Samarinda

Sejumlah Temuan Wali Kota Andi Harun setelah Datangi Sejumlah Titik Banjir dan Longsor di Samarinda

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 293 Kali
Sejumlah Temuan Wali Kota Andi Harun setelah Datangi Sejumlah Titik Banjir dan Longsor di Samarinda

Tanah longsor di Loa Bakung, Samarinda, Ahad, 29 Agustus 2021 (foto: giartiibnulestari/kaltimkece.id)

Dari lokasi banjir dan longsor, Wali Kota mendapati sejumlah temuan. Modal penting untuk menentukan kebijakan.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
30 Agustus 2021

kaltimkece.id Hujan masih mengguyur di bawah langit Samarinda yang gelap ketika Wali Kota Andi Harun tiba di Perumahan Bukit Pinang di Jalan Surnayata. Sembari menemui warga yang sedang kesusahan, Wali Kota mempelajari titik banjir di lokasi tersebut.

Ahad, 29 Agustus 2021, Andi Harun segera mengetahui aktivitas pengupasan lahan dari aktivitas kebun. Lokasinya di seberang wilayah pergudangan di Bukit Pinang. Wali Kota segera memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Samarinda bersama camat dan lurah meninjau kejadian tersebut.

“Sebenarnya, banjir di RT 12 (Perumahan Bukit Pinang) itu tidak lama. Sekitar setengah jam tapi tingginya sepinggang orang dewasa," tutur Andi Harun kepada kaltimkece.id, sehari setelah meninjau banjir. Ia menduga kuat, selain lokasi banjir adalah pertemuan titik air, polder di Bukit Pinang belum berfungsi maksimal.

Andi Harun segera mendatangi kawasan pergudangan Bukit Pinang yang disebut sebagai salah satu sumber penyebab banjir. Ditemukan bahwa ada lahan yang diajukan pemilik pergudangan sebagai kolam retensi tetapi malah dipakai membangun gudang. Andi Harun menegaskan, bangunan tersebut akan dibongkar.

“Ini (daerah pergudangan Bukit Pinang) sebagian sudah kami segel. Kegiatan di sana tidak bisa dilanjutkan sampai kolam disesuaikan dengan yang mereka ajukan dalam administrasi teknis,” terangnya.

Pemkot menegaskan bahwa aktivitas pergudangan dihentikan sampai kolam itu selesai dibangun. Andi Harun juga menuntut tanggung jawab ruang terbuka hijau dari kawasan tersebut. Menurutnya, perusahaan pemilik pergudangan ini nakal. Saat mengajukan permohonan izin pada tahap kedua, perusahaan melampirkan administrasi tahap pertama.

“Sehingga planning pembangunan di tahap kedua tidak ada. Mereka nakal, ya, kami segel," jelas Andi Harun.

Temuan di Loa Bakung

Andi Harun melanjutkan perjalanan ke Jalan Padat Karya, Loa Bakung, Sungai Kunjang. Masuk melalui depan SMP 16 Samarinda di Blok AA, Jalan Jakarta, Wali Kota disambut banjir setinggi paha orang dewasa. Rombongan Wali Kota masuk perumahan melawan derasnya air yang turun dari bukit.

Perumahan di situ tepat di kaki bukit. Secara teknis, Andi Harun menjelaskan, di atas bukit hanya ada kebun singkong. Saat hujan deras, tanaman tak mampu menahan laju air sehingga tanah tergerus dan longsor.

Rita, 33 tahun, warga Jalan Padat Karya, Gang Melati, RT 48, Loa Bakung, Sungai Kunjang, menceritakan terjadinya longsor ketika ia sedang salat magrib. Waktu itu, air mengalir sangat deras dari tebing melalui halaman rumahnya.

 Suara gemuruh begitu. Di atas 'kan ada tumpukan kayu. Jadi ketika longsor suaranya keras. Kejadiannya cepat,” terangnya. 

Rita baru satu tahun tinggal di daerah tersebut. Ia mengatakan, jika hujan deras, biasanya hanya banjir tetapi tidak longsor. Baru kali ini, tiga rumah di lereng bukit terkena longsor. Semuanya bangunan permanen. Sepuluh sepeda motor warga juga sempat tertimbun longsor namun telah dievakuasi.

"Pemkot membantu pembersihan area-area yang terendam banjir atau longsor. Lumpurnya sampai ke jalan. Ada satu dua rumah di kaki bukit yang berbahaya (terkena longsor). Nanti kami coba koordinasikan," kata Andi Harun di lokasi kejadian.

Pemkot Serius Tangani Banjir

Wali Kota juga berharap, inspektur tambang dapat proaktif memantau tambang-tambang di sekitar kawasan tersebut. Masalahnya sekarang, kata Wali Kota, pemkot maupun pemprov tak punya kewenangan d bidang tambang lagi.

“Banjir ini tak bisa kami selesaikan sendiri. Semuanya harus bersinergi. Tapi sabar saja. Memang kami menekankan bahwa banjir tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Kami sedang serius membangun dan mengagendakan untuk mengurangi dampak banjir. Kami juga serius bekerja dan ingin bermanfaat bagi masyarakat. Kalau uang (biaya penanganan banjir), perlu triliunan. Makanya perlu adanya kolaborasi," bebernya.

Andi Harun menambahkan, belum ada evaluasi dan perhitungan mengenai titik banjir. Memang ada titik yang berkurang. Akan tetapi, Andi Harun mengakui, ada titik baru yang muncul.

“Kami pelajari semua,” tutupnya. (*)

Editor: Fel GM

folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar