Ragam

Rasa Bangga untuk Kaltim, Kapal Buatan Sangasanga Laku Rp 21 Miliar Dibeli Uni Komoro

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 1723 Kali
Rasa Bangga untuk Kaltim, Kapal Buatan Sangasanga Laku Rp 21 Miliar Dibeli Uni Komoro

LCT Anugerah Perdana 36 dibeli Uni Komoro dengan harga Rp 21 miliar (foto: Kementerian Luar Negeri RI)

LCT Anugerah Perdana 36 buatan putra-putri Kaltim dibeli negara di timur Afrika. Makin menegaskan majunya industri galangan kapal Bumi Etam. 

Ditulis Oleh: Muhibar Sobary Ardan
11 Mei 2022

kaltimkece.id Industri galangan kapal di Kaltim terus menunjukkan taji di kancah dunia. Yang terbaru, sebuah kapal jenis landing craft tank atau LCT buatan Bumi Etam dibeli Uni Komoro. Kapal angkut yang diproduksi di hilir Sungai Mahakam tersebut kini dalam perjalanan menuju negara di timur Afrika.

Kabar membanggakan itu disiarkan melalui keterangan resmi Kementerian Luar Negeri RI pada Kamis, 5 Mei 2022. LCT bernama Anugerah Perdana 36 atau Falk Njema dijual dengan harga Rp 21 miliar. Berlayar dari Samarinda pada 25 April 2022, kapal memiliki kapasitas angkut 800 ton. Panjang bahtera itu 67 meter dengan lebar 12 meter. Catnya putih, biru, kuning, dan hijau, senada dengan warna bendera Uni Komoro. 

Kepala Perwakilan RI di Antananarivo-Madagaskar, Benny Yan Pieter Siahaan, mengaku, gembira dengan keberhasilan ekspor itu. Transaksi antarnegara itu disebut berkontribusi meningkatkan kerja sama perdagangan Uni Komoro dengan Indonesia. Sebagai informasi, Uni Komoro adalah negara kepulauan di Samudera Hindia. Bekas jajahan Prancis ini terletak di ujung utara Selat Mozambik, persisnya di antara Madagaskar dan Mozambik. Jumlah penduduknya sekitar 800 ribu jiwa. 

_____________________________________________________PARIWARA

Kepada kaltimkece.id, Ketua Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Kaltim, Untung Suropati, membenarkan transaksi tersebut. Kapal Anugerah Perdana 36 diproduksi galangan kapal di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara.

“Hampir semua jenis kapal memang sedang naik (permintaannya). Mau LCT, tugboat, atau yang lain, permintaannya tinggi,” terang Untung melalui saluran telepon pada Selasa, 10 Mei 2022. Kapal jenis LCT produksi Kaltim, sebut dia, yang paling banyak laku di pasaran adalah kapasitas 600-800 ton. 

Untung menjelaskan berbagai faktor yang menyebabkan kenaikan permintaan kapal buatan Kaltim. Di sisi domestik, sejumlah proyek pembangunan seperti ibu kota negara (IKN) memerlukan distribusi material. Barang-barang tersebut diangkut menggunakan LCT. Dominasi sektor pertambangan di Kaltim juga masih bagus sehingga transportasi sungai dan laut sangat diperlukan. 

“Angkutan kapal jauh lebih murah dibanding moda transportasi darat atau udara,” jelasnya. 

Sementara dari sisi ekspor, sambung Untung, kapal buatan Kaltim baik LCT maupun tugboat tidak kalah bersaing. Harganya bahkan bisa lebih murah dibandingkan buatan luar negeri. Daya saing itu diperoleh karena pengolahan kapal di Bumi Mulawarman terhitung semi-industri. Galangan kapal di Kaltim masih lebih banyak mengandalkan otot dan ilmu pengetahuan. Berbeda dengan galangan kapal di luar negeri yang sebagian besar industrinya didukung teknologi. Investasi di industri galangan kapal tinggi sehingga harga jual ikut lebih tinggi.

“Lebih kurang 15 tahun, pengusaha sektor industri perkapalan di Kaltim telah memproduksi kapal jenis LCT,” tambah Untung. Menurutnya, industri ini masih bertahan karena permintaan dari berbagai sektor termasuk luar negeri. Selama ini, kapal jenis LCT buatan Kaltim sebagian besar dikirim ke Papua Nugini, India, dan Maladewa.

“Bagi negara-negara tadi, harga kapal buatan Kaltim terjangkau dibanding membeli dari negara lain,” sambungnya. 

_____________________________________________________INFOGRAFIK

Iperindo Kaltim mencatat, ada 60 galangan kapal besi di Kaltim. Lokasinya tersebar di Samarinda, Kutai Kartanegara, Balikpapan, dan Penajam Paser Utara. Adapun galangan kapal kayu berjumlah 250 industri yang tersebar di Samarinda, Paser, Kutai Kartanegara, serta Penajam Paser Utara. Sektor perkapalan ini disebut telah menyerap tenaga kerja 30 ribu jiwa, hanya di Samarinda. Daerah lain belum didata. 

Melihat atmosfer yang bagus di bisnis ini, Untung memprediksi, sektor industri perkapalan masih menjanjikan untuk Kaltim dalam beberapa tahun ke depan. Walaupun sektor ini termasuk padat modal dan teknologi, industri perkapalan terbukti mampu meningkat. Kaltim pun kini menjadi sentra industri perkapalan di Indonesia selain Jakarta, Batam, dan Surabaya. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar