kaltimkece.id Pekan pertama pada Juni 2026 ini diwarnai dengan kondisi rupiah yang terus melemah. Per Senin siang, 8 Juni 2026, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp18.177 per USD. Situasi ini memberikan dampak terhadap proyek pembangunan di Samarinda.
Kepada kaltimkece.id, Ahad, 7 Juni 2026, Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyampaikan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah berdampak terhadap proyek pembangunan, khususnya di sektor biaya logistik serta material.
"Besi terutama atau komponen yang berasal dari impor," katanya.
Pemerintah Kota Samarinda disebut telah menyiapkan mitigasi dalam bentuk efisiensi. Meski begitu, Wali Kota menekankan bahwa mitigasi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, masyarakat juga diharapkan menerapkan langkah serupa.
"Karena dampak depresiasi itu tidak hanya di sisi pemerintah tapi di sisi daya beli masyarakat," ujarnya.
Depresiasi merupakan penurunan nilai suatu aset. Dalam konteks ini, penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Oleh sebab itu, Andi Harun mengimbau Pemkot dan masyarakat perlu selektif dalam membelanjakan uang sesuai dengan kebutuhan.
"Karena situasinya sekarang mengharuskan kita berhemat, mengharuskan kita menghindari belanja yang tidak terlalu prioritas," serunya.
Ia menjelaskan selektifitas perlu dilakukan di sektor belanja barang dengan komponen impor yang tinggi. Hal ini perlu dilakukan agar Pemkot maupun masyarakat Samarinda memiliki daya tahan terhadap kondisi apapun, khususnya dalam situasi rupiah yang terus melemah saat ini.
"Itu sebabnya kita harus kompak dan bersama-sama menghadapi situasi yang sangat dinamis, terutama kondisi perekonomian kita," pungkasnya. (*)