Terkini

Bagaimana Ganggang Air Jadi Petunjuk Penting Menyimpulkan Yusuf Meninggal karena Tenggelam

person access_time 6 months ago remove_red_eyeDikunjungi 4681 Kali
Bagaimana Ganggang Air Jadi Petunjuk Penting Menyimpulkan Yusuf Meninggal karena Tenggelam

Komisaris Besar Polisi DR dr Sumy Hastry Purwanti DFM SpF memaparkan hasil autopsi (foto: giarti ibnu lestari/kaltimkece.id)

Alga atau ganggang air ditemukan di sumsum tulang panjang Yusuf. Memastikan bahwa penyebab kematiannya karena tenggelam.

Ditulis Oleh: Giarti Ibnu Lestari
27 Februari 2020

kaltimkece.id Tim forensik Markas Besar Kepolisian RI telah menyelesaikan autopsi Ahmad Yusuf Ghozali. Dari pemeriksaan di laboratorium forensik, disimpulkan dengan pasti bahwa penyebab kematian anak berusia empat tahun itu karena tenggelam. 

Kepolisian Resor Kota Samarinda mengumumkan hasil autopsi dalam konferensi pers pada Kamis, 27 Februari 2020, pukul 14.00 Wita. Kapolresta Samarinda, Komisaris Besar Polisi Arif Budiman, mendampingi doktor forensik Mabes Polri, Komisaris Besar Polisi DR dr Sumy Hastry Purwanti DFM SpF. Kedua orangtua mendiang Yusuf, Bambang Sulistyo dan Melisari, turut hadir.

Sumy Hastry Purwanti mengatakan, dari pembongkaran makam Yusuf pada 18 Februari 2020, kerangka jenazah diperiksa. Ditemukan tujuh ruas tulang belakang bagian leher (lengkap), sembilan ruas tulang belakang bagian dada (tidak lengkap), dan lima ruas tulang belakang bagian pinggang. Tulang dada juga utuh tanpa kerusakan atau cedera. 

Kerangka yang lain terdiri dari iga kanan dan kiri. Ada pula tulang belikat, panggul selangkangan, kedua tulang lengan atas, kedua tulang paha, dan kedua tulang tungkai. Untuk tulang kering, diketahui sebelah kanan lebih kecil dari sebelah kiri. 

"Yang paling penting dari autopsi ini adalah pemeriksaan kamar asam. Kami memeriksa sampel sumsum tulang paha di laboratorium. Hasilnya, ditemukan diatom atau ganggang air," terang Kombes Sumy. "Itulah petunjuk yang memastikan ananda Ahmad Yusuf Ghozali meninggal karena tenggelam."

Petunjuk Penting Diatom

Diatom amat kecil sehingga disebut makhluk mikroskopis. Di seluruh dunia, kelompok diatom diperkirakan sebanyak 100 ribu spesies. Kelompok yang paling besar adalah alga plankton atau ganggang air. Makhluk yang tak dapat dilihat dengan mata telanjang ini ditemukan di mana-mana, sepanjang tempat tersebut basah. Diatom tersebar di lautan, danau, sungai, bahkan tanah lembab hingga genangan air (Identifying Marine Diatoms and Dinoflagellates, 2013, hlm 5). 

Orang yang meninggal karena tenggelam biasanya melewati suatu keadaan yang disebut sufokasi. Keadaan ini terjadi ketika seseorang kehilangan kemampuan atau kesulitan bernapas. Tubuh akhirnya kekurangan oksigen dalam jumlah besar. Dalam situasi inilah, paru-paru dipaksa menghirup apa saja yang ada di sekitar orang tersebut. Dalam kasus orang tenggelam, yang dihirup adalah air (Pemeriksaan Diatom pada Korban Diduga Tenggelam, 2012, hlm 41). 

Di dalam air, seperti telah dijelaskan, kebanyakan menjadi habitat diatom. Ketika seseorang terpaksa bernapas di dalam air, diatom ini akan ikut terhirup. Jejak awal diatom adalah masuk melewati saluran pernapasan menuju paru-paru. Sistem tubuh manusia akan mengangkut diatom, sebagaimana oksigen, ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah (hlm 41).

Untuk waktu yang lama, diatom yang terhirup ini akan tertinggal di tubuh. Hal ini dikarenakan diatom mempunyai semacam gelatin yang memberikannya daya lekat. Ketika diatom telah masuk ke pembuluh darah, ia diangkut ke organ-organ vital seperti jantung, hati, ginjal, otak, termasuk sumsum tulang panjang (tulang di bagian paha), lantas melekat di sana. 

Sumsum tulang panjang ini masih bisa diperiksa dari kerangka Yusuf. Untuk mengetahui keberadaan diatom di sumsum, biasanya digunakan uji yang melibatkan asam nitrat dan asam sulfat jenuh (hlm 43). 

Andaikata diatom ditemukan di sumsum, seperti hasil pemeriksaan tulang Yusuf, dapat disimpulkan penyebab kematiannya adalah tenggelam. Dari sini pula diketahui bahwa sebelum meninggal, Yusuf kesulitan bernapas. Ia akhirnya menghirup air yang mengandung diatom tadi. Satu-satunya keadaan yang bisa menjelaskan situasi seperti itu --kesulitan bernapas dan terpaksa menghirup air-- adalah tenggelam belaka.

Tak Ada Penyiksaan

Kesimpulan penting yang lain adalah Yusuf tidak menerima kekerasan sebelum meninggal. Kombes Sumy Hastry Purwanti menjelaskan, dari pemeriksaan kerangka tidak ditemukan tanda kekerasan. Memang ada beberapa sambungan antar-tulang yang sudah terlepas. Namun demikian, tidak ditemukan resapan darah atau patahan di persambungan tulang tersebut. Dari situlah disimpulkan, tulang terlepas secara alami karena proses pembusukan, bukan karena kekerasan. 

Kepala Yusuf yang hilang juga memiliki penjelasan. Dalam pemeriksaan kerangka, kondisi ruas tulang leher pertama hingga ketujuh dalam keadaan baik. Tidak ada tanda bekas kekerasan. Tim forensik menyimpulkan, kepala Yusuf terlepas karena pembusukan. Selain itu, Yusuf masih balita. Tulang kepalanya belum terlalu kuat dan mudah hancur. 

Kesimpulan bahwa kepala Yusuf terlepas diperkuat karena pembusukan jenazah di dalam air lebih cepat daripada di udara terbuka. Dalam kondisi normal, jelas Kombes Sumy, pembusukan terjadi pada hari ketujuh. Sementara pembusukan jenazah di dalam air, jauh lebih cepat dari tujuh hari. Adapun Yusuf, diperkirakan telah di dalam air selama 16 hari.

Berdasarkan hasil autopsi tersebut, Kapolresta Samarinda, Kombes Polisi Arif Budiman, mengatakan bahwa telah diketahui penyebab meninggalnya Yusuf dengan pasti. "Yakni karena tenggelam," tegasnya. 

Setelah mendengarkan pemaparan ini, kedua orangtua Yusuf mengaku ikhlas dan menerima. Tidak ada lagi yang mengganjal di hati mereka. 

"Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu. Terutama kepolisian yang telah memastikan penyebab kematian anak kami," jelas Bambang. (*)

Editor: Fel GM

Senarai Kepustakaan
  • Carmelo R. Tomas, 2013. Identifying Marine Diatoms and Dinoflagellates. Academic Press. 
  • Wilinato, Walih, 2012. Pemeriksaan Diatom pada Korban Diduga Tenggelam, Dimuat dalam Jurnal Kedokteran Forensik Indonesia Vol 14 No 3. 
folder_openLabel
shareBagikan Artikel Ini


Artikel Terkait


Tinggalkan Komentar