Ragam

Sapi 960 Kg yang Besar di Samarinda, Makan Tiga Kali Sehari, Dihargai Rp 80 Juta

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 916 Kali
Sapi 960 Kg yang Besar di Samarinda, Makan Tiga Kali Sehari, Dihargai Rp 80 Juta

Bison dan Amim Purwanto. (nalendro priambodo/kaltimkece.id)

Merawat dan memelihara sapi berukuran jumbo, memberi banyak pelajaran terhadap peternaknya. Dari kasih sayang hingga loyalitas. Harganya pun selangit.

Ditulis Oleh: Nalendro Priambodo
10 Oktober 2019

kaltimkece.id Liur hewan berkaki empat itu tak berhenti menetes. Kain yang menempel di atas punggung dan kepalanya dilepas. Bulu coklat kemerahan di sekujur tubuh gempal berototnya basah. Sedikit berlemak.

Cincangan rumput rawa di depan moncongnya mulai layu. Tiga jam dibiarkan tak disantap. Padahal, pada hari-hari biasa, seikat pakan hijau ludes dilahap setengah jam saja.

Kostum bermotif kotak-kotak berwarna hitam dan merah itu serupa kain khas Samarinda. Ada bordiran huruf kapital berwarna biru. Bertuliskan BISON.

Kamis, 10 Oktober 2019, pertama kalinya si Bison ke luar kandang. Mengikuti kontes ternak tingkat provinsi. Kategori yang ia ikuti adalah sapi extreme hasil persilangan.

Bison yang dipajang di pekarangan Convention Hall Sempaja, Samarinda itu, bukanlah spesies Bison yang ada di Amerika Utara dan Eropa. 'Si Bison' yang ikut kontes ini, adalah sapi simental. Sapi asal Eropa Tengah. Persisnya di Simme, Swiss. Dikenal sebagai penghasil susu sekaligus pedaging.

"Kalau lagi kepanasan, Bison enggak mau makan," kata Amim Purwanto terkekeh sambil mengelus kepala peliharaannya yang kini berusia 3 tahun dua bulan.

Tidak seperti kerabatnya yang biasa hidup di iklim sejuk bersalju benua Eropa, Bison lahir dan besar di kandang peternakan Semarang dan Samarinda.

Setelah melewati masa menyapih usia 7 bulan, Bison diboyong Amim ke Kota Tepian dari kandang pamannya. Di peternakan terintegrasi milik juragannya di Jalan Rejo Mulyo, Samarinda Utara. Si Bison diperlakukan sama seperti 22 ekor sapi Bali.

Memang, tempat tinggalnya tersendiri dirancang khusus. Ukurannya tiga kali panjang badannya yang bisa dua meter. Tak ada dinding penyekat untuk sirkulasi udara. Atapnya dari asbes yang diklaim lebih adem ketimbang seng.

Pakannya tercukupi tiga kali sehari. Sarapan rutin pukul 08.00 Wita. Diberikan setelah membersihkan kandang. Menunya ampas kulit kedelai campuran tahu. Ditambah  premix E4, veterna, dan suplemen organik cair (SOC). Berguna membunuh kuman di saluran pencernaan.

Semua dicampur air hasil filter secukupnya. Menu utama itu diselingi rumput rawa segar dicincang. Harus tersedia sepanjang hari.

Makan kedua dan tiga antara pukul 16.30 dan 17.30. Menunya masih serupa. "Makannya enggak rewel. Total bisa delapan ember per hari," katanya menunjuk ember ukuran 15 kilogram. Jika ditotal, dalam sehari Si Bison memakan 120 kilogram pakan.

Kakek berusia 48 tahun tersebut tak pernah mengeluh pergi pagi pulang malam merawat Bison. Kecintaannya merawat sapi-sapi terpupuk sejak belia, ketika merawat peliharaan di kandang pamannya di Semarang, Jawa Tengah.

Sesekali Son, panggilan akrab Bison, diajak bicara sambil dipijit punggungnya. Tujuannya untuk menjinakkan dan mempererat emosional dengan peliharaan. Dia percaya, jika sapi gembira di kandang, hasil susu dan daging meningkat. "Kalau sapi lagi duduk jangan diganggu. Dia lagi bikin daging," katanya.

Son dikenal tak rewel dan jarang sakit. Paling banter hanya demam karena giginya berganti setahun sekali. Kalau panasnya tinggi, peliharaannya malas makan seminggu. Menjaga sampai pulih, pria berkulit sawo matang itu sesekali menyuapi Son makan dengan tangannya. "Sayang sapi ini ketimbang istriku" katanya terkekeh.

Kerja kerasnya merawat Bison selama dua tahun tujuh bulan terbayarkan. Saat penimbangan, bobotnya 960 kilogram. Sapi terberat dalam kontes kali ini berbobot 970 kilogram. Berat maksimal sapi simental jantan bisa mencapai 1,1 ton. Sedangkan betina 800 kilogram. "Enggak nyangka aku bisa seberat itu," katanya yang tak terlalu memikirkan apakah menang atau tidak dalam kontes tersebut.

Idealnya, kata Amim, sapi yang dipotong menghasilkan 30 persen daging dari berat keseluruhan. Artinya, dengan berat 960 kilogram, Bison bisa menghasilkan daging segar 320 kilogram.

Potensi berat Bison itu mengundang calon pembeli. Berniat memboyongnya saat hari raya Iduladha lalu. Tapi belum ada kecocokan harga. Calon pembeli hanya menawar Rp 60 juta. Sementara harga yang dipatok Rp 80 juta.

Amim belum memiliki keberanian mengawinkan Bison secara alami. Pemilik khawatir selama proses perkawinan kaki Bison patah jika ada perlawanan dari si betina.

Sambil meringis, Amim  pasrah jika si Bison dijual. Ia tak kapok merawat sapi berbadan jumbo yang dikenal doyan makan. Memelihara sapi bongsor mengajarkan kasih sayang, loyalitas, kebanggaan, dan silaturahmi antarpeternak. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar