Samarinda

Muhammad Ilham, Penyintas Tunadaksa di Samarinda yang Bertekad Masuk Legislatif

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 378 Kali
Muhammad Ilham, Penyintas Tunadaksa di Samarinda yang Bertekad Masuk Legislatif

Muhammad Ilham, penyintas tunadaksa yang tinggal di Samarinda. FOTO: GIARTI IBNU LESTARI-KALTIMKECE.ID

Ia pernah menjadi tukang koran hingga penjual es krim. Kini, ia ingin memperjuangkan hak-hak kaum disabilitas.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
Senin, 07 November 2022

kaltimkece.id Kerap masuk tim sukses dalam berbagai pemilihan umum membuat Muhammad Ilham, 55 tahun, ingin menjadi anggota legislatif. Lewat jalur tersebut, lelaki yang tinggal di Gang Poksay, Kelurahan Lok Bahu, Sungai Kunjang, Samarinda, itu ingin memperjuangkan hak-hak kaum disabilitas seperti dirinya.

Ilham, demikian ia dipanggil, adalah penyintas tunadaksa. Sejak lahir, tangan kirinya tak ada. Beberapa bagian tubuhnya juga tumbuh tak normal. Dalam satu tahun terakhir, ia terus memikirkan menjadi wakil rakyat. “Ini bukan untuk pribadi saya tapi untuk masyarakat, membawa nama kaum disabilitas agar ada perwakilan kaum disabilitas di parlemen,” kata Ilham kepada kaltimkece.id di rumahnya, Jumat, 4 November 2022.

Keinginannya itu ia bulatkan tahun ini. Sabtu, 5 November 2022, Ilham mendaftar sebagai bakal calon legislatif di Hotel Selyca Mulia Samarinda. Pendaftaran ini dibuat oleh Partai Nasional Demokrat alias NasDem. Dalam kegiatan tersebut, Ilham menjadi satu dari 90 pendaftar yang mengikuti fit and proper test. Ia menargetkan menjadi anggota DPRD Samarinda dari daerah pemilihan Sungai Kunjang.

“Selama ini, saya membantu orang untuk sukses. Sementara saya dapat apa? Akhirnya, saya berpikir untuk bagaimana caranya saya membantu masyarakat, khususnya kaum disabilitas. Selama ini, kami dijadikan sebagai objek, kami dibutuhkan saat momen pemilu saja,” ucapnya.

Muhammad Ilham (tiga dari kiri) mendaftar bakal calon legislatif. FOTO: GIARTI IBNU LESTARI-KALTIMKECE.ID

Tekad Ilham menjadi anggota legislatif juga berkat dorongan dua pengurus Partai NasDem. Kedua orang itu disebut memberikan bantuan, semangat, pencerahan, dan motivasi kepada Ilham. Dalam misi menjadi anggota DPRD ini, Ilham dituntut menyerahkan 500 lembar fotokopi KTP sebagai bentuk dukungan kepadanya. Sejauh ini, ia sudah mengumpulkan 100 lembar KTP.

“Saya sampaikan kepada pemilik KTP, saya minta sedekah dukungan karena saya tidak bisa beli dukungan. Saya percaya dengan kebesaran Allah, apa yang tidak mungkin bagi manusia akan mungkin bagi Allah,” tuturnya.

Keseharian Ilham

Muhammad Ilham lahir di Balikpapan, 8 Desember 1967. Ia pernah bersekolah di SD 013 Balikpapan Utara, SMP 6 Balikpapan, dan SMEA 1 Balikpapan. Kepada kaltimkece.id, Ilham mengaku, sempat terpikir mendaftar bakal calon legislatif di Balikpapan. Niat itu diurungkan karena ia sadar lama mencari nafkah di Samarinda.

“Mudah-mudahan saya bisa lulus fit and proper test. Semoga, tidak ada perdebatan untuk perbedaan fisik. Kalau tidak lulus, hilang, lah, harapan saya dan teman-teman (disabilitas) untuk ada perwakilan kami di parlemen. Modal saya niat, tekad, dan nekat,” katanya.

Lulus SMEA, Ilham bekerja dalam tim pemasaran berbagai produk, mulai dari produk rumah tangga hingga kesehatan, selama 10 tahun. Pada 2013, ia merantau ke Samarinda. Selama dua tahun, 2014-2015, Ilham menjadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Untung Tuah, Sungai Pinang, Samarinda.

Pada 9 Oktober 2015, Ilham menikahi kekasihnya, Siti Maimunah, yang juga seorang disabilitas. Pernikahan mereka berlangsung di kampung halaman Siti di Kediri, Jawa Timur. Ilham menceritakan, mengenal Siti di Facebook. Mereka kemudian aktif terlibat berbagai kegiatan disabilitas. Sebelumnya, pada 2008-2013, Ilham menjabat sebagai Ketua DPC Persatuan Penyandang Cacat Tubuh Indonesia Balikpapan.

Ilham dan sang istri sempat menetap di Kediri selama 2 tahun. Mereka menyewa rumah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ilham berjualan es sementara istrinya bekerja sebagai penjahit pakaian. Pada 2017, Ilham kembali ke Balikpapan dengan memboyong sang istri. Di kota ini, Siti melanjutkan usaha menjahit pakaian sedangkan Ilham berjualan koran.

Kisah cinta Ilham dan Siti hanya bertahan empat tahun. Pada 5 Desember 2019, Siti berpulang ke rahmatullah setelah tak kuasa melawan kanker usus. Ia dimakamkan di Balikpapan. Selama menjadi pasangan suami-istri, Ilham dan Siti tak dikaruniai anak.

Muhammad Ilham saat melayani wawancara kaltimkece.id di kediamannya. FOTO: GIARTI IBNU LESTARI-KALTIMKECE.ID

Tiga bulan setelah kepergian sang istri, Ilham kembali ke Samarinda. Kali ini ia berjualan es krim secara daring. Ada tiga rasa es krim yang ditawarkan yakni cokelat, vanila, dan stroberi. Harga es krimnya Rp 2.000 dan Rp 3.000 per cup. Ia pernah menerima orderan sebanyak 400 cup dalam sehari. Biasanya, pembeli meminta Ilham membagikan es krim ke para jemaah masjid yang telah melaksanakan salat Jumat.

“Ada juga yang minta diantarkan ke panti asuhan, acara pernikahan, atau berbagai acara lainnya,” beber Ilham. Ia mengaku, mendapatkan resep membuat es krim dari seorang penjual es krim di Kediri. Modal awal untuk membeli bahan bakunya Rp 300 ribu. “Peralatan membuat es krim, saya dibantu para dermawan,” imbuhnya.

Di ibu kota provinsi, Ilham tinggal berpindah-pindah, dari Jalan Merdeka sampai Jalan M Said. Pada 2021, ia menyewa sebuah kamar bangsalan di Gang Poksay. Harga sewa kamar berukuran 3x6 meter persegi itu Rp 600 ribu per bulan, belum termasuk pembayaran listrik. Adapun pembayaran air milik Ilham dibebaskan oleh pemilik bangsalan. Pada tahun itu juga, ia mendirikan Komunitas Difabel Bangkit Bergerak.

Dalam empat bulan terakhir, Ilham tak lagi berjualan es krim. Untuk kebutuhan sehari-hari dan bayar sewa rumah, anak kedua dari empat bersaudara itu mendapat bantuan dari para dermawan. (*)

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar