Terkini

Angin Kemarau, Penyebab BBM Sempat Langka di Samarinda

person access_time 10 months ago remove_red_eyeDikunjungi 989 Kali
Angin Kemarau, Penyebab BBM Sempat Langka di Samarinda

Terminal BBM Samarinda di Jalan Cendana (dokumentasi kaltimkece.id).

Pasokan bahan bakar minyak di Samarinda sempat tersendat. Dampak gelombang tinggi di perairan timur Kalimantan. 

Ditulis Oleh: Fachrizal Muliawan
17 Agustus 2018

kaltimkece.id Sepanjang Senin, 13 Agustus 2018, sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum di Samarinda menderita paceklik bahan bakar. Sebagian SPBU tutup, sebagian yang lain dipenuhi pembeli. 

Pada Senin siang, misalnya, sejumlah pom bensin di Samarinda kehabisan stok premium, pertalite, dan solar. Dari penelusuran kaltimkece.id, antrean hingga petang terlihat di SPBU di Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda Ulu, Samarinda Kota, dan Samarinda Utara. Di SPBU Jalan Slamet Riyadi, pengendara sepeda motor yang mengisi pertalite maupun pertamax sudah panjang. Begitu pula di jalur solar yang dipenuhi truk.

Namun, di SPBU ini, dipastikan bukan karena kelangkaan BBM. Manajer SPBU Jalan Slamet Riyadi Samarinda, Sigit Muharom, mengatakan itu adalah pemandangan biasa setiap sore. "Tidak ada kelangkaan, semua BBM masih ada. Bisa dicek sendiri, tak ada pelang tanda stok habis,” terangnya kepada kaltimkece.id.

Berbeda dengan SPBU di Jalan KH Wahid Hasyim II, Kadrie Oening, dan Abdul Wahab Syahranie. Pom bensin tak beroperasi. Pada Senin petang, SPBU di kawasan tersebut sudah memasang pengumuman bahwa BBM sedang dalam pengiriman. 

Kepada kaltimkece.id, manager Communication and CSR Pertamina Region Kalimantan, Yudi Nugraha, menyampaikan penjelasannya. Pasokan BBM wilayah Samarinda, terang Yudi, sebenarnya dikirim dari Balikpapan. Namun, pengiriman tersebut menggunakan kapal sehingga melewati jalur laut. Yang terjadi adalah, kapal penyuplai BBM terlambat datang ke Balikpapan. Ketelatan itu disebabkan ombak yang sedang tinggi-tingginya di perairan Balikpapan. 

Baca juga: Kalimantan yang Sudah Diguncang 42 Kali Gempa

Kondisi itu membuat pasokan BBM untuk wilayah Samarinda terhambat sejak Kamis hingga Minggu, 9-12 Agustus 2018. Meski demikian, mulai Senin dini hari, 13 Agustus 2018, suplai BBM Samarinda kembali normal menyusul merapatnya kapal. Distribusi BBM di Kota Tepian dipastikan telah pulih. 

“Setelah kapal tiba, kami memaksimalkan penyaluran premium dan pertalite ke SPBU,” terang Yudi. 

Angin Kemarau

Kawasan perairan Balikpapan, Kota Baru, dan Selat Makassar, diterjang gelombang tinggi pada 9 Agustus dan 10 Agustus 2018. Kapal pengangkut barang harus menunggu kondisi laut membaik sebelum memasuki perairan Kaltim. Langkah itu sesuai dengan edaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, agar kapal-kapal barang lebih waspada. 

Kepala BMKG Stasiun Temindung, Samarinda, Sutrisno, menjelaskan bahwa serangan gelombang besar di perairan Indonesia berlangsung saban tahun. Tahun ini, gelombang tinggi dimulai sejak pertengahan Juli. Gelombang setinggi 1,5 meter di utara Pulau Jawa diakibatkan perubahan iklim Indonesia yang memasuki musim kemarau. Massa udara dingin dan kering yang berembus dari wilayah Australia adalah pertanda musim kering tersebut. 

Pada musim kemarau, kecepatan angin di wilayah Indonesia bagian selatan bertambah. Tekanan udara juga makin tinggi dan bertahan di Samudera Hindia atau barat Australia, disebut Mascarene High. Tekanan itu memicu gelombang tinggi di perairan selatan Indonesia. 

Kondisi yang lain adalah kecepatan angin timur mencapai 46 kilometer per jam. Hal itu disebabkan peningkatan suhu di perairan serta angin tenggara yang berembus di Samudera Hindia. Keduanya bersama-sama memicu peningkatan gelombang laut. “Bukan hanya di Kaltim, gelombang tinggi melanda pesisir barat Sumatra, selatan Jawa, hingga pesisir selatan Nusa Tenggara,” terang Sutrisno kepada kaltimkece.id. Gelombang tinggi diperkirakan baru mereda pada akhir Agustus nanti. 

Baca juga: Ketika Banjir Terbesar Menerjang Samarinda-3: La Nina, Benanga, dan Manusia

Sepanjang Agustus 2018, BMKG menyebut potensi gelombang tinggi mencapai 1,5 meter di perairan Kota Baru dan 1,25 meter di Selat Makassar bagian tengah. Kondisi angin di wilayah ini diperkirakan dari tenggara ke barat dengan kecepatan 5 knot sampai 20 knot. BMKG sudah bekerja sama dengan instansi terkait untuk mengeluarkan peringatan kepada masyarakat. Para nelayan diminta tidak beraktivitas di perairan Selat Makassar. Apabila terpaksa melaut, BMKG mengimbau nelayan meningkatkan kewaspadaan. Demikian halnya kapal besar pengangkut barang, peringatan serupa diberikan. 

Berkaca dari catatan dan perkiraan BMKG, kecepatan angin dan ketinggian gelombang di perairan Kaltim masuk kategori 4 Skala Beaufort. Tanda-tanda dari kategori ini adalah kehadiran ombak-ombak kecil yang mulai memanjang. Kapal yang berlayar dalam kondisi tersebut wajib lebih waspada. Adapun kategori tertinggi Skala Beaufort adalah 6. Kondisi laut di kategori ini sudah diterjang gelombang dengan tinggi di atas 4 meter (Praktek Meteorologi Kelautan, 2008, hlm 168). Kondisi sedemikian disebut sebagai cuaca buruk dan sangat berbahaya bagi pelayaran. (*)

Dilengkapi oleh: Arditya Abdul Azis 
Editor: Fel GM
Senarai Kepustakaan
  • Wirjohamidjojo, Soerjadi, dan Sugarin, 2008. Praktek Meteorologi Kelautan, Jakarta: Badan Meteorologi dan Geofisika.
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar