Ragam

Mengadopsi Gaya Nikah Suhay di Kaltim, Realistiskah?

person access_time 3 months ago remove_red_eyeDikunjungi 296 Kali
Mengadopsi Gaya Nikah Suhay di Kaltim, Realistiskah?

Foto ilustrasi: moneysmart.id

Menikah bukan sekadar persoalan halal. Sebagian memilih berbagi sukacita dengan cara mewah. Tak sedikit yang apa adanya.

Ditulis Oleh: Fachrizal Muliawan
08 Desember 2018

kaltimkece.id Awal Desember 2018 jagat maya dihebohkan dua prosesi pernikahan public figure Tanah Air. Dua seremoni yang begitu berbanding terbalik.

Pada 1 Desember 2018 digelar pernikahan yang disebut-sebagai resepsi pasangan Crazy Rich Surabaya. Kedua mempelai adalah Jusup Maruta Cayadi dan Clarissa Wang. Pernikahan di The Mulia Resort, Nusa Dua, Bali tersebut mengundang decak kagum.

Saking menjadi bahan pembicaraan, sempat berembus kabar pernikahan tersebut menghabiskan Rp 1 triliun. Konon ada doorprize mobil Jaguar hingga iPhone. Bahkan koin emas dijadikan suvenir.

Tapi kabar yang mencuat buru-buru dibantah. Rendra Tjajadi, ayah mempelai pria, mengklaim biaya resepsi putranya tak sampai Rp 10 miliar (tribunnews.com, Heboh Pernikahan Crazy Rich Surabayan Berbiaya Fantastis, Ayah Mempelai Pria Pun Buka Suara).

Ternyata, tak sekadar pesta. Resepsi yang dihadiri lebih 900 undangan itu dimanfaatkan untuk donasi. Bantuan ditujukan kepada korban bencana alam di beberapa wilayah Indonesia. Donasi itulah yang menjadi doorprize dalam pesta resepsi bertajuk JC for Indonesia: We Love, We Care, We Share itu (dikutip dari artikel detik.com, Bukan Jaguar, Ini 'Doorprize' Sebenarnya di Pernikahan Crazy Rich Surabayan).

Beda Jusup dan Clarissa, beda pula beauty vlogger Suhay Salim. Sehari setelah resepsi mewah JC di Bali, Minggu, 2 Desember 2018, giliran Suhay menghebohkan dunia maya. Pernikahannya digelar kasual dan sederhana. Sebagai influencer kecantikan dengan 757 ribu subscriber di YouTube, Suhay memilih melangsungkan pernikahan di kantor urusan agama atau KUA.

Kabar pernikahannya viral setelah mengunggah foto di media sosial. Dalam potret tersebut, ia hanya mengenakan kaus abu-abu dibalut blazer hitam. Juga celana jeans berwarna indigo. Sedangkan sang suami mengenakan kemeja biru dan celana berwarna gelap. Keduanya tampil dengan pakaian yang tak lazim dikenakan mempelai dalam seremoni perikahan.

Warganet, terutama dari kalangan millennials, menyebut konsep pernikahan ala Suhay sebagai wedding goals baru. Pernikahan ala Suhay membenarkan sebuah anekdot, bahwa nikah tidaklah ribet. Budaya pamernya yang demikian.


 

Pernikahan Sederhana dan Pesta Sekali Seumur Hidup

Bayu Pramudya dan Ayu Dewi tampak santai, pagi-pagi 19 September 2017. Padahal, tak lama kemudian, keduanya akan melangsungkan akad nikah. Lokasinya di KUA Kecamatan Sambutan, Samarinda.

Keduanya kompak mengenakan pakaian bahan berwarna putih. Bayu memadukan kemeja putih dengan celana chino berwarna khaki. Sementara Ayu, tampil anggun dengan baju terusan. Busana tersebut dibelinya dari sebuah pusat perbelanjaan di Samarinda.

Akad nikah berlangsung di depan penghulu. Saksi dari keluarga kedua mempelai. Meski sederhana, pernikahan keduanya berlangsung khidmat.  Kesederhanaan dibawa sampai akad nikah. Resepsi hanya melibatkan kawan dekat. Konsepnya syukuran kecil-kecilan. “Kecil-kecilan secara harfiah ini, ya,” terang Bayu saat dihubungi kaltimkece.id, Rabu 5 Desember 2018.

Sederhananya pernikahan ala Suhay sudah dilakukan Bayu dan Ayu setahun lalu. Dia cukup kaget seorang public figure melangsungkan pernikahan sederhana. Bayu sendiri sejak awal sepakat dengan sang istri untuk tak menggelar resepsi yang ribet. “Tak mau juga merepotkan keluarga, karena punya kesibukan masing-masing,” tuturnya.

Keduanya sebenarnya berasal dari suku dengan adat pernikahan yang cukup ribet. Beruntung pihak keluarga menerima opsi seremoni sederhana. “Baik orangtua saya dan Ayu menyerahkan kepada kami. Jadi enggak perlu adu argumen dengan keluarga,” ujarnya.

Menurut Bayu, inti dari pernikahan adalah mahligai rumah tangga yang dijalani setelahnya. Pernikahan sebagai awal kehidupan bersama menjadi poin penting. “Karena bukan akhir yang harus dirayakan dengan pesta ribet,” imbuhnya.

Menekan biaya pernikahan dengan cara Suhay maupun Bayu tentu bukan hal sulit. Peraturan Pemerintah 48/2014 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Agama, mengakomodasi pilihan tersebut.

Baca juga:
 
Menikah di KUA sudah gratis. Siapapun bisa asal memenuhi peraturan sebagai mana ketentuan negara. Pasangan cukup membayar Rp 30 ribu untuk biaya pencatatan nikah. Namun demikian, fasilitas tersebut hanya berlaku hari dan jam kerja. Di luar itu, mempelai dikenakan tarif Rp 600 ribu.

Menikah gratis di Kaltim difasilitasi 91 KUA yang tersebar di seluruh provinsi ini. Rasionya memang belum ideal. Karena ke-97 kecamatan di Kaltim belum terpenuhi. Termasuk Samarinda dengan 10 kecamatan, hanya memiliki 6 KUA.

Yang makin tak ideal adalah ketersediaan SDM. Mengutip data Kanwil Kemenag Kaltim 2017, dari 91 KUA di provinsi ini, hanya 88 memiliki kepala KUA. Yang berarti, ada tiga kantor tanpa pimpinan.

Padahal, peran kepala KUA juga sangat penting dalam menikahkan para mempelai. Di Kaltim, tugas tersebut dibantu 32 penghulu PNS, dan 174 imam pegawai pembantu pencatat nikah atau P3N.

Negara menggratiskan pernikahan sejak 2014. Namun bagi banyak pasangan, opsi tersebut mengalahkan niatan berbagi sukacita dalam balutan pesta meriah. Di Samarinda, wedding organizer biasa menerima permintaan-permintaan mewah klien.

Arie, event director Sky Classic Organizer, menilai pernikahan sederhana atau mewah sejatinya pilihan masing-masing mempelai. Namun, dari berbagai klien yang ia tangani, mayoritas menginginkan pernikahan glamor. Pertimbangannya adalah seremoni yang dihelat sekali seumur hidup. “Bukan perkara mudah melaksanakan pesta besar seperti itu,” ujarnya.

Dari pengalaman sebagai wedding organizer, ragam konsep pernikahan sudah pernah ditangani. Mulai tema pesta rakyat hingga ala negeri dongeng. Paling baru, sebuah resepsi dengan kereta kencana lengkap bersama kuda. Lagi-lagi, semata untuk menyelenggarakan pesta sekali seumur hidup. “Ada pula resepsi dengan 17 ribu undangan plus 12 artis dari ibu kota. Bisa dibayangkan ribetnya,” imbuhnya. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

 

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar