperti ini dapat mengganggu kehidupan sehari-hari terutama hubungan dengan orang di sekitarnya.

Usia menjelang dewasa adalah yang paling umum mengalami gangguan kepribadian ambang. Walaupun demikian, penyebab utamanya belum diketahui jelas. Diperkirakan berhubungan dengan riwayat pelecehan atau penyiksaan semasa kecil. Gangguan ini juga diduga berhubungan dengan faktor genetik, termasuk perubahan zat kimia di otak.

Individu yang menderita gangguan kepribadian ambang cenderung membahayakan diri sendiri dengan beragam usaha bunuh diri. Di Amerika Serikat, hampir 10 persen pasien dengan gangguan ini meninggal karena bunuh diri. Sementara hampir 80 persen yang lain menyakiti diri sendiri (Dialectical Behavior Therapy: Sebuah Harapan bagi Individu dengan Gangguan Kepribadian Ambang, Jurnal Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan Surabaya, 2014, hlm 2).

Waspadai Depresi dan Hubungan Beracun

Kepada kaltimkece.id, akademikus psikologi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman, Lisda Sofia, menambahkan penjelasan mengenai impulsif. Kondisi ini umumnya muncul pada anak-anak kendati bisa ditemukan pula pada orang dewasa. Lisda mengatakan, perilaku impulsif baru dapat disebut gangguan psikologis jika semakin sering muncul atau sulit dikendalikan.

Dalam kasus Sinta, Lisda menduga, sukar menetapkan impulsif sebagai penyebab tunggal bunuh diri. Perbuatan nekat tersebut memiliki pemicu awal, yang kemungkinan besar adalah depresi. "Pada zaman milenial ini, bunuh diri menjadi hal yang permisif. Minimnya manajemen stres atau coping strategy menjadi satu dari antara faktor penyebab," jelasnya.

Depresi adalah masalah kesehatan mental serius yang sebenarnya sering dialami banyak orang. Ciri depresi adalah rasa sedih, hampa, dan putus asa. Depresi dapat disebabkan persoalan pribadi hingga pekerjaan. Semuanya akan bermuara pada satu hal yaitu ketidakhadiran orang yang dekat secara emosional.

“Ketika individu memiliki persepsi bahwa dirinya sendirian, kesepian, dan tidak ada yang bisa memahami, itu sudah menjadi depresi. Bahkan di keramaian pun, ia akan merasa kesepian,” kata Ketua Program Studi Psikologi tersebut. Padahal, depresi bisa diatasi dengan strategi koping. Mulai menangis, curhat, berjalan-jalan, mendengarkan musik, hingga bercerita. Strategi ini dapat mengatur emosi akibat tekanan.

Lisda mengatakan, depresi yang tidak diatasi dapat menyebabkan gangguan psikologis yang lebih berat. Gangguan inilah yang dapat menyebabkan upaya bunuh diri. Lisda mengutip studi dari Beck dan Winokur (1985), bahwa lebih dari 90 persen pelaku bunuh diri mengalami gangguan psikologis atau kerentanan psikis.

“Rata-rata, berawal dari depresi,” tegasnya.

Bunuh diri yang dilatarbelakangi masalah asmara juga disebut berkaitan dengan faktor hubungan beracun atau toxic relationship. Hubungan seperti ini terjadi ketika ada dominasi pasangan, kecemburuan berlebihan, hingga sifat submisif atau ketergantungan salah satu pasangan. Menurut Lisda, hubungan beracun terkadang datang diam-diam. Puncaknya muncul ketika pasangan perlahan-lahan merasa sulit menjadi diri sendiri, selalu terdesak, terisolasi dari dunia luar, hingga mengancam bunuh diri.

Psikolog relawan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Samarinda itu menyebutkan dua solusi menyelesaikan hubungan beracun. Pertama, membawa hubungan tersebut ke psikolog. Kedua, memutuskan hubungan. Meskipun demikian, berangkat dari puluhan kasus yang ditanganinya sejak 2014, mayoritas orang yang mengeluhkan pasangannya “toxic” sebenarnya bertipe beracun pula.

“Karena antara satu orang yang tidak kuat, atau dua-duanya toxic. Daripada ribet, biasanya cabut atau mengakhiri saja. Kalau waras, tentunya berani mengambil keputusan dibandingkan terus bertahan,” tutupnya. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar