Ragam

Tanya Jawab dengan Builder Motor Jokowi, Gaya Custom Sampai Jadi Bos BUMN

person access_time 2 months ago remove_red_eyeDikunjungi 383 Kali
Tanya Jawab dengan Builder Motor Jokowi, Gaya Custom Sampai Jadi Bos BUMN

Andi Akbar atau juga dikenal Atenx Katros. (mohammad heldy juwono/kaltimkece.id)

Namanya harum di kalangan pecinta motor custom. Semakin dikenal publik setelah karyanya ditunggangi presiden RI.

Ditulis Oleh: Fachrizal Muliawan
31 Agustus 2019

kaltimkece.id Jumat, 30 Agustus 2019, Samarinda kedatangan builder motor custom kenamaan, Andi Akbar. Builder ini biasa disapa Atenx Katros. Pemilik Katros Garage.

Atenx Katros banyak dikenal publik setelah dipercaya menjadi perakit motor custom Presiden Joko Widodo. Dalam wawancara khusus dengan kaltimkece.id, pria asal Tangerang Selatan tersebut menceritakan seluk-beluk builder motor custom di Indonesia. Berikut wawancaranya dalam format tanya jawab.

Bagaimana perkembangan industri motor custom di Indonesia saat ini?

Dari kacamata gua sebagai builder, ya, akan berkembang. Soalnya motor custom enggak hanya bicara soal aliran modifikasi dan membangun sepeda motor saja. Ada kultur di dalamnya yang istilah bekennya custom culture. Motor custom kan terbagi berbagai aliran lagi. Setiap aliran tadi ada kulturnya masing-masing.

Bicara modifikasi motor, gua contohkan aliran skuter matik low rider yang sempat tren pada 2008. Pada tahun yang sama juga ngetren modifikasi thailook dan race-look. Tapi tren modifikasi tadi hanya bertahan sampai empat tahun. Karena apa? Enggak ada gaya hidup di aliran tadi. Itu yang membuat motor custom bisa bertahan sejak berkembang pada 2009 awal sampai sekarang.

Memang sepenting apa kultur sebuah aliran modifikasi?

Begini, gua ambil contoh satu aliran, deh. Cafe racer misalnya. Di kultur cafe racer itu ada lifestyle di dalamnya. Misal, anak-anak pengguna cafe racer atau biasa disebut rocker, dandanannya pakai jaket kulit, sepatu boot kulit, celana jins, sampai ke model helm yang spesifik dengan aliran itu.

Nah, dari satu aliran saja sudah ada barang-barang yang bisa diproduksi oleh brand-brand non-suku cadang. Jadi, enggak hanya ngomongin tunggangan doang. Mungkin awalnya pemilik motor dan builder hanya memikirkan membangun motor. Selanjutnya gaya berpakaian juga bakal diperhatikan, biar all out. Yang mesti diketahui juga, custom culture adalah perpaduan hobi dan gaya hidup.

Panjang juga ya penjelasannya. Nah, pertanyaan selanjutnya, lebih memilih menjadi builder atau content creator?

Builder, dong.

Kenapa?

Pertama, kalau gua enggak jadi builder, enggak mungkin membuat konten. Walau secara pendapatan, apa yang gua dapat dari bengkel enggak ada apa-apanya dengan penghasilan produk digital yang gua buat. Tapi sekali lagi, gua akan tetap menjadi builder.

Dari banyak aliran, mana yang paling susah?

Aliran sesat ha..ha..

Maksud kami aliran modifikasi motor custom.

Oh itu, jujur saat ini yang paling susah adalah board tracker. Motornya kecil dan ramping. Jadi mesti proporsional antara ban dan sasis motornya. Selain itu, untuk membangun motor ini, hanya mesin bawaan sepeda motor yang dipakai. Bagian lainnya mesti dibuat ulang, mulai sasis, fork depan, dan lainnya. Kemudian, kebanyakan model yang dihasilkan mirip-mirip. Jadi pekerjaan rumahnya, jiwa dari motor yang dibangun tetap board tracker, tapi mesti beda.

(Catatan penulis: aliran board tracker muncul pada 1910. Genre modifikasi aliran board tracker berasal dari lintasan velodrome adu balap sepeda pada masa itu. Seiring perkembangan sepeda menjadi sepeda motor, lintasan papan ini beralih jadi adu balap motor dengan sebutan board tracker)

Jadi mau buat board tracker?

Lagi jalan proyek bangun board tracker. Sudah setahun. Nah, yang bikin beda biasanya board tracker yang dibuat sebelumnya memakai mesin-mesin motor klasik. Di sini gua ngebangun pakai mesin motor modern, nanti dipasang turbo dan semua instrumen digital. Temanya mempertemukan masa lalu dan masa kini. Aliran klasik yang timeless dengan barang-barang modern.

Selanjutnya, pertanyaan yang sering banget ingin ditanyakan warganet. Bagaimana rasanya dipercaya membangun motor pesanan presiden dan keluarganya?

Sama saja, enggak ada beda.

Ah, yang bener?

Ya, enggak ada beda. Sama saja dengan konsumen lain. Enggak ada akses VIP atau semacamnya setelah membangun motor Mas Gibran (Raka Buming, anak Jokowi) dan Pak Jokowi. Akhirnya seperti teman saja. Komunikasi bisa semudah melakukan chat via WhatsApp. Yang ada malah deg-degan.

Kok deg-degan?

Ya deg-degan. Saat penunggang motor yang gua bangun adalah Presiden, tentu semua mata tertuju sama karya gua. Pasti diperhatiin sampai detail. Kalau saja ada kekurangan, bisa keluar kalimat, oh, ini toh motor yang dibuat Atenx untuk presiden. Bahkan sekarang ada anekdot Katros Garage sekarang BUMN, bengkel umum milik negara.

Tapi kan dengan candaan itu, gua bisa ngeles. Kalau bengkel gua BUMN, elu bisa bayar pakai BPJS. Ha..ha..

Pertanyaan pemungkas, Kaltim mau jadi ibu kota, mau pindah ke sini?

Sepertinya enggak, tapi Katros Garage yang bakal gua buka di sini. (*)

 

Editor: Bobby Lolowang

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar