Samarinda

Harga Sembako di Samarinda Terkerek Naik pada Pembuka Tahun Baru

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 451 Kali
Harga Sembako di Samarinda Terkerek Naik pada Pembuka Tahun Baru

Harga beras premium di Samarinda dilaporkan naik. FOTO: GIARTI-KALTIMKECE.ID

Kenaikan terjadi di sektor beras premium, telur ayam ras, dan cabai rawit. Stoknya di daerah asal dilaporkan menipis.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
Selasa, 03 Januari 2023

kaltimkece.id Harga sejumlah bahan pokok seperti beras premium, telur ayam ras, dan cabai rawit di Samarinda dilaporkan naik pada pembuka 2023. Menipisnya stok barang di daerah asal disebut sebagai salah satu penyebab kenaikan.

Kenaikan harga sembako terlihat di sebuah agen beras dan telur di Jalan A.M. Sangaji, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda. Kepada kaltimkece.id pada Selasa, 3 Januari 2023, pengelola agen tersebut, Kahar, menyebutkan, saat ini harga beras premium adalah Rp 285 ribu per 25 kilogram atau Rp 11.400 per kg. Sebelumnya, beras dengan kualitas dan berat yang sama hanya Rp 275 ribu. Beberapa beras premium itu berjenama Beras Kepala Super, Gunung Serai, Dua Jempol, dan Dua Ketupat. Kenaikan ini terjadi sejak awal Desember 2022.

Naiknya pelan-pelan, mulai dari Rp 100 per kg hingga paling tinggi Rp 500,” sebut Kahar.

Beras premium di agen tersebut didatangkan dari Sulawesi. Minimnya stok beras premium di daerah asal menjadi penyebab harganya naik. Berdasarkan informasi yang diterima Kahar, panen padi baru akan terjadi pada akhir Januari atau awal Februari 2023.

Sebelumnya, agen tersebut juga menjual beras medium dari bulog berjenama Beras Kita. Untuk beras jenis ini harga jualnya tidak mengalami kenaikan yakni Rp 9.500 per kg. Akan tetapi, beras dari bulog saat ini tak tersedia di agen tersebut. Hal ini disebabkan agen telah mengambil jatah beras dari bulog pada akhir Desember 2022 sehingga baru akan datang lagi pada 5 Januari 2023.

Bulog biasanya mengeluarkan beras saat barang langka jadi mereka bisa menstabilkan harga,” kata Kahar.

Agen tersebut juga menjual telur ayam ras. Harganya dibedakan dari ukuran telur. Untuk ukuran yang kecil, harga sepiring isi 30 butir telur ayam ras adalah Rp 55 ribu, ukuran besar Rp 58 ribu, dan jumbo Rp 65 ribu. Kahar menjual dengan sistem campur yaitu menggabungkan telur kecil dan besar dalam satu piring. Telur-telur ini didatangkan dari Surabaya.

“Harga telur naik mulai pertengahan Desember 2022. Penybabnya ada dua. Pertama, bansos. Kalau ada bansos maka otomatis harganya tinggi karena permintaan banyak. Kedua, produksi telur agak berkurang karena banyak ayam sudah tua,” bebernya.

Harga jual cabai rawit di Pasar Induk Segiri Samarinda juga mengalami kenaikan. Arifin, salah seorang penjual cabai di pasar tersebut, mengatakan, saat ini harga jual cabai rawitnya Rp 60 ribu per kg. Sebelum Tahun Baru, harganya masih normal yakni Rp 50-55 ribu per kg. Cabai milik Arifin didatangkan dari Banjarmasin.

Biasanya saya ambil cabai rawit dari Palu, Sulawesi Tengah. Tapi, beberapa hari ini belum datang. Biasanya masuk tiga kali seminggu,” ucap Arifin.

Berbeda dengan cabai, harga tomat di Pasar Induk Segiri Samarinda justru turun. Salah seorang penjual tomat, Tajudin, mengatakan, saat ini harga tomatnya Rp 12 ribu per kg. Sebelumnya, harga sayur buah yang didatangkan dari Sulawesi Selatan itu mencapai Rp 14 ribu per kg.

Pada kesempatan yang berbeda, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim, Ricky Perdana Gozali, menjelaskan, peningkatan harga pangan disebabkan tingginya permintaan pada masa Natal dan Tahun Baru 2023. Khusus komoditas hortikulturaharganya meningkat karena didorong musim hujan dan selesainya puncak panen.

“Selain kelompok makanan, kelompok minuman dan tembakau juga mengalami peningkatan harga,” bebernya.

Kondisi berbanding terbalik di kelompok transportasi. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 0,13 persen dari bulan sebelumnya sebesar 0,07 persen (secara month to month/mtm). Ricky menjelaskan, penurunan harga di kelompok transportasi disebabkan adanya beberapa rute penerbangan baru, baik masuk maupun keluar Kaltim. Selain itu, deflasi kelompok transportasi juga dipengaruhi normalisasi dampak lanjutan dari penyesuaian harga BBM.

Tim pengendali inflasi daerah (TPID) di Kaltim punya program bernama Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) untuk mengendalikan inflasi dan mengantisipasi kenaikan harga komoditas. Salah satu upayanya adalah bersinergi dengan pemangku kepentingan untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi barang. Agar distribusi lancar, ongkos angkutan komoditas pangan strategis diberi subsidi.

Pada Desember 2022, TPID Kaltim dan kabupaten/kota juga mengadakan operasi pasar atau pasar murah. Kegiatan ini untuk menjaga keterjangkauan harga pangan. Mereka juga menyerahkan bantuan sosial sebagai bentuk realisasi dana transfer umum (DTU) senilai Rp 40 miliar. (*)

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar