Samarinda

SPBB di Kampung Ketupat Ditutup, Nelayan Samarinda Menjerit

person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 676 Kali
SPBB di Kampung Ketupat Ditutup, Nelayan Samarinda Menjerit

Sejumlah nelayan mengecam penutupan SPBB di Kampung Ketupat, Samarinda Seberang. FOTO: GIARTI-KALTIMKECE.ID

Sejumlah nelayan mengecam penutupan SPBB ini. Hanya dari stasiun itu mereka mendapatkan solar bersubsidi.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
Kamis, 18 Agustus 2022

kaltimkece.id Sudah dua pekan ini, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Bunker alias SPBB di pinggir Sungai Mahakam, Kampung Ketupat, Samarinda Seberang, dilaporkan ditutup. Padahal, banyak nelayan Samarinda mengandalkan stasiun tersebut untuk mendapatkan solar bersubsidi agar kapalnya bisa terus beroperasi. Mereka pun mengecam penutupan SPBB tersebut.

Kamis, 18 Agustus 2022, sekitar 40 nelayan mendatangi SPBB tersebut. Ditemui kaltimkece.id di lokasi tersebut, Ketua Aliansi Nalayan Tangkap Samudera Nusantara Kaltim, Muhammad Ali, meminta, Pemkot Samarinda dan Pemprov Kaltim membantu nelayan untuk mendesak SPBB itu kembali dibuka.

“SPBB ini satu-satunya pelayanan untuk nelayan. Kami berharap, jangan hentikan solar subsidi karena ini jadi urusan masyarakat kecil dan persoalan perut,” ujar Ali.

Imbas penutupan SPBB tersebut, Ali mengungkapkan, banyak nelayan kesulitan melaut. Sebagian nelayan bahkan terpaksa membeli dexlite yang harganya mencapai Rp 15.350 per liter agar kapalnya bisa terus bekerja. Ini karena bahan bakar diesel tersebut tidak disubsidi. Sementara solar bersubsidi, harganyaRp 5.150 per liter. “Jauh sekali selisih harganya,” keluh Ali.

Saharuddin adalah nelayan yang terdampak dari penutupan SPBB di Kampung Ketupat. Kepada media ini, lelaki berusia 60 tahun itu mengaku, sudah dua pekan tak melaut akibat SPBB tersebut ditutup. Hanya dari stasiun itulah, ia mendapatkan solar untuk menghidupkan kapalnya.

Dalam sepekan, Saharuddin menyebut, membeli solar bersubsidi 75 liter di SPBB tersebut. Itu saja kandang-kadang tak cukup karena ia biasa mencari ikan hingga Sungai Meriam di Kecamatan Anggana, Kukar. Ia memperkirakan, butuh 150 liter solar bersubsidi untuk melancarkan usahanya dalam sepekan.

“Kami sedih karena solar sekarang susah didapat. Mudah-mudahan, pemerintah melindungi kami,” ucap Saharuddin.

SPBB bernomor 67.75201 itu milik PT Triwira Jaya Kal. Salah seorang penjaga SPBB tersebut, Oktavianus, mengatakan, SPBB sudah ditutup sejak 10-15 hari lalu. Akan tetapi, ia mengaku tidak tahu alasan ditutupnya SPBB tersebut. Hanya bosnya di Jakarta yang disebut mengetahui alasan penutupan.

Dikonfirmasi secara terpisah, Unit Manager Communication dan CSR Pertamina Marketing Operation Regional (MOR) V, Susanto August Satria, meminta para nelayan tidak perlu cemas karena SPBB di Kampung Ketupat berhenti beroperasi. Nelayan Samarinda disebut bisa mendapatkan solar bersubsdi di SPBU khusus nelayan. Syaratnya, nelayan diharuskan membawa surat rekomendasi dari Dinas Perikanan Samarinda.

Infografik sejumlah nelayan protes SPBB di Kampung Ketupat ditutup
DESAIN GRAFIS: MUHAMMAD IMTIAN NAUVAL-KALTIMKECE.ID
 
“Jika surat rekomendasi itu ada, pasti dilayani SPBU nelayan,” kata Susanto. Surat tersebut, sambungnya, sangat penting untuk menghindari kecurangan. “Kalau enggak punya surat, tapi dilayani, itu salah dan bisa menjadi indikasi penyalahgunaan BBM subsidi,” jelasnya. (*)

 

shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar