Samarinda

Paceklik Mengatasi Masalah Plastik di Samarinda, Mesin Pendaur Ulangnya Pun Tak Ada

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 442 Kali
Paceklik Mengatasi Masalah Plastik di Samarinda, Mesin Pendaur Ulangnya Pun Tak Ada

Suasana TPST Loa Bakung di Samarinda. Setiap bulan, TPST ini bisa bisa mengumpulkan 4 ton sampah plastik. FOTO: HAFIDZ PRASETIYO-KALTIMKECE.ID

Setelah sekian purnama terlewati, sampah plastik tetap tak bisa didaur ulang di Samarinda. Plastik bekas hanya dijual ke Pulau Jawa.

Ditulis Oleh: Hafidz Prasetiyo
Rabu, 26 Oktober 2022

kaltimkece.id Sejumlah gerobak hilir-mudik di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Loa Bakung di Samarinda. Salah satu gerobak dikendalikan oleh Suriansyah, pekerja Dinas Lingkungan Hidup Samarinda. Dengan telaten, ia memilah-milih sampah plastik dari tumpukan sampah di gerobak tersebut.

Selain mengambil sampah plastik, Suriansyah juga menjumput sampah organik. Sampah organik bakal diolahnya menjadi pupuk kompos. Sementara sampah plastik langsung dijual ke pengepul. Si pengepul dikabarkan menjual lagi sampah tersebut ke Pulau Jawa.

Kepada kaltimkece.id, Selasa siang, 25 Oktober 2022, Suriansyah mengatakan, hanya itu cara mengelola sampah plastik. Sebenarnya, ada cara lain yang lebih efektif ketimbang menjual sampah plastik. Yaitu mendaur ulang plastik menjadi barang bernilai ekonomi. Akan tetapi, kata Suriansyah, alatnya belum ada di Samarinda. Alhasil, dalam sebulan, berat sampah plastik yang dijual bisa mencapai 4 ton.

“Di sini (TPST Loa Bakung), kami ada enam pekerja. Rata-rata, setiap orang bisa mengumpulkan 700 kilogram per bulan,” beber Suriansyah.

Sebelum dijual, sampah plastik mesti dipisahkan berdasarkan jenis dan bentuk. Harga jual plastik bekas dibedakan dari ukuran. Gelas plastik air mineral, sebut Suriansyah, harga jualnya Rp 2.800 per kilogram. Adapun harga botol plastik minuman kemasan yakni Rp 2.500 per kg. Sedangkan ember, piring dan kaleng cat plastik, harganya 2.300 per kg. Yang paling mahal adalah galon air yakni Rp 3.600 per kg. “Kami kumpulkan dulu, baru dijual,” ucapnya.

Bekerja di DLH Samarinda, sudah dilakoni Suriansyah selama 10 tahun terakhir. Pada awal kerja, ia langsung ditempatkan di TPST Loa Bakung yang baru diresmikan. Sejak saat itu, ia tak pernah mencacah sampah plastik menggunakan mesin. Padahal, plastik merupakan sampah yang paling banyak dibuang.  “Beda dengan sampah organik yang memiliki mesin pengolahnya,” tuturnya.

Kepala DLH Samarinda, Nurrahmani, mengakui, pengelolaan sampah plastik minim teknologi sehingga satu-satunya cara mengolah plastik adalah menjual kepada pengepul. Selain memanfaatkan orang seperti Suriansyah, DLH juga memanfaatkan bank sampah untuk mengumpulkan sampah plastik. Melalui bank sampah, sampah plastik bisa dijual.

“Bedanya, di TPST ada proses pemilahan sampah. Sejauh ini, hanya ada tiga (TPST) di Samarinda yaitu di Loa Bakung, Bengkuring, dan Harapan Baru,” sebut Nurrahmani.

Pemkot Samarinda disebut sudah menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak ketiga untuk mengubah sampah plastik menjadi barang bermanfaat seperti gas metan atau bahan dasar membuat batako. Hal ini dilakukan untuk menekan jumlah sampah plastik di Kota Tepian. Apalagi, sampah jenis ini disadari sulit terurai secara alami. Maka perlu cara khusus untuk menghancurkan plastik.

“Tapi, sejauh ini, belum ada keputusan mengenai kerja sama. Masih dirintis kerja sama tersebut,” kata Nurrahmani.

Infografik sampah plastik di Samarinda dilaporkan sulit ditanggulangi.
DESAIN GRAFIS: MUHAMMAD IMTIAN NAUVAL-KALTIMKECE.ID

 

Diwawancarai secara terpisah, akademikus Universitas Mulawarman, Juli Nurdiana, menilai, pengelolaan sampah di Samarinda masih jauh dari kata ideal. Pasalnya, tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah belum memakai sistem sanitary landfill. TPA Bukit Pinang dan Sambutan masih memakai sistem open dumping atau membiarkan sampah ditumpuk begitu saja di lahan yang luas.

“Memang, sistem seperti itu biaya (pengolahan sampah)-nya murah dan tidak memerlukan banyak tenaga tapi justru itu yang membuat TPA sering overload,” kata Juli. Persoalan lainnya, sambung dosen Teknik Lingkungan ini, sampah di lingkungan warga jadi lambat terangkut. Hal ini kerap membuat sampah tercecer di lingkungan warga. Belum lagi pola pengangkutan sampah yang belum menjangkau seluruh kawasan di Samarinda.

“Aspek pengangkutan itu juga berpengaruh. (Tanpa pengangkutan sampah yang baik) warga memilih membuang sampah di lokasi lain atau sembarang tempat,” tambahnya.

Belum maksimalnya pengelolaan sampah di Samarinda juga disebabkan minimnya fasilitas pembuangan sampah. Dampak dari minimnya fasilitas pembuangan sampah, kata Juli, membuat sampah plastik sering menumpuk di drainase dan anak sungai.

“Karena tidak ada akses terdekat untuk membuang sampah, warga akhirnya membuang sampah di sungai, parit, dan selokan,” ucapnya. Di sisi lain, ia menilai, pemilahan sampah di TPST dan bank sampah merupakan upaya bagus. Dari aktivitas ini bisa menekan jumlah sampah plastik. Juli berharap, Pemkot Samarinda memasifkan program pemilahan sampah plastik. “Perlu didukung dari sisi kebijakan atau pihak lain,” tandasnya. (*)

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar